NARKOBA

Pengertian Narkoba
a.Menurut Kurniawan (2008) adalah zat kimia yang dapat mengubah keadaan psikologi seperti perasaan, pikiran, suasana hati serta perilaku jika masuk ke dalam tubuh manusia baik dengan cara dimakan, diminum, dihirup, suntik, intravena, dan lain sebagainya.
b.Menurut pakar kesehatan adalah psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioparasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini presepsi itu disalah gunakan akibat pemakaian yang telah diluar batas dosis.
c.Narkotika dan Obat-obatan terlarang (NARKOBA) atau Narkotik, Psikotropika, dan Zat Aditif (NAPZA) adalah bahan / zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan / psikologi seseorang (pikiran, perasaan dan perilaku) serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologi.
d.Narkotika menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika, yaitu zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Jenis-Jenis Narkoba
1.Narkotika
Menurut Soerdjono Dirjosisworo mengatakan bahwa pengertian narkotika adalah “Zat yang bisa menimbulkan pengaruh tertentu bagi yang menggunakannya dengan memasukkan kedalam tubuh. Pengaruh tersebutbisa berupa pembiusan, hilangnya rasa sakit, rangsangan semangat dan halusinasi atau timbulnya khayalan-khayalan. Sifat-sifat tersebut yang diketahui dan ditemukan dalam dunia medis bertujuan dimanfaatkan bagi pengobatan dan kepentingan manusia di bidang pembedahan, menghilangkan rasa sakit dan lain-lain.
Narkotika digolongkan menjadi 3 kelompok yaitu :
•Narkotika golongan I adalah narkotika yang paling berbahaya. Daya adiktifnya sangat tinggi. Golongan ini digunakan untuk penelitian dan ilmu pengetahuan. Contoh : ganja, heroin, kokain, morfin, dan opium.
•Narkotika golongan II adalah narkotika yang memiliki daya adiktif kuat, tetapi bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contoh : petidin, benzetidin, dan betametadol.
•Narkotika golongan III adalah narkotika yang memiliki daya adiktif ringan, tetapi bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contoh : kodein dan turunannya.
2.Psikotropika
Psikotopika adalah zat atau obat bukan narkotika, baik alamiah maupun sintesis, yang memiliki khasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas normal dan perilaku. Psikotropika digolongkan lagi menjadi 4 kelompok adalah :
•Psikotropika golongan I adalah dengan daya adiktif yang sangat kuat, belum diketahui manfaatnya untuk pengobatan dan sedang diteliti khasiatnya. Contoh: MDMA, LSD, STP, dan ekstasi.
•Psikotropika golongan II adalah psikotropika dengan daya adiktif kuat serta berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh : amfetamin, metamfetamin, dan metakualon.
•Psikotropika golongan III adalah psikotropika dengan daya adiksi sedang serta berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh : lumibal, buprenorsina, dan fleenitrazepam.
•Psikotropika golongan IV adalah psikotropika yang memiliki daya adiktif ringan serta berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh : nitrazepam (BK, mogadon, dumolid ) dan diazepam.
3.Zat adiktif lainnya
Zat adiktif lainnya adalah zat – zat selain narkotika dan psikotropika yang dapat menimbulkan ketergantungan pada pemakainya, diantaranya adalah :
•Rokok
•Kelompok alkohol dan minuman lain yang memabukkan dan menimbulkan ketagihan.
•Thiner dan zat lainnya, seperti lem kayu, penghapus cair dan aseton, cat, bensin yang bila dihirup akan dapat memabukkan (Alifia, 2008).

Faktor Penyebab Penyalahgunaan Narkoba
Faktor penyebab penyalahgunaan narkoba dapat dibagi menjadi dua faktor, yaitu :
1.Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu seperti kepribadian, kecemasan, dan depresi serta kurangya religiusitas. Kebanyakan penyalahgunaan narkotika dimulai atau terdapat pada masa remaja, sebab remaja yang sedang mengalami perubahan biologik, psikologik maupun sosial yang pesat merupakan individu yang rentan untuk menyalahgunakan obat-obat terlarang ini. Anak atau remaja dengan ciri-ciri tertentu mempunyai risiko lebih besar untuk menjadi penyalahguna narkoba.
2.Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar individu atau lingkungan seperti keberadaan zat, kondisi keluarga, lemahnya hukum serta pengaruh lingkungan.
Faktor-faktor tersebut diatas memang tidak selau membuat seseorang kelak menjadi penyalahgunaan obat terlarang. Akan tetapi makin banyak faktor-faktor diatas, semakin besar kemungkinan seseorang menjadi penyalahgunaan narkoba. Hal ini harus dipelajari Kasus demi kasus. Faktor individu, faktor lingkungan keluarga dan teman sebaya/pergaulan tidak selalu sama besar perannya dalam menyebabkan seseorang menyalahgunakan narkoba. Karena faktor pergaulan, bisa saja seorang anak yang berasal dari keluarga yang harmonis dan cukup kominikatif menjadi penyalahgunaan narkoba.

Tanda Gejala Dini Korban Penyalahgunaan Narkoba
Menurut Ami Siamsidar Budiman (2006 : 57–59) tanda awal atau gejala dini dari seseorang yang menjadi korban kecanduan narkoba antara lain :
-Tanda-tanda fisik Penyalahgunaan Narkoba
Kesehatan fisik dan penampilan diri menurun dan suhu badan tidak beraturan, jalan sempoyongan, bicara pelo (cadel), apatis (acuh tak acuh), mengantuk, agresif, nafas sesak,denyut jantung dan nadi lambat, kulit teraba dingin, nafas lambat/berhenti, mata dan hidung berair,menguap terus menerus,diare,rasa sakit diseluruh tubuh,takut air sehingga malas mandi,kejang, kesadaran menurun, penampilan tidak sehat,tidak peduli terhadap kesehatan dan kebersihan, gigi tidak terawat dan kropos, terhadap bekas suntikan pada lengan atau bagian tubuh lain (pada pengguna dengan jarum suntik)
-Tanda-tanda Penyalahgunaan Narkoba ketika di rumah
Membangkang terhadap teguran orang tua, tidak mau mempedulikan peraturan keluarga, mulai melupakan tanggung jawab rutin di rumah, malas mengurus diri, sering tertidur dan mudah marah, sering berbohong, banyak menghindar pertemuan dengan anggota keluarga lainnya karena takut ketahuan bahwa ia adalah pecandu, bersikap kasar terhadap anggota keluarga lainnya dibandingkan dengan sebelumnya, pola tidur berubah, menghabiskan uang tabungannya dan selalu kehabisan uang, sering mencuri uang dan barang-barang berharga di rumah, sering merongrong keluarganya untuk minta uang dengan berbagai alasan, berubah teman dan jarang mau mengenalkan teman-temannya, sering pulang lewat jam malam dan menginap di rumah teman, sering pergi ke disko, mall atau pesta, bila ditanya sikapnya defensive atau penuh kebencian, sekali-sekali dijumpai dalam keadaan mabuk.
-Tanda-tanda Penyalahgunaan Narkoba ketika di sekolah
Prestasi belajar di sekolah tiba-tiba menurun mencolok, perhatian terhadap lingkungan tidak ada, sering kelihatan mengantuk di sekolah, sering keluar dari kelas pada waktu jam pelajaran dengan alasan ke kamar mandi, sering terlambat masuk kelas setelah jam istirahat; mudah tersinggung dan mudah marah di sekolah, sering berbohong, meninggalkan hobi-hobinya yang terdahulu (misalnya kegiatan ekstrakurikuler dan olahraga yang dahulu digemarinya), mengeluh karena menganggap keluarga di rumah tidak memberikan dirinya kebebasan, mulai sering berkumpul dengan anak-anak yang “tidak beres” di sekolah

Akibat Penyalahgunaan
Penggunaan narkoba dapat menyebabkan efek negatif yang akan menyebabkan gangguan mental dan perilaku, sehingga mengakibatkan terganggunya sistem neuro-transmitter pada susunan saraf pusat di otak. Gangguan pada sistem neuro-transmitter akan mengakibatkan tergangunya fungsi kognitif (alam pikiran), afektif (alam perasaan, mood, atau emosi), psikomotor (perilaku), dan aspek sosial. Berbagai upaya untuk mengatasi berkembangnya pecandu narkoba telah dilakukan, namun terbentur pada lemahnya hukum. Beberapa bukti lemahnya hukum terhadap narkoba adalah sangat ringan hukuman bagi pengedar dan pecandu, bahkan minuman beralkohol di atas 40 persen (minol 40 persen) banyak diberi kemudahan oleh pemerintah. Sebagai perbandingan, di Malaysia jika kedapatan pengedar atau pecandu membawa dadah 5 gr ke atas maka orang tersebut akan dihukum mati.

Dampak Narkoba
a. Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap fisik :
 Gangguan pada sistem syaraf (neurologis) seperti: kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi
 Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot jantung, gangguan peredaran darah
 Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan (abses), alergi, eksim
 Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-paru
 Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap kesehatan reproduksi adalah gangguan padaendokrin, seperti: penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron, testosteron), serta gangguan fungsi seksual
b. Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap psikis :
 Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah
 Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga
 Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal
 Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan
 Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri
c. Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap lingkungan social:
 Gangguan mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan
 Merepotkan dan menjadi beban keluarga
 Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram
 Dampak fisik, psikis dan sosial berhubungan erat. Ketergantungan fisik akan mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa (sakaw) bila terjadi putus obat (tidak mengkonsumsi obat pada waktunya) dan dorongan psikologis berupa keinginan sangat kuat untuk mengkonsumsi (bahasa gaulnya sugest).

Bahaya Narkoba
Bahaya penyalahgunaan narkoba bagi tubuh manusia. Secara umum semua jenis narkoba jika disalahgunakan akan memberikan empat dampak sebagai berikut:
1. Depresan
Pemakai akan tertidur atau tidak sadarkan diri.
2. Halusinogen
Pemakai akan berhalusinasi (melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada).
3. Stimulan
Mempercepat kerja organ tubuh seperti jantung dan otak sehingga pemakai merasa lebih bertenaga untuk sementara waktu. Karena organ tubuh terus dipaksa bekerja di luar batas normal, lama-lama saraf-sarafnya akan rusak dan bisa mengakibatkan kematian.
4. Adiktif
Pemakai akan merasa ketagihan sehingga akan melakukan berbagai cara agar terus bisa mengonsumsinya. Jika pemakai tidak bisa mendapatkannya, tubuhnya akan ada pada kondisi kritis (sakaw).

Advertisements

makalah HTN

MAKALAH

HUKUM TATA NEGARA II

KOMISI YUDISIAL

 logo unesa

Di susun oleh :

 

  1. IDA ALIFATIN                          (124254061)
  2. FENI QORIROH                        (124254077)
  3. NASRIA IKA NITASARI         (124254240)
  4. ANDI MAULANA P.                 (124254242)
  5. LIDIANA RAHMAYANTI      (124254254)

 

 

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

FAKULTAS ILMU SOSIAL

JURUSAN PMP-KN

PRODI S1-PPKn

  1. SUSUNAN, KEDUDUKAN DAN JUMLAH ANGGOTA

 

Dalam UU No. 22 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Yudisial telah dijelaskan tentang susunan, kedudukan, dan jumlah anggota yang ada didalam Komisi Yudisial. Berikut ini uraian yang ada dalam UU tersebut.

  • Susunan
  •                                          Pasal 4
  • ”Komisi Yudisial terdiri atas pimpinan dan anggota.”

Pasal 5

”Pimpinan Komisi Yudisial terdiri atas seorang Ketua dan seorang Wakil Ketua yang merangkap Anggota.”

Jadi dalam susunan Komisi Yudisial terdiri atas pimpinan dan anggota, pimpinannya adalah seorang ketua dan wakil ketua yang juga merangkap sebagai anggota.

 

  • Kedudukan
  •                                          Pasal 2
  • ”Komisi Yudisial merupakan lembaga Negara yang bersifat mandiri dan dalam pelaksanaan wewenangnya bebas dari campur tangan atau pengaruh kekuasaan lainnya.”

Pasal 3

Komisi Yudisial berkedudukan di ibukota negara Republik Indonesia.

 

  • Keanggotaan
  •                                          Pasal 6
  • (1) Komisi Yudisial mempunyai 7 (tujuh) orang anggota.
  • (2) Anggota Komisi Yudisial adalah pejabat negara.
  • (3) Keanggotaan Komisi Yudisial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas mantan hakim, praktisi hukum, akademisi hukum, dan anggota masyarakat.
  •                                          Pasal 7
  • (1) Pimpinan Komisi Yudisial dipilih dari dan oleh Anggota Komisi Yudisial.
  • (2) Ketentuan mengenai tata cara pemilihan pimpinan Komisi Yudisial diatur oleh Komisi Yudisial.
  • UUD 1945 Pasal 24B Ayat :
  • (2) Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang hokum serta memiliki intergritas dan kepribadian yang tidak tercela.
  • (3) Anggota Komisi Yudisial diangkat dandiberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.

 

 

2.      FUNGSI, TUGAS DAN WEWENANG KOMISI YUDISIAL

 

Adapun wewenang dan tugas KY sebagaimana diatur dalam Pasal 13 UU Nomor 22 tahun 2004, Sebagai berikut :

 

Wewenang Komisi Yudisial sebagai berikut :

 

1)      Mengusulkan pengangkatan hakim agung kepada DPR;

Hakim adalah aktor utama penegakkan hukum di pengadilan yang mempunyai peran lebih apabila dibandingkan dengan jaksa, pengacara, dan panitera. Mekanisme nya yaitu sesuai dengan pasal 24A ayat 3 perubahan ketiga UUD 1945 yaitu : “ calon hakim agung diusulkan komisi yudisial kepada dewan rakyat untuk mendapatkan persetujuan dan selanjutnya di tetapakan sebagai hakim agung oleh Presiden ”.

 

2)      Menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta perilaku hakim.

Melihat kondisi peradilan indonesia yang masih carut marut oleh budaya korupsi, sudah sewajarnya apabila komisi yudisial mempunyai kewenangan yang ekstensif. Proses pengawasan terhadap hakim bisa dilakukan dengan baik tanpa campur tangan kekuasan lain diluarnya.

 

Tugas sebagai berikut :

 

a. melakukan pendaftaran calon hakim agung.

b. melakukan seleksi calon hakim agung.

c. menetapkan calon hakim agung.

d. mengajukan calon hakim ke DPR.

 

Tata cara pelaksanaan tugas :

Dalam UU RI NO. 22 tahun 2004 Pasal 16 yaitu :

  1. Komisi Yudisial mengumumkan pendaftaran penerimaan calon hakim agung (pasal 15 ayat (1)) kepada masyarakat dan disini Mahkamah Agung, pemerintah, dan masyarakat berhak  untuk mengajukan calon hakim agung kepada Komisi Yudisial (pasal 15 ayat (2).
  2. Komisi Yudisial meminta kesediaan calon hakim agung untuk memenuhi persyaratan administrasi yang diatur dalam peraturan perundang-undangan (pasal 16 ayat (1). Persyaratan-persyaratan tersebut sebagaimana disebutkan dalam pasal 16 ayat (2) sekurang-kurangnya berupa.

i.            Daftar riwayat hidup, termasuk riwayat pekerjaan

ii.            Ijazah asli atau yang telah dilegalisir

iii.            Surat keterangan sehat jasmani dan rohani dari dokter rumah sakit pemerintah

iv.            Daftar harta kekayaan serta sumber penghasilan calon

v.            Nomor pokok wajib pajak

  1. Komisi Yudisial melakukan seleksi persyaratan administrasi calon hakim agung (pasal 17 ayat (1)).
  2. Komisi Yudisial mengumumkan daftar nama calon hakim agung yang telah memenuhi persyaratan administrasi (pasal 17 ayat (2)) dan disini masyarakat diberikan hak untuk memberikan informasi atau pendapat terhadap calon hakim agung (pasal 17 ayat (3))
  3. Komisi Yudisial melakukan penelitian atas informasi atau pendapat masyarakat (pasal 17 ayat (4)).
  4. Komisi Yudisial menyelenggarakan seleksi terhadap kualitas dan kepribadian calon hakim agung yang telah memenuhi persyaratan administrasi berdasarkan standar yang telah ditetapkan (pasal 18 ayat (1)), seleksi ini dilakukan secara terbuka (pasal 18 ayat (4)).
  5. Komisi Yudisial mewajibkan calon hakim agung menyusun karya ilmiah dengan topik yang telah ditentukan (pasal 18 ayat (2))
  6. Komisi yudisial menetapkan dan mengajukan 3 (tiga) orang nama calon hakim agung kepada DPR untuk setiap 1 (satu) lowongan hakim agung, dengan memberikan tembusan kepada Presiden (pasal 18 ayat (5)).

 

 

Salah satu tugas dan kewenangan yang penting adalah menegakkan kehormatan dan menjatuhkan sanksi. Pada Pasal 20 disebutkan, “Dalam melaksanakan wewenang sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 13 huruf b, Komisi Yudisial mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim dalam rangka menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim.”

Fungsi Komisi Yudisial sebanagi berikut :

Mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat serta perilaku hakim.

  1. MASA JABATAN

 

Diatur dalam UU RI NO.  22  TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL,

Pasal 29 menjelaskan bahwa anggota Komisi Yudisial memegang jabatan selama masa 5 (lima) tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan.

 

 

  1. HAK DAN KEWAJIBAN (LEMBAGA DAN ANGGOTA) KOMISI YUDISIAL

 

KEWAJIBAN KOMISI YUDISIAL :

Menurut UU RI NO.  22  TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL,

Kewajiban komisi yudisial (KY) sebagai lembaga yudikatif adalah :

  1. Mengusulkan pengangkatan hakim agung
  2. Melakukan pendaftaran calon hakim agung
  3. Melakukan seleksi terhadap calon hakim agung
  4. Menetapkan calon hakim agung
  5. Mengajukan calon hakim agung ke DPR
  6. Menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat serta perilaku hakim
  7. Menerima laporan pengaduan masyarakat tentang perilaku hakim
  8. Melakukan pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim
  9. Membuat laporan hasil pemeriksaan berupa rekomendasi yang disampaikan kepada mahkamah agung dan tindasannya disampaikan kepada presiden dan DPR.

 

HAK KOMISI YUDISIAL

 

Menurut UU RI NO. 22  Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial,

Bagian Ketiga Mengenai Hak Protokoler, Keuangan, dan Tindakan Kepolisian (Pasal 8)

Kedudukan protokoler dan hak keuangan Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Komisi Yudisial diberlakukan ketentuan peraturan perundang-undangan bagi pejabat negara.

 

 

  1. FRAKSI dan KELOMPOK ANGGOTA

Paruh Kedua

Anggota Komisi Yudisial Paruh kedua Periode 2010-2015 (Juli 2013 – Desember 2015)

Paruh Pertama

Anggota Komisi Yudisial Paruh Pertama Periode 2010-2015 (Januari 2010 – Juli 2013)

Periode 2005 – 2010

Anggota Komisi Yudisial Periode 2005-2010

  1. PERSIDANGAN dan PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Pengambilan keputusan

Pasal 25

( 1)Pengambilan keputusan Komisi Yudisial dilakukan secara musyawarah untuk

mencapai mufakat.

(2)Apabila pengambilan keputusan secara musyawarah tidak tercapai, pengambilan

keputusan dilakukan dengan suara terbanyak.

(3)Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah sah apabila rapat

dihadiri oleh sekurang-kurangnya 5 (lima) orang Anggota Komisi Yudisial,

kecuali keputusan mengenai pengusulan calon Hakim Agung ke DPR dan

pengusulan pemberhentian Hakim Agung dan/atau Hakim Mahkamah

Konstitusi dengan dihadiri seluruh anggota Komisi Yudisial.

(4)Dalam hal terjadi penundaan 3 (tiga) kali berturut-turut atas keputusan mengenai

pengusulan calon Hakim Agung ke DPR dan pengusulan pemberhentian hakim agung

dan/atau hakim Mahkamah Konstitusi maka keputusan dianggap sah apabila dihadiri

oleh 5 (lima) orang anggota.

 

 

 

Pemberhentian

Pasal 32

Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Komisi Yudisial diberhentikan dengan hormat dari

jabatannya oleh Presiden atas usul Komisi Yudisial apabila:

a. meninggal dunia;

b. permintaan sendiri;

c. sakit jasmani atau rohani terus menerus; atau

d. berakhir masa jabatannya.

Pasal 33

(1) Ketua, Wakil Ketua, Anggota Komisi Yudisial diberhentikan tidak dengan hormat dari

jabatannya oleh Presiden dengan persetujuan DPR, atas usul Komisi Yudisial dengan

alasan:

a. melanggar sumpah jabatan;

b. dijatuhi pidana karena bersalah melakukan tindak pidana kejahatan

berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap;

c. melakukan perbuatan tercela;

d. terus menerus melalaikan kewajiban dalam menjalankan tugas pekerjaannya;atau

e. melanggar larangan rangkap jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTARPUSTAKA

 

Thohari, A.Ahsin (Dalam Prof.Dr.Jimly Asshiddiqie).2004.”Komisi Yudisial Dan Reformasi Peradilan”.Jakarta : ELSAM – Lembaga Studi Dan Advokasi Masyarakat

Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial

TUGAS MERANGKUM EYD (EJAAN YANG DI SEMPURNAKAN)

Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi.Pada tanggal 16 Agustus 1972, berdasarkan Keputusan Presiden No. 57, Tahun 1972, berlakulah sistem ejaan Latin (Rumi dalam istilah bahasa Melayu Malaysia) bagi bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Di Malaysia ejaan baru bersama ini dirujuk sebagai Ejaan Rumi Bersama (ERB).
Selanjutnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarluaskan buku panduan pemakaian berjudul “Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan”. Pada tanggal 12 Oktober 1972, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menerbitkan buku “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan” dengan penjelasan kaidah penggunaan yang lebih luas.  Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No. 0196/1975 memberlakukan “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah”.

  1. PEMAKAIAN HURUF
  2. Abjad

Dalam bahasa Indonesia, abjad yang digunakan terdiri dari huruf sebagaimana disebutkan nama masing-masing abjad yang ada di bawah ini :

Huruf Nama Huruf Nama Huruf Nama Huruf Nama
A a a I i i Q q Ki Y y Ye
B b Be J j je R r Er Z z Zet
C c Ce K k ka S s Es  
D d De L l el T t Te  
E e E M m em U u U  
F f Ef N n en V v Ve  
G g Ge O o o W w We  
H h Ha P p pe X x Eks  

 

  1. Huruf Vokal
    Contoh Pemakaian  
Huruf Di Depan Di Tengah Di Belakang
a angsa batas luka
e * elok peta sate
i indah pilu prasasti
u umpan turis waktu
o orang potong kado

 

Catatan :

* dalam pengajaran lafal kata, dapat digunakan tanda aksen jika ejaan kata menimbulkan keraguan. Contoh :

~ ibu duduk di teras rumah.

~ dia putra pejabat teras di kota ini.

  1. Diftong
    Contoh Pemakaian  
Huruf Di Depan Di Tengah Di Belakang
ai __ __ Pantai
au aula saudara Beliau
oi __ __ Amboi

 

  1. Huruf Konsonan

Huruf konsonan yang terdapat di dalam bahasa Indonesia adalah b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, z.

  1. Persukuan

Dalam bahasa Indonesia setiap suku kata ditandai oleh sebuah vokal. Vokal itu dapat diikuti maupun didahului oleh konsonan.

  1. Bahasa Indonesia mengenal 4 macam pola umum suku kata yaitu :
  • V            : a-ku , a-kan , ma-u
  • VK          : an-dai , la-in , om-bak
  • KV          : ma-ju , bi-ru , ra-jut
  • KVK       : ban-tah , lam-bat , rim-bun
  1. Selain itu bahasa Indonesia masih memiliki beberapa pola suku kata :
  • KKV                   : pra-ja , su-pra , in-fra
  • KKVK                : prak-tek , trak-tor , trak-tir
  • VKK                   : ons , ohm , eks-por
  • KVKK                : teks , per
  • KKVKK            : kom-pleks , tri-pleks
  • KKKV                : stra-ta , stra-te-gi
  • KKKVK            : struk-tur , in-struk-si

Keterangan :

V: Vokal

K: Konsonan

  1. Pemisahan suku kata pada kata dasar
  • Jika kata yang ditengahnya ada 2 vokal yang berurutan, pemisahan dilakukan diantara kedua vokal itu. Contoh : bu-at, ta-at, bu-ah
  • Jika kata yang ditengahnya ada konsonan diantara dua vokal, pemisahan dilakukan sebelum konsonan itu. Contoh : su-kar, sya-rat, ang-ka, te-pat, sa-ngat, akh-lak
  • Jika kata yang ditengahnya ada 3 konsonan atau lebih, pemisahan dilakukan diantara konsonan pertama dengan yang kedua. Contoh : ul-tra, bang-krut, ben-trok, am-bruk
  • Jika kata yang ditengahnya ada 2 konsonan yang berurutan, pemisahan dilakukan diantara kedua konsonan itu. Contoh : ban-dar, man-tan, ran-ting
  1. Untuk kata yang mendapatkan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk sehingga biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, maka pemisahan suku kata tersebut dilakukan untuk dipisahkan sebagai satu kesatuan. Contoh : mi-num-an
  2. Nama Diri

Untuk penulisan nama gunung, laut, jalan, sungai, tempat, dan lain-lain disesuaikan dengan Ejaan Yang Disempurnakan. Begitu juga untuk penulisan nama orang, badan hukum, kecuali apabila ada pertimbangan yang bersifat khusus.

  1. PENULISAN HURUF
  2. Huruf Besar (Huruf Kapital)
  3. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama pada awal kalimat. Contoh : Kamu harus belajar sungguh-sungguh
  4. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung. Contoh : Ibu bertanya, “Kapan Anton pergi?”
  5. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan hal-hal keagamaan. Contoh : Allah, Yang Maha Kuasa, Quran, Alkitab, Islam, Tuhan
  6. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan yang diikuti nama orang. Contoh : Haji Abu Bakar, Sultan Agung Tirtayasa, Nabi Ibrahim, Imam Maliki
  7. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang. Contoh : Presiden Soeharto, Profesor Soepomo, Gubernur Wahono
  8. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama nama orang. Contoh : Wage Rudolf Supartman, Agus Subekti, Siti Mariam
  9. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa. Contoh : Bangsa Indonesia, Bahasa Melayu, Suku Jawa
  10. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama nama khas dalam geografi. Contoh : Surabaya, Laut Jawa, Jalan Mojopahit, Danau Toba, Gunung Semeru
  11. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama nama hari, bulan, tahun, hari raya, dan peristiwa sejarah. Contoh : Hari Sabtu, Bulan September, Tahun Saka, Hari Lebaran, Perang Badar, Tahun Gajah
  12. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi. Contoh : Kerajaan Sriwijaya, Piagam Jakarta, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, Dewan Perwakilan Rakyat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
  13. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama semua kata untuk nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata partikel seperti : di, ke, dari, untuk dan yang, yang mana tidak terletak pada posisi awal. Contoh : Azab dan Sengsara, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
  14. Huruf besar (huruf kapital) dipakai dalam singkatan nama, gelar, dan sapaan. Contoh : Ir. Insinyur, Prof. Profesor, dr. Dokter, S.E Sarjana Ekonomi
  15. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubunga kekerabatan yang dipakai sebagai kata ganti (sapaan). Contoh : Itu siapa, Bu?, Kapan Ayah datang?, Besok Adik dan Paman akan datang.
  16. Huruf Miring

Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk :

  1. Menulis nama buku, majalah, surat kabar, yang dikutip dalam karangan. Contoh : surat kabar Buana Minggu
  2. Menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata. Contoh : Pasal itu tidak memuat ketentuan hukum
  3. Menuliskan kata nma-nama ilmiah, atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan dengan ejaannya. Contoh : Zea mays nama lain dari tanaman jagung
  4. PENULISAN KATA
  5. Kata Dasar

Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu satuan. Contoh : Ayah pergi ke Bandung.

  1. Kata Turunan
  2. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulia serangkai dengan kata dasarnya.

Contoh : dipukul, melewati, bergemuruh

  1. Kalau bentuk dasarnya berupa gabungan kata dan sekaligus mendapat awalan dan akhiran, maka kata-kata itu ditulis serangkai.

Contoh : mempertanggungjawabkan, memberitahukan

  1. Kalau salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.

Contoh : Pancasila, mahasiswa, swadaya, prasangka

  1. Awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya kalau bentuk dasarnya berupa gabungan kat.

Contoh : mata pelajaran, bertanggung jawab

  1. Kata Ulang

Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.

Contoh : anak-anak, mata-mata, lauk-pauk, sayur-mayur

  1. Gabungan Kata
  2. Gabungan kata yang lazim disebut dengan kata majemuk, termasuk istilah khusus, bagian-bagiannya yang lazim di tulis terpisah.

Contoh : meja tulis

  1. Gabungan kata, termasuk istilah khusus yang mungkin menimbulkan salah baca, dapat diberi tanda hubung untuk menegaskan pertalian diantara unsur yang bersangkutan.

Contoh : anak-istri

  1. Gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata ditulis serangkai.

Contoh : apabila, bilamana, padahal, bagaimana

  1. Kata Depan

Kata depan (di, ke, dari) ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali dalam gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.

  1. Kata Si dan Sang (Kata Sandang)

Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Contoh : si Pengirim, sang Kancil

  1. Kata ganti ku, kau, mu, dan nya

Ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.

  1. Partikel
  2. Partikel lah, kah, tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
  3. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
  4. Partikel per yang berarti `mulai`, `demi`, dan `tiap` ditulis terpisah dan bagian-bagian kalimat yang mendampinginya.
  5. Angka dan Lambang Bilangan
  6. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Didalam tulisan lazim digunakan angka arab dan angka romawi. Pemakaiannya diatur lebih lanjut dalam pasal-pasal.
  7. Angka digunakan untuk menyatakan ukuran panjang, berta, isi, satuan waktu, dan nilai uang.
  8. Angka lazim dipakai untuk menandai nomor jalan, rumah, apartemen atau kamar pada alamat.
  9. Angka digunakan untuk menomori karangan atau bagiannya.
  10. Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan dengan bilangan utuh dan pecahan.
  11. Penulisan kata bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara, contoh : tingkat V, ke-5, kelima.
  12. Penulisan kata yang mendapat akhiran-an mengikuti cara, contoh : tahun 50-an.
  13. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian.
  14. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata, tidak terdapat lagi pada awal kalimat.
  15. Angka yang menunjukkan bilangan bulat yang besar dapat dieja sebagian supaya mudah dibaca.
  16. Kecuali dalam dokumen resmi, seperti akta dan kuitansi, bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks.
  17. Kalau bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.
  1. TANDA BACA
  2. Tanda titik ( . )
  3. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pernyataan atau seruan.
  4. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.
  5. Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum.
  6. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka, jam, menit, dan detik untuk menunjukkan waktu.
  7. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka, jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
  8. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukkan jumlah.
  9. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan yang terdiri dari huruf-huruf awal kata atau suku kata, atau gabungan keduanya, atau yang terdapat didalam akronim yang diterima masyarakat.
  10. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran timbangan, dan mata uang.
  11. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.
  12. Tanda titik tidak dipakai dibelakang alamat pengirim dan tanggal surat atau nama dan alamat penerima surat.
  13. Tanda titik tidak dipakai dibelakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
  14. Tanda Koma ( , )
  15. Tanda koma dipakai diantara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilang.
  16. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi, melainkan.
  17. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya.
  18. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mengiringi induk kalimat.
  19. Tanda koma dipakai dibelakang ungkapan atau kata penghubung anatara kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk didalamnya, oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
  20. Tanda koma dipakai dibelakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, yang terdapat pada awal kalimat.
  21. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
  22. Tanda koma dipakai diantara nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat, dan tanggal, nama dan tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
  23. Tanda koma dipakai diantara tempat penerbitan, nama penerbit, dan tahun penerbitan.
  24. Tanda koma dipakai menceraikanbagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
  25. Tanda koma dipakai diantara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya, untuk membedakan dari singkatan nama keluarga atau marga.
  26. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan dan diantara rupiah dan sen dalam bilangan.
  27. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi.
  28. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat apabila petikan langsung tersebut berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan mendahului bagian lain dalam kalimat itu.
  29. Tanda Titik Koma ( ; )
  30. Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
  31. Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara didalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
  32. Tanda Titik Dua ( : )
  33. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap apabila diikuti rangkaian.
  34. Tanda titik dua dipakai sesudah ungkapan atau kata yang memerlukan pemerian.
  35. Tanda titik dua dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
  36. Tanda titik dua tidak dipakai kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
  37. Tanda titik dua dipakai diantara jilid atau nomor dan halaman, diantara bab dan ayat dalam kitab-kitab suci, atau diantara judul dan anak judul suatu karangan.
  38. Tanda Tanya ( ? )
  39. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
  40. Tanda tanya dipakai diantara tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
  41. Tanda Seru ( ! )

Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah, atau yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat.

  1. Tanda Kurung ( )
  2. Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
  3. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang merinci satu seri keterangan. Angka atau huruf itu dapat juga diikuti oleh kurung tutup saja.
  4. Tanda kurung mengapit atau penjelasan yang bukan merupakan bagian integral dari pokok pembicaraan.
  5. Tanda Hubung ( – )
  6. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.
  7. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata dibelakangnya, atau akhiran dengan bagian kata didepannya pada pergantian baris.
  8. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
  9. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian ungkapan.
  10. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, ke- dengan angka, angka dengan –an, dan singkatan huruf kapital dengan imbuhan atau kata.
  11. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan bahasa asing.
  12. Tanda Petik Ganda ( “…..” )
  13. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. Kedua pasang tanda petik itu ditulis sama tinggi disebelah atas garis.
  14. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, dan bab buku, apabila dipakai dalam kalimat.
  15. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
  16. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang masih kurang dikenal atau kata yang punya arti khusus.
  17. Tanda petik penutup kalimat atas bagian kalimat yang ditempatkan dibelakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus.
  18. Tanda Pisah ( – )
  19. Tanda pisah dipakai untuk menyatakan suatu pikiran sampingan atau tambahan.
  20. Tanda pisah dipakai untuk menghimpun atau memperluas suatu rangkaian subyek sehingga menjadi lebih jelas.
  21. Tanda pisah dipakai diantara 2 bilangan berarti `sampai dengan`, jika dipakai antara 2 tempat (kota) berarti ke atau sampai.
  22. Tanda pisah dipakai untuk menyatakan suatu ringkasan atau suatu gelar.
  23. Tanda Petik Tunggal ( ` )
  24. Tanda petik tunggal untuk mengapit yang tersusun didalam petikan lain.
  25. Tanda petik tunggal untuk mengapit terjemahan (penjelasan) sebuah kata (ungkapan) asing.
  26. Tanda Ulang ( ….2 ) (angka 2 biasa)

Tanda ulang dapat dipakai dalam tulisan cepat dan notula untuk menyatakan pengulangan kata dasar.

  1. Tanda Penyingkat (apostrof) ( ` )

Tanda penyingkat berarti menunjukkan, menghilangkan bagian kata.

  1. Tanda Garis Miring ( / )
  2. Tanda garis miring dipakai dalam penomoran kode surat.
  3. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, per atau nomor alamat.
  4. Tanda Elipsis ( … )
  5. Tanda elipsis dipakai untuk menyatakan ujaran yang terputus-putus atau ujaran yang terputus tiba-tiba.
  6. Tanda elipsis dipakai untuk menyatakan bahwa dalam suatu kutipan ada bagian tertentu sesudah kalimat itu berakhir.
  7. Tanda elipsis dipakai untuk meminta kepada pembaca mengisi sendiri kelanjutan dari sebuah kalimat.
  8. Tanda Kurung Siku ( [ … ] )
  9. Tanda kurung siku dipakai untuk sesuatu diluar jalannya teks (yang tidak ada hubungan dengan teks).
  10. Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit keterangan (penjelasan) bagi suatu kalimat yang sudah ditempatkan dalam tanda kurung.

ASAS-ASAS HUKUM ACARA PERDATA INDONESIA

 

  1. Hakim Bersifat Menunggu : maksudnya ialah hakim bersifat menunggu datangnya tuntutan hak di ajukan kepadanya, kalau tidak ada tuntutan hak atau penuntutan maka tidak ada hakim. Jadi apakah akan ada proses atau tidak, apakah suatu perkara atau tuntutan hak itu akan di ajukan atau tidak, sepenuhnya di serahkan kepada pihak yang berkepentingan.(pasal 118 HIR, 142 Rbg.)
  2. Hakim Pasif : hakim di dalam memeriksa perkara perdata bersikap pasif dalam arti kata bahwa ruang lingkup atau luas pokok sengketa yang di ajukan kepada hakim untuk di periksa pada asasnya di tentukan oleh para pihak yang berperkara dan bukan oleh hakim.
  3. Sifat Terbukanya Persidangan : sidang pemeriksaan pengadilan pada asasnya adalah terbuka untuk umum, yang berarti bahwa setiap orang di bolehkan hadir dan mendengarkan pemeriksaan di persidangan. Tujuannya ialah untuk memberi perlindungan hak-hak asasi manusia dalam bidang peradilan serta untuk lebih menjamin objektifitas peradilan dengan mempertanggung jawabkan pemeriksaan yang fair (pasal 19 ayat 1 dan 20 UU no.4 tahun 2004). Apabila tidak di buka untuk umum maka putusan tidak sah dan batal demi hokum.
  4. Mendengar Kedua Belah Pihak : dalam pasal 5 ayat 1 UU no.4 tahun 2004 mengandung arti bahwa di dalam hokum acara perdata yang berperkara harus sama-sama di perhatikan, berhak atas perlakuan yang sama dan adil serta masing-masing harus di beri kesempatan untuk memberikan pendapatnya.
  5. Putusan Harus Di Sertai Alasan-alasan : semua putusan pengadilan harus memuat alas an-alasan putusan yang di jadikan dasar untuk mengadili ( pasal 25 UU no 4 tahun 2004,) 184 ayat 1, 319 HIR, 195, 618 Rbg). Alasan-alasan atau argumentasi itu dimaksudkan sebagai pertanggungan jawab hakim dari pada putusanya terhadap masyarakat, para pihak, pengadilan yang lebih tinggi dan ilmu hokum, sehingga oleh karenanya mempunyai nilai objektif.
  6. Beracara di Kenakan biaya : untuk beracara pada asasnya di kenakan biaya (pasal 3 ayat 2 UU no 4 tahun 2004, 121 ayat 4, 182,183 HIR, 145 ayat 4, 192-194 Rbg). Biaya perkara ini meliputi biaya kepaniteraan, dan biaya untuk pengadilan, pemberitahuan para pihak serta biaya materai.
  7. Tidak ada keharusan mewakilkan : pasal 123 HIR, 147 Rbg tidak mewajibkan para pihak untuk mewakilkan kepada orang lain, sehingga pemeriksaan di persidangan terjadi secara langsung terhadap para pihak yang langsung berkepentingan.

makalah hukum tata negara II kelompok 8

MAKALAH

HUKUM TATA NEGARA II

KOMISI YUDISIAL

 

logo unesa

 

 

Di susun oleh :

 

  1. 1.      IDA ALIFATIN                          (124254061)
  2. 2.      FENI QORIROH                        (124254077)
  3. 3.      NASRIA IKA NITASARI         (124254240)
  4. 4.      ANDI MAULANA P.                 (124254242)
  5. 5.      LIDIANA RAHMAYANTI      (124254254)

 

 

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

FAKULTAS ILMU SOSIAL

JURUSAN PMP-KN

PRODI S1-PPKn

  1. 1.      SUSUNAN, KEDUDUKAN DAN JUMLAH ANGGOTA

 

Dalam UU No. 22 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Yudisial telah dijelaskan tentang susunan, kedudukan, dan jumlah anggota yang ada didalam Komisi Yudisial. Berikut ini uraian yang ada dalam UU tersebut.

  • Susunan
  • Pasal 4
  • ·”Komisi Yudisial terdiri atas pimpinan dan anggota.”

 

Pasal 5

”Pimpinan Komisi Yudisial terdiri atas seorang Ketua dan seorang Wakil Ketua yang merangkap Anggota.”

Jadi dalam susunan Komisi Yudisial terdiri atas pimpinan dan anggota, pimpinannya adalah seorang ketua dan wakil ketua yang juga merangkap sebagai anggota.

 

  • Kedudukan
  • Pasal 2
  • ·”Komisi Yudisial merupakan lembaga Negara yang bersifat mandiri dan dalam pelaksanaan wewenangnya bebas dari campur tangan atau pengaruh kekuasaan lainnya.”

Pasal 3

Komisi Yudisial berkedudukan di ibukota negara Republik Indonesia.

 

  • Keanggotaan
  • Pasal 6
  • ·(1) Komisi Yudisial mempunyai 7 (tujuh) orang anggota.
  • ·(2) Anggota Komisi Yudisial adalah pejabat negara.
  • ·(3) Keanggotaan Komisi Yudisial sebagaimana dimaksud pada ayat  (1) terdiri atas mantan hakim, praktisi hukum, akademisi hukum, dan anggota masyarakat.
  • Pasal 7
  • ·(1) Pimpinan Komisi Yudisial dipilih dari dan oleh Anggota Komisi Yudisial.
  • ·(2) Ketentuan mengenai tata cara pemilihan pimpinan Komisi Yudisial diatur oleh Komisi Yudisial.
  • ·UUD 1945 Pasal 24B Ayat :
  • ·(2) Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang hokum serta memiliki intergritas dan kepribadian yang tidak tercela.
  • ·(3) Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.

 

 

2.      FUNGSI, TUGAS DAN  WEWENANG KOMISI YUDISIAL

 

Adapun wewenang dan tugas KY sebagaimana diatur dalam Pasal 13 UU Nomor 22 tahun 2004, Sebagai berikut :

 

Wewenang  Komisi Yudisial sebagai berikut :

 

1)      Mengusulkan pengangkatan hakim agung kepada DPR;

Hakim adalah aktor utama penegakkan hukum di pengadilan yang mempunyai peran lebih apabila dibandingkan dengan jaksa, pengacara, dan panitera. Mekanisme nya yaitu sesuai dengan pasal 24A ayat 3 perubahan ketiga UUD 1945 yaitu : “ calon hakim agung diusulkan komisi yudisial kepada dewan rakyat untuk mendapatkan persetujuan dan selanjutnya di tetapakan sebagai hakim agung oleh Presiden ”.

 

2)      Menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta perilaku hakim.

Melihat kondisi peradilan indonesia yang masih carut marut oleh budaya korupsi, sudah sewajarnya apabila komisi yudisial mempunyai kewenangan yang ekstensif. Proses pengawasan terhadap hakim bisa dilakukan dengan baik tanpa campur tangan kekuasan lain diluarnya.

 

Tugas sebagai berikut :

 

a. melakukan pendaftaran calon hakim agung.

b. melakukan seleksi calon hakim agung.

c. menetapkan calon hakim agung.

d. mengajukan calon hakim ke DPR.

 

Tata cara pelaksanaan tugas :

Dalam UU RI NO. 22 tahun 2004 Pasal 16 yaitu :

  1. Komisi Yudisial mengumumkan pendaftaran penerimaan calon hakim agung (pasal 15 ayat (1)) kepada masyarakat dan disini Mahkamah Agung, pemerintah, dan masyarakat berhak  untuk mengajukan calon hakim agung kepada Komisi Yudisial (pasal 15 ayat (2).
  2. Komisi Yudisial meminta kesediaan calon hakim agung untuk memenuhi persyaratan administrasi yang diatur dalam peraturan perundang-undangan (pasal 16 ayat (1). Persyaratan-persyaratan tersebut sebagaimana disebutkan dalam pasal 16 ayat (2) sekurang-kurangnya berupa.

i.            Daftar riwayat hidup, termasuk riwayat pekerjaan

ii.            Ijazah asli atau yang telah dilegalisir

iii.            Surat keterangan sehat jasmani dan rohani dari dokter rumah sakit pemerintah

iv.            Daftar harta kekayaan serta sumber penghasilan calon

v.            Nomor pokok wajib pajak

  1. Komisi Yudisial melakukan seleksi persyaratan administrasi calon hakim agung (pasal 17 ayat (1)).
  2. Komisi Yudisial mengumumkan daftar nama calon hakim agung yang telah memenuhi persyaratan administrasi (pasal 17 ayat (2)) dan disini masyarakat diberikan hak untuk memberikan informasi atau pendapat terhadap calon hakim agung (pasal 17 ayat (3))
  3. Komisi Yudisial melakukan penelitian atas informasi atau pendapat masyarakat (pasal 17 ayat (4)).
  4. Komisi Yudisial menyelenggarakan seleksi terhadap kualitas dan kepribadian calon hakim agung yang telah memenuhi persyaratan administrasi berdasarkan standar yang telah ditetapkan (pasal 18 ayat (1)), seleksi ini dilakukan secara terbuka (pasal 18 ayat (4)).
  5. Komisi Yudisial mewajibkan calon hakim agung menyusun karya ilmiah dengan topik yang telah ditentukan (pasal 18 ayat (2))
  6. Komisi yudisial menetapkan dan mengajukan 3 (tiga) orang nama calon hakim agung kepada DPR untuk setiap 1 (satu) lowongan hakim agung, dengan memberikan tembusan kepada Presiden (pasal 18 ayat (5)).

 

 

Salah satu tugas dan kewenangan yang penting adalah menegakkan kehormatan dan menjatuhkan sanksi. Pada Pasal 20 disebutkan, “Dalam melaksanakan wewenang sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 13 huruf b, Komisi Yudisial mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim dalam rangka menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim.”

Fungsi Komisi Yudisial sebanagi berikut :

Mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat serta perilaku hakim.

  1. 3.      MASA JABATAN

 

Diatur dalam  UU RI NO.  22  TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL,

Pasal 29 menjelaskan bahwa anggota Komisi Yudisial memegang jabatan selama masa 5 (lima) tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan.

 

 

  1. HAK DAN KEWAJIBAN (LEMBAGA DAN ANGGOTA) KOMISI YUDISIAL

 

KEWAJIBAN KOMISI YUDISIAL :

Menurut UU RI NO.  22  TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL,

Kewajiban komisi yudisial (KY) sebagai lembaga yudikatif adalah :

  1. Mengusulkan pengangkatan hakim agung
  2. Melakukan pendaftaran calon hakim agung
  3. Melakukan seleksi terhadap calon hakim agung
  4. Menetapkan calon hakim agung
  5. Mengajukan calon hakim agung ke DPR
  6. Menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat serta perilaku hakim
  7. Menerima laporan pengaduan masyarakat tentang perilaku hakim
  8. Melakukan pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim
  9. Membuat laporan hasil pemeriksaan berupa rekomendasi yang disampaikan kepada mahkamah agung dan tindasannya disampaikan kepada presiden dan DPR.

 

HAK KOMISI YUDISIAL

 

Menurut UU RI NO. 22  Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial,

Bagian Ketiga Mengenai Hak Protokoler, Keuangan, dan Tindakan Kepolisian (Pasal 8)

Kedudukan protokoler dan hak keuangan Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Komisi Yudisial diberlakukan ketentuan peraturan perundang-undangan bagi pejabat negara.

 

 

  1. 5.      FRAKSI dan KELOMPOK ANGGOTA

Paruh Kedua

Anggota Komisi Yudisial Paruh kedua Periode 2010-2015 (Juli 2013 – Desember 2015)

Paruh Pertama

Anggota Komisi Yudisial Paruh Pertama Periode 2010-2015 (Januari 2010 – Juli 2013)

Periode 2005 – 2010

Anggota Komisi Yudisial Periode 2005-2010

  1. 6.      PERSIDANGAN dan PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Pengambilan keputusan

Pasal 25

( 1)Pengambilan keputusan Komisi Yudisial dilakukan secara musyawarah untuk

mencapai mufakat.

(2)Apabila pengambilan keputusan secara musyawarah tidak tercapai, pengambilan

keputusan dilakukan dengan suara terbanyak.

(3)Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah sah apabila rapat

dihadiri oleh sekurang-kurangnya 5 (lima) orang Anggota Komisi Yudisial,

kecuali keputusan mengenai pengusulan calon Hakim Agung ke DPR dan

pengusulan pemberhentian Hakim Agung dan/atau Hakim Mahkamah

Konstitusi dengan dihadiri seluruh anggota Komisi Yudisial.

(4)Dalam hal terjadi penundaan 3 (tiga) kali berturut-turut atas keputusan mengenai

pengusulan calon Hakim Agung ke DPR dan pengusulan pemberhentian hakim agung

dan/atau hakim Mahkamah Konstitusi maka keputusan dianggap sah apabila dihadiri

oleh 5 (lima) orang anggota.

 

 

 

Pemberhentian

Pasal 32

Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Komisi Yudisial diberhentikan dengan hormat dari

jabatannya oleh Presiden atas usul Komisi Yudisial apabila:

a. meninggal dunia;

b. permintaan sendiri;

c. sakit jasmani atau rohani terus menerus; atau

d. berakhir masa jabatannya.

Pasal 33

(1) Ketua, Wakil Ketua, Anggota Komisi Yudisial diberhentikan tidak dengan hormat dari

jabatannya oleh Presiden dengan persetujuan DPR, atas usul Komisi Yudisial dengan

alasan:

a. melanggar sumpah jabatan;

b. dijatuhi pidana karena bersalah melakukan tindak pidana kejahatan

berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap;

c. melakukan perbuatan tercela;

d. terus menerus melalaikan kewajiban dalam menjalankan tugas pekerjaannya; atau

e. melanggar larangan rangkap jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTARPUSTAKA

Thohari, A.Ahsin (Dalam Prof.Dr.Jimly Asshiddiqie).2004.”Komisi Yudisial Dan Reformasi Peradilan”.Jakarta : ELSAM – Lembaga Studi Dan Advokasi Masyarakat

Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial

Prinsip-prinsip penilaian

Prinsip-prinsip penilaian beserta penerapan/contohnya :

1. Valid

Penilaian valid berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi, sehingga penilaian tersebut menghasilkan informasi yang akurat tentang aktivitas belajar. Penilaian hasil belajar oleh pendidik harus mengukur  pencapaian kompetensi yang ditetapkan dalam standar isi (standar kompetensi dan kompetensi dasar) dan standar kompetensi lulusan. Misalnya apabila pembelajaran menggunakan pendekatan eksperimen maka kegiatan eksperimen harus menjadi salah satu obyek yang di nilai.

Contoh : Dalam pelajaran penjaskes, guru menilai kompetensi permainan badminton siswa, penilaian dianggap valid jika menggunakan test praktek langsung, jika menggunakan tes tertulis maka tes tersebut tidak valid.

2. Obyektif

Penilaian yang bersifat objektif tidak memandang dan membeda-bedakan latar belakang peserta didik, namun melihat kompetensi yang dihasilkan oleh peserta didik tersebut, bukan atas dasar siapa dirinya. Penilaian harus dilaksanakan secara objektif dan tidak dipengaruhi oleh subyektivitas penilai.

Contoh : Guru memberi nilai 85 untuk materi volley pada si A yang merupakan tetangga dari guru tersebut, namun si B, yang kemampuannya lebih baik, mendapatkan nilai hanya 80. Ini adalah penilaian yang bersifat subyektif dan tidak disarankan. Pemberian nilai haruslah berdasarkan kemampuan siswa tersebut.

3. Adil

Peserta didik berhak memperoleh nilai secara adil, penilaian hasil belajar tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial, ekonomi, fisik, dan gender.

Contoh : guru penjaskes laki-laki hendaknya tidak memandang fisik dan rupa dari murid perempuan yang cantik kemudian memberi perlakuan khusus, semua murid berhak diperlakukan sama saat KBM maupun dalam pemberian nilai. Nilai yang diberikan sesuai dengan kenyataan hasil belajar siswa tersebut.

4. Terbuka

Penilaian harus bersifat transparan dan pihak yang terkait  harus tau bagaimana pelaksanaan penilaian tersebut, dari aspek apa saja nilai tersebut didapat, dasar pengambilan keputusan, dan bagaimana pengolahan nilai tersebut sampai hasil akhirnya tertera, dan dapat diterima.

Contoh : pada tahun ajaran baru, guru Kimia menerangkan tentang kesepakatan pemberian nilai dengan bobot masing-masing aspek, misal, Partisipasi kehadiran diberi bobot 20%, Tugas individu dan kelompok 20%, Ujian tengah semester 25%, ujian akhir semester 35%. Sehingga disini terjadi keterbukaan penilaian antara murid dan guru.

5. Bermakna

Penilaian hasil belajar oleh pendidik memiliki arti, makna, dan manfaat yang dapat ditindaklanjuti oleh pihak lain, terutama pendidik, peserta didik, orang tua, dan masyarakat.

Contoh : bagi guru, hasil penilaian dapat bermakna untuk melihat seberapa besar keberhasilan metode pembelajaran yang digunakan, sebagai evaluasi untuk perbaikan kedepan, serta memberikan pengukuran prestasi belajar kepada siswa.

6. Mendidik

Penilaian hasil belajar harus dapat mendorong dan membina peserta didik maupun pendidik untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya dengan cara memperbaiki kualitas belajar mengajar.

Contoh : Budi mendapatkan nilai 60 untuk pelajaran matematika, 50 untuk bahasa Indonesia, dan 65 untuk Fisika, namun dalam kegiatan ekstrakurikuler futsal, ia meraih prestasi yang membanggakan. Budi sadar bahwa ia harus menyeimbangkan prestasi akademik dan non akademiknya, Kemudian budi terpacu untuk mengevaluasi kesalahannya dan memperbaiki kualitas belajar dan hidupnya, memperoleh nilai yang baik, juga memperoleh prestasi yang baik.

7. Menyeluruh

Penilaian diambil dengan mencakup seluruh aspek kompetensi peserta didik dan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, termasuk mengumpulkan berbagai bukti aktivitas belajar peserta didik. Penilaian meliputi pengetahuan (cognitif), keterampilan (phsycomotor), dan sikap (affectif).

Contoh : Dalam penilaian hasil akhir belajar, guru Seni Budaya mengumpulkan berbagai bukti aktivitas siswa dalam catatan sebelumnya, penilaian yang dikumpulkan mulai dari pengetahuan tentang seni budaya, keterampilan menari, menggambar, bermusik, kehadiran dalam KBM, dan penilaian sikap peserta didik, semua hal tersebut digabungkan menjadi satu dan menghasilkan nilai.

8. Berkesinambungan

Pelaksanaan penilaian hasil belajar dilakukan secara terencana, bertahap, dan terus menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan belajar peserta didik.

Contoh : guru matematika melakukan KBM secara terencana, guru menjelaskan materi tiap pertemuan, memberikan tugas, mengadakan ulangan harian, ujian tengah semester, serta ujian akhir semester, semua dilaksanakan secara terus menerus dan bertahap, dan dari setiap tahap tersebut, guru mengumpulkan informasi yang akan diolah untuk menghasilkan nilai.

9. Akuntabel

Penilaian hasil belajar oleh pendidik dapat dipertanggung jawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.

Contoh : guru bahasa mandarin dapat menjelaskan secara benar kepada pihak terkait, tentang proses penilaian, teknik penilaian, prosedur, dan hasil yang sesuai dengan kenyataan kemampuan hasil belajar peserta didiknya.

Sinopsis Novel Sang Pemimpi

sang-pemimpi2

Penulis                                                : Andrea Hirata
Penerbit                                              : Bentang Pustaka
Tahun Pertama terbit                       : 2005
Jumlah Halaman                               :
x + 292 Halaman

 

Sang Pemimpi adalah buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Buku inimenceritakan kisah kehidupannya di Pulau belitong yang dililit kemiskinan. Namun ada tiga remaja SMA Bukan Main yang bermimpi untuk melanjutkan sekolah hingga ke Perancis menjelajah Eropa hingga ke Afrika. Ikal, Arai dan Jimbron, mereka adalah para pemimpi-pemimpi itu.

Pada bab pertama buku ini, Andrea menceritakan bahwa dirinya yang dipanggil Ikal dan kedua temannya, Arai dan Jimbron adalah tiga remaja yang begitu nakalnya sehingga mereka sangat dibenci oleh Pak Mustar, tokoh antagonis dalam buku ini, yaitu seorang Wakil Kepala SMA Bukan Main itu sendiri. Namun beda halnya dengan sang Kepala Sekolah, Pak Balia adalah cermin guru teladan. Pak Beliau lah yang telah memberikan mimpi-mimpi kepada murid-muridnya terutama kepada Ikal, Arai dan Jimbron. “ Jelajahi kemegahan Eropa sampai ke Afrika yang eksotis. Temukan berliannya budaya sampai ke Perancis. Langkahkan kakimu di atas altar suci almamater terhebat tiada tara: Sorbonne. Ikuti jejak-jejak Satre, Louis Pasteur, Montesquieu, Voltaire. Di sanalah orang belajar science, sastra, dan seni hingga merubah peradaban…”, itulah kata-kata yang sering diucapkan Pak Balia. Pak Balia juga orang yang tegas, hal ini dibuktikan ketika beliau mandapat Pak Mustar yang menginginkan anaknya dengan NEM 41,75 untuk masuk ke SMA itu, padahal NEM minimal untuk diterimanya seorang siswa harus 42. Padahal tanpa Pak Mustar, SMA ani tidak akan ada.

Namun pada bab-bab berikutnya pembaca akan melihat potongan-potongan kisah yang seperti berdiri sendiri, sehingga seolah-olah Andrea hanya membuat cerpen-cerpen dalam satu buku. Tapi sebenarnya pada setiap bab, mulai awal hingga akhir, memiliki hubungan yang sangat erat. Seperti mozaik-mozaik dalam kehidupan. Menurut buku ini, Arai adalah anak yang menurut orang melayu disebut simpai keramat, yaitu keturunan terakhir dari suatu klan karena orang tua Arai sudah meninggal. Arai mulai diasuh keluarga Ikal yang karena memang masih punya hubungan darah yang cukup jauh. Ketika itu dia masih seusia Ikal yaitu kelas 3 SD di suatu sore yang mengiriskan hati. Bagaimana tidak, usia semuda itu sudah menerima nasib setragis itu, apalagi dia menerimanya dengan tabah. Sampai-sampai Ikal dan ayahnya tidak kuat menahan tangis, malahan Ikal yang seharusnya menghibur Arai malah dihibur oleh Arai.

Arai menurut Ikal adalah anak yang memiliki karisma apalagi di matanya, mungkin itu sebagai kompensasi karena nasibnya. Ia juga memiliki hati yang lembut, suka menolong tanpa banyak bicara, sering memberi kejutan, idenya selalu nyeleneh, dia  adalah seniman sehari-hari tapi ia tak begitu rupawan tapi dia memiliki otak yang cerdas dan selalu ingin tahu. Arai juga sering menolong Ikal dan selalu membesarkan hatinya. Pernah dulu Ikal memakai model rambut belah tengahnya Koes Plus dengan sangat konyol dan ditertawakan oleh abang-abangnya, tapi Arai tetap membelanya. Bahkan Arai pernah memarahinya karenan kesalahan Ikal sendiri. “Kita takkan pernah mendahului nasib!”, “Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati…”, itulah kata-kata yang diucapkannya kepada Ikal saat Ikal berhenti untuk bermimpi dan bercita-cita sehingga nilainya merosot jauh.

Nasib Jimbron nyaris sama dengan Arai, malah lebih memprihatinkan. Menurut Ikal, siapa saja yang melihat Jimbron akan merasa ingin melindunginya, apalagi tahu jika ia gagap dalam berbicara. Tapi yang paling tragis dari kisah Jimbron adalah ketika ia masih kecil. Pada saat itu, beberapa waktu setelah ibunya meninggal, Jimbron di bonceng ayahnya menggunakan sepeda. Di tengah jalan ayahnya tiba-tiba terkena serangan jantung. Jimbron yang masih sangat kecil itu kebingungan mencari pertolongan dan akhirnya diboncengnya sendiri ayahnya yang sekarat itu ke puskesmas terdekat. Tapi beberapa saat setelah tiba di Puskesmas, ayahnya meninggal. Mulai saat itulah Jimbron gagap dalam berbicara.

Novel yang disajikan dengan bahasa yang cantik ini mampu menyihir pembaca sehingga pembaca bias ikut merasakan kebahagiaan, semangat keputusasaan dan kesedihan. Tapi selain itu buku ini memiliki lelucon-lelucon yang tidak biasa, cerdas dan pasti akan membuat pembaca tertawa. Dengan membaca buku ini Anda akan mengetahui bahwa Andrea Hirata memiliki pribadi yang cerdas dalam mengolah kata-kata dan memiliki wawasan yang sangat luas. Meskipun disebut sebagai buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi, tapi di buku ini nyaris tidak ada hubungannya dengan buku yang pertama, Laskar Pelangi. Tapi Sang Pemimpi hanya menyebutkan kata Laskar Pelangi hanya sekali disebut. Dan keponakan yang Ikal biayai saat di Jawa juga tidak disebut sama sekali dalam buku ini, padahal di Novel sebelumnya telah diceritakan dengan jelas.

 

Kelebihan dan Kelemahan

 

1)      Kelebihan

Banyak kelebihan-kelebihan yang didapatkan dalam novel ini. Mulai dari segi kekayaan bahasa hingga kekuatan alur yang mengajak pembaca masuk dalam cerita hingga merasakan tiap latar yang terdeskripsikan secara sempurna. Hal ini tak lepas dari kecerdasan penulis memainkan imajinasi berfikir yang dituangkan dengan bahasa-bahasa intelektual yang berkelas. Penulis juga menjelaskan tiap detail latar yang mem-background-i adegan demi adegan, sehingga pembaca selalu menantikan dan menerka-nerka setiap hal yang akan terjadi. Selain itu, kelebihan lain daripada novel ini yaitu kepandaian Andrea dalam mengeksplorasi karakter-karakter sehingga kesuksesan pembawaan yang melekat dalam karakter tersebut begitu kuat.

 

2)      Kelemahan

Pada dasarnya novel ini hampir tiada kelemahan. Hal itu disebabkan karena penulis dengan cerdas dan apik menggambarkan keruntutan alur, deskripsi setting, dan eksplorasi kekuatan karakter. Baik ditinjau dari segi kebahasaan hingga sensasi yang dirasakan pembaca sepanjang cerita, novel ini dinilai cukup untuk mengobati keinginan pembaca yang haus akan novel yang bermutu.

 

 

 

 

Sinopsis

Novel Sang Pemimpi menceritakan tentang sebuah kehidupan tiga orang anak Melayu Belitong yaitu Ikal, Arai, dan Jimbron yang penuh dengan tantangan, pengorbanan dan lika-liku kehidupan yang memesona sehingga kita akan percaya akan adanya tenaga cinta, percaya pada kekuatan mimpi dan kekuasaan Allah. Ikal, Arai, dan Jimbron berjuang demi menuntut ilmu di SMA Negeri Bukan Main yang jauh dari kampungnya. Mereka tinggal di salah satu los di pasar kumuh Magai Pulau Belitong bekerja sebagai kuli ngambat untuk tetap hidup sambil belajar.

Ada Pak Balia yang baik dan bijaksana, beliau seorang Kepala Sekolah sekaligus mengajar kesusastraan di SMA Negeri Bukan Main, dalam novel ini juga ada Pak Mustar yang sangat antagonis dan ditakuti siswa, beliau berubah menjadi galak karena anak lelaki kesayangannya tidak diterima di SMA yang dirintisnya ini. Sebab NEM anaknya ini kurang 0,25 dari batas minimal. Bayangkan 0,25 syaratnya 42, NEM anaknya hanya 41,75. Ikal, Arai, dan Jimbron pernah dihukum oleh Pak Mustar karena telah menonton film di bioskop dan peraturan ini larangan bagi siswa SMA Negeri Bukan Main. Pada apel Senin pagi mereka barisnya dipisahkan, dan mendapat hukuman berakting di lapangan sekolah serta membersihkan WC.

Ikal dan Arai bertalian darah. Nenek Arai adalah adik kandung kakek Ikal dari pihak ibu,ketika kelas 1 SD ibu Arai wafat dan ayahmya juga wafat ketika Arai kelas 3 sehingga di kampung Melayu disebut Simpai Keramat. Sedangkan Jimbron bicaranya gagap karena dulu bersama ayahnya bepergian naik sepeda tiba-tiba ayahnya kena serangan jantung dan Jimbron pontang-panting membawa ayahnya panik. Ia sangat antusias sekali dengan kuda, segala macam kuda ia tahu. Ayah Ikal bekerja di PN Timah Belitong, ayahnya pendiam tapi kasih sayangnya sangat besar, dia bersepeda ke Magai 30 kilometer hanya untuk mengambil rapot anaknya di SMA Negeri Bukan Main. Dan ibu Ikal menyiapkan baju safari ayah dengan menyalakan setrika arang dan gesit memercikan air pandan dan bunga kenanga yang telah direndam semalam.

Ketika belajar di lapangan sekolah Pak Mustar berkata : “Jelajahi kemegahan Eropa sampai ke Afrika yang eksotis. Temukan berliannya budaya sampai ke Prancis. Langkahkan kakimu di atas altar suci almamater terhebat tiada tara Sorbonne. Ikuti jejak-jejak Sartre, Louis Pasteur, Montesquieu, Voltaire. Disanalah orang belajar science, sastar, dan seni hingga mengubah peradaban”. Ikal dan Arai tak berkedip ketika Pak Balia memperlihatkan gambar yang tampak seorang pelukis dibelakang kanvas berdiri menjulang Menara Eiffel yang menunduk memerintahkan Sungai Seine agar membelah diri menjadi dua tepat dikaki-kakinya.

Saat itulah mereka mengkristalkan harapan agung dengan statement yang sangat ambisius : Cita-cita kami adalah kami ingin sekolah ke Prancis! Ingin menginjakan kaki di altar suci almamater Sorbonne, ingin menjelajah Eropa sampai ke Afrika. Dengan perjuangan hidup mesti serba terbatas dan banyak rintangan Ikal dan Arai akhirnya diterima kuliah di Universite de Paris, Sorbonne, Prancis. Sedangkan Jimbron tetap di Belitong mengurusi kuda milik capo.

Novel Sang Pemimpi menceritakan tentang sebuah kehidupan tiga orang anak Melayu Belitong yaitu Ikal, Arai, dan Jimbron yang penuh dengan tantangan, pengorbanan dan lika-liku kehidupan yang memesona sehingga kita akan percaya akan adanya tenaga cinta, percaya pada kekuatan mimpi dan kekuasaan Allah. Ikal, Arai, dan Jimbron berjuang demi menuntut ilmu di SMA Negeri Bukan Main yang jauh dari kampungnya. Mereka tinggal di salah satu los di pasar kumuh Magai Pulau Belitong bekerja sebagai kuli
ngambat untuk tetap hidup sambil belajar. Ada Pak Balia yang baik dan bijaksana, beliau seorang Kepala Sekolah sekaligus mengajar kesusastraan di SMA Negeri Bukan Main, dalam novel ini juga ada Pak Mustar yang sangat antagonis dan ditakuti siswa, beliau berubah menjadi galak karena anak lelaki kesayangannya tidak diterima di SMA yang dirintisnya ini. Sebab NEM anaknya ini kurang 0,25 dari batas minimal.

Bayangkan 0,25 syaratnya 42, NEM anaknya hanya 41,75. Ikal, Arai, dan Jimbron pernah dihukum oleh Pak Mustar karena telah menonton film di bioskop dan peraturan ini larangan bagi siswa SMA Negeri Bukan Main. Pada apel Senin pagi mereka barisnya dipisahkan, dan mendapat hukuman berakting di lapangan sekolah serta membersihkan WC. Ikal dan Arai bertalian darah. Nenek Arai adalah adik kandung kakek Ikal dari pihak ibu,ketika kelas 1 SD ibu Arai wafat dan ayahmya juga wafat ketika Arai kelas 3 sehingga di kampung Melayu disebut Simpai Keramat. Sedangkan Jimbron bicaranya gagap karena dulu bersama ayahnya.

Kisah dalam novel ini dimulai dengan kehidupan tokoh ikal di Belitong pada saat ia masih SMA. Ia bersama saudara jauhnya yakni Ikal menjalani masa SMA yang menyenangkan meski berat sebab tuntutan ekonomi membuat mereka dewasa sebelum waktunya. Untuk tetap besekolah dan hidup, keduanya bekerja sebagai kuli di sebuah pelabuhan ikan. Waktu kerja mereka dini hari sehingga waktu sekolah tidak terganggu. Kegigihan mereka pada akhirnya terbayar saat mereka dewasa kelak. Ikal sendiri berhasil mendapatkan gelar sarjana ekonomi dari Universitas Indonesia, sementara Arai yang pada akhirnya kuliah di Kalimantan, menjadi seorang ahli biologi.

Selain Ikal dan Arai, ada tokoh sentral lain dalam novel Sang Pemimpi ini. Ia adalah Jimbron. Ia sendiri adalah anak yatim piatu yang diceritakan diasuh oleh seseorang bernama Geovanny. Ia berwajah bayi dengan tubuh gembur. Pemikirannya lurus, cenderung naïf dan polos. Jimbron sangat menyukai kuda dan tahu seluk beluk hewan tangkas tersebut. Jimbron menjadi perekat hubungan Ikal dan Arai, oleh sebab keluguannya, ia mudah disayangi dan mendapat simpati. Persahabatan mereka juga tentang bagaimana melindungi Jimbron. Namun, selepas SMA, ketiga sahabat ini berpisah. Mereka berbeda rute dan dipisahkan kota.

Ada banyak tokoh pembantu lainnya dalam cerita ini antara lain Pak Mustar, Pak Drs. Julian Ichsan Balia, Nurmalala, Lakshmi, Taikong Hamim, Bang Zaitun dan masih banyak lagi lainnya. Kesemua tokoh ini mewarnai dinamika perjuangan Arai juga Ikal meraih mimpi. Novel ini menarik dengan bahasa yang tentu apik khas Andrea Hirata. Meski memang tak sefeonomenas Laskar Pelangi, namun Sang Pemimpi ini seperti sebuah “penuntasan” dari apa yang dikosongkan Laskar Pelangi. Sama seperti cerita tetralogi lainnya, saat Anda membaca buku pertama, maka seyogyanya Anda juga menuntaskkan novel lanjutannya.