makalah HTN

MAKALAH

HUKUM TATA NEGARA II

KOMISI YUDISIAL

 logo unesa

Di susun oleh :

 

  1. IDA ALIFATIN                          (124254061)
  2. FENI QORIROH                        (124254077)
  3. NASRIA IKA NITASARI         (124254240)
  4. ANDI MAULANA P.                 (124254242)
  5. LIDIANA RAHMAYANTI      (124254254)

 

 

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

FAKULTAS ILMU SOSIAL

JURUSAN PMP-KN

PRODI S1-PPKn

  1. SUSUNAN, KEDUDUKAN DAN JUMLAH ANGGOTA

 

Dalam UU No. 22 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Yudisial telah dijelaskan tentang susunan, kedudukan, dan jumlah anggota yang ada didalam Komisi Yudisial. Berikut ini uraian yang ada dalam UU tersebut.

  • Susunan
  •                                          Pasal 4
  • ”Komisi Yudisial terdiri atas pimpinan dan anggota.”

Pasal 5

”Pimpinan Komisi Yudisial terdiri atas seorang Ketua dan seorang Wakil Ketua yang merangkap Anggota.”

Jadi dalam susunan Komisi Yudisial terdiri atas pimpinan dan anggota, pimpinannya adalah seorang ketua dan wakil ketua yang juga merangkap sebagai anggota.

 

  • Kedudukan
  •                                          Pasal 2
  • ”Komisi Yudisial merupakan lembaga Negara yang bersifat mandiri dan dalam pelaksanaan wewenangnya bebas dari campur tangan atau pengaruh kekuasaan lainnya.”

Pasal 3

Komisi Yudisial berkedudukan di ibukota negara Republik Indonesia.

 

  • Keanggotaan
  •                                          Pasal 6
  • (1) Komisi Yudisial mempunyai 7 (tujuh) orang anggota.
  • (2) Anggota Komisi Yudisial adalah pejabat negara.
  • (3) Keanggotaan Komisi Yudisial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas mantan hakim, praktisi hukum, akademisi hukum, dan anggota masyarakat.
  •                                          Pasal 7
  • (1) Pimpinan Komisi Yudisial dipilih dari dan oleh Anggota Komisi Yudisial.
  • (2) Ketentuan mengenai tata cara pemilihan pimpinan Komisi Yudisial diatur oleh Komisi Yudisial.
  • UUD 1945 Pasal 24B Ayat :
  • (2) Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang hokum serta memiliki intergritas dan kepribadian yang tidak tercela.
  • (3) Anggota Komisi Yudisial diangkat dandiberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.

 

 

2.      FUNGSI, TUGAS DAN WEWENANG KOMISI YUDISIAL

 

Adapun wewenang dan tugas KY sebagaimana diatur dalam Pasal 13 UU Nomor 22 tahun 2004, Sebagai berikut :

 

Wewenang Komisi Yudisial sebagai berikut :

 

1)      Mengusulkan pengangkatan hakim agung kepada DPR;

Hakim adalah aktor utama penegakkan hukum di pengadilan yang mempunyai peran lebih apabila dibandingkan dengan jaksa, pengacara, dan panitera. Mekanisme nya yaitu sesuai dengan pasal 24A ayat 3 perubahan ketiga UUD 1945 yaitu : “ calon hakim agung diusulkan komisi yudisial kepada dewan rakyat untuk mendapatkan persetujuan dan selanjutnya di tetapakan sebagai hakim agung oleh Presiden ”.

 

2)      Menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta perilaku hakim.

Melihat kondisi peradilan indonesia yang masih carut marut oleh budaya korupsi, sudah sewajarnya apabila komisi yudisial mempunyai kewenangan yang ekstensif. Proses pengawasan terhadap hakim bisa dilakukan dengan baik tanpa campur tangan kekuasan lain diluarnya.

 

Tugas sebagai berikut :

 

a. melakukan pendaftaran calon hakim agung.

b. melakukan seleksi calon hakim agung.

c. menetapkan calon hakim agung.

d. mengajukan calon hakim ke DPR.

 

Tata cara pelaksanaan tugas :

Dalam UU RI NO. 22 tahun 2004 Pasal 16 yaitu :

  1. Komisi Yudisial mengumumkan pendaftaran penerimaan calon hakim agung (pasal 15 ayat (1)) kepada masyarakat dan disini Mahkamah Agung, pemerintah, dan masyarakat berhak  untuk mengajukan calon hakim agung kepada Komisi Yudisial (pasal 15 ayat (2).
  2. Komisi Yudisial meminta kesediaan calon hakim agung untuk memenuhi persyaratan administrasi yang diatur dalam peraturan perundang-undangan (pasal 16 ayat (1). Persyaratan-persyaratan tersebut sebagaimana disebutkan dalam pasal 16 ayat (2) sekurang-kurangnya berupa.

i.            Daftar riwayat hidup, termasuk riwayat pekerjaan

ii.            Ijazah asli atau yang telah dilegalisir

iii.            Surat keterangan sehat jasmani dan rohani dari dokter rumah sakit pemerintah

iv.            Daftar harta kekayaan serta sumber penghasilan calon

v.            Nomor pokok wajib pajak

  1. Komisi Yudisial melakukan seleksi persyaratan administrasi calon hakim agung (pasal 17 ayat (1)).
  2. Komisi Yudisial mengumumkan daftar nama calon hakim agung yang telah memenuhi persyaratan administrasi (pasal 17 ayat (2)) dan disini masyarakat diberikan hak untuk memberikan informasi atau pendapat terhadap calon hakim agung (pasal 17 ayat (3))
  3. Komisi Yudisial melakukan penelitian atas informasi atau pendapat masyarakat (pasal 17 ayat (4)).
  4. Komisi Yudisial menyelenggarakan seleksi terhadap kualitas dan kepribadian calon hakim agung yang telah memenuhi persyaratan administrasi berdasarkan standar yang telah ditetapkan (pasal 18 ayat (1)), seleksi ini dilakukan secara terbuka (pasal 18 ayat (4)).
  5. Komisi Yudisial mewajibkan calon hakim agung menyusun karya ilmiah dengan topik yang telah ditentukan (pasal 18 ayat (2))
  6. Komisi yudisial menetapkan dan mengajukan 3 (tiga) orang nama calon hakim agung kepada DPR untuk setiap 1 (satu) lowongan hakim agung, dengan memberikan tembusan kepada Presiden (pasal 18 ayat (5)).

 

 

Salah satu tugas dan kewenangan yang penting adalah menegakkan kehormatan dan menjatuhkan sanksi. Pada Pasal 20 disebutkan, “Dalam melaksanakan wewenang sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 13 huruf b, Komisi Yudisial mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim dalam rangka menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim.”

Fungsi Komisi Yudisial sebanagi berikut :

Mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat serta perilaku hakim.

  1. MASA JABATAN

 

Diatur dalam UU RI NO.  22  TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL,

Pasal 29 menjelaskan bahwa anggota Komisi Yudisial memegang jabatan selama masa 5 (lima) tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan.

 

 

  1. HAK DAN KEWAJIBAN (LEMBAGA DAN ANGGOTA) KOMISI YUDISIAL

 

KEWAJIBAN KOMISI YUDISIAL :

Menurut UU RI NO.  22  TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL,

Kewajiban komisi yudisial (KY) sebagai lembaga yudikatif adalah :

  1. Mengusulkan pengangkatan hakim agung
  2. Melakukan pendaftaran calon hakim agung
  3. Melakukan seleksi terhadap calon hakim agung
  4. Menetapkan calon hakim agung
  5. Mengajukan calon hakim agung ke DPR
  6. Menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat serta perilaku hakim
  7. Menerima laporan pengaduan masyarakat tentang perilaku hakim
  8. Melakukan pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim
  9. Membuat laporan hasil pemeriksaan berupa rekomendasi yang disampaikan kepada mahkamah agung dan tindasannya disampaikan kepada presiden dan DPR.

 

HAK KOMISI YUDISIAL

 

Menurut UU RI NO. 22  Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial,

Bagian Ketiga Mengenai Hak Protokoler, Keuangan, dan Tindakan Kepolisian (Pasal 8)

Kedudukan protokoler dan hak keuangan Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Komisi Yudisial diberlakukan ketentuan peraturan perundang-undangan bagi pejabat negara.

 

 

  1. FRAKSI dan KELOMPOK ANGGOTA

Paruh Kedua

Anggota Komisi Yudisial Paruh kedua Periode 2010-2015 (Juli 2013 – Desember 2015)

Paruh Pertama

Anggota Komisi Yudisial Paruh Pertama Periode 2010-2015 (Januari 2010 – Juli 2013)

Periode 2005 – 2010

Anggota Komisi Yudisial Periode 2005-2010

  1. PERSIDANGAN dan PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Pengambilan keputusan

Pasal 25

( 1)Pengambilan keputusan Komisi Yudisial dilakukan secara musyawarah untuk

mencapai mufakat.

(2)Apabila pengambilan keputusan secara musyawarah tidak tercapai, pengambilan

keputusan dilakukan dengan suara terbanyak.

(3)Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah sah apabila rapat

dihadiri oleh sekurang-kurangnya 5 (lima) orang Anggota Komisi Yudisial,

kecuali keputusan mengenai pengusulan calon Hakim Agung ke DPR dan

pengusulan pemberhentian Hakim Agung dan/atau Hakim Mahkamah

Konstitusi dengan dihadiri seluruh anggota Komisi Yudisial.

(4)Dalam hal terjadi penundaan 3 (tiga) kali berturut-turut atas keputusan mengenai

pengusulan calon Hakim Agung ke DPR dan pengusulan pemberhentian hakim agung

dan/atau hakim Mahkamah Konstitusi maka keputusan dianggap sah apabila dihadiri

oleh 5 (lima) orang anggota.

 

 

 

Pemberhentian

Pasal 32

Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Komisi Yudisial diberhentikan dengan hormat dari

jabatannya oleh Presiden atas usul Komisi Yudisial apabila:

a. meninggal dunia;

b. permintaan sendiri;

c. sakit jasmani atau rohani terus menerus; atau

d. berakhir masa jabatannya.

Pasal 33

(1) Ketua, Wakil Ketua, Anggota Komisi Yudisial diberhentikan tidak dengan hormat dari

jabatannya oleh Presiden dengan persetujuan DPR, atas usul Komisi Yudisial dengan

alasan:

a. melanggar sumpah jabatan;

b. dijatuhi pidana karena bersalah melakukan tindak pidana kejahatan

berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap;

c. melakukan perbuatan tercela;

d. terus menerus melalaikan kewajiban dalam menjalankan tugas pekerjaannya;atau

e. melanggar larangan rangkap jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTARPUSTAKA

 

Thohari, A.Ahsin (Dalam Prof.Dr.Jimly Asshiddiqie).2004.”Komisi Yudisial Dan Reformasi Peradilan”.Jakarta : ELSAM – Lembaga Studi Dan Advokasi Masyarakat

Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial

Tanda-Tanda Ada yang Suka/Kangen Sama Kamu

Blog of Writer Wannabe

Ini nggak tahu beneran atau nggak, ya. Tapi selama ini aku sering dengar tentang tanda-tanda kalau ada seseorang yang suka atau lagi kangen sama kita. Aku sih percaya gak percaya, tapi seru juga untuk diketahui. Apa saja tandanya?

1. Ada garis/titik di kuku jari tangan kanan
Mau di jari mana pun, pokoknya kalau ada garis atau titik putih kecil, tandanya ada yang lagi seneng sama kamu. Sebaliknya, kalau titiknya ada di kuku jari tangan kiri, berarti ada yang lagi marah sama kamu. Tapi ada juga yang bilang, ini bukan tanda ada yang suka, tapi kamu sering ngambilin lauk yang baru dimasak ibu 😀

2. Bulu mata rontok.
Ini juga sering diartikan orang-orang sebagai tanda kalau ada yang lagi kangen. Gimana kalau bulu matanya rontok karena dikucek-kucek? Ya gak tau deh.

3. Mata berkedut-kedut.
Mata berkedut-kedut bukan cuma tanda kalau pusing. Katanya sih, itu ada yang kangen sama kamu.

4. Lihat…

View original post 61 more words

TUGAS MERANGKUM EYD (EJAAN YANG DI SEMPURNAKAN)

Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi.Pada tanggal 16 Agustus 1972, berdasarkan Keputusan Presiden No. 57, Tahun 1972, berlakulah sistem ejaan Latin (Rumi dalam istilah bahasa Melayu Malaysia) bagi bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Di Malaysia ejaan baru bersama ini dirujuk sebagai Ejaan Rumi Bersama (ERB).
Selanjutnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarluaskan buku panduan pemakaian berjudul “Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan”. Pada tanggal 12 Oktober 1972, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menerbitkan buku “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan” dengan penjelasan kaidah penggunaan yang lebih luas.  Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No. 0196/1975 memberlakukan “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah”.

  1. PEMAKAIAN HURUF
  2. Abjad

Dalam bahasa Indonesia, abjad yang digunakan terdiri dari huruf sebagaimana disebutkan nama masing-masing abjad yang ada di bawah ini :

Huruf Nama Huruf Nama Huruf Nama Huruf Nama
A a a I i i Q q Ki Y y Ye
B b Be J j je R r Er Z z Zet
C c Ce K k ka S s Es  
D d De L l el T t Te  
E e E M m em U u U  
F f Ef N n en V v Ve  
G g Ge O o o W w We  
H h Ha P p pe X x Eks  

 

  1. Huruf Vokal
    Contoh Pemakaian  
Huruf Di Depan Di Tengah Di Belakang
a angsa batas luka
e * elok peta sate
i indah pilu prasasti
u umpan turis waktu
o orang potong kado

 

Catatan :

* dalam pengajaran lafal kata, dapat digunakan tanda aksen jika ejaan kata menimbulkan keraguan. Contoh :

~ ibu duduk di teras rumah.

~ dia putra pejabat teras di kota ini.

  1. Diftong
    Contoh Pemakaian  
Huruf Di Depan Di Tengah Di Belakang
ai __ __ Pantai
au aula saudara Beliau
oi __ __ Amboi

 

  1. Huruf Konsonan

Huruf konsonan yang terdapat di dalam bahasa Indonesia adalah b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, z.

  1. Persukuan

Dalam bahasa Indonesia setiap suku kata ditandai oleh sebuah vokal. Vokal itu dapat diikuti maupun didahului oleh konsonan.

  1. Bahasa Indonesia mengenal 4 macam pola umum suku kata yaitu :
  • V            : a-ku , a-kan , ma-u
  • VK          : an-dai , la-in , om-bak
  • KV          : ma-ju , bi-ru , ra-jut
  • KVK       : ban-tah , lam-bat , rim-bun
  1. Selain itu bahasa Indonesia masih memiliki beberapa pola suku kata :
  • KKV                   : pra-ja , su-pra , in-fra
  • KKVK                : prak-tek , trak-tor , trak-tir
  • VKK                   : ons , ohm , eks-por
  • KVKK                : teks , per
  • KKVKK            : kom-pleks , tri-pleks
  • KKKV                : stra-ta , stra-te-gi
  • KKKVK            : struk-tur , in-struk-si

Keterangan :

V: Vokal

K: Konsonan

  1. Pemisahan suku kata pada kata dasar
  • Jika kata yang ditengahnya ada 2 vokal yang berurutan, pemisahan dilakukan diantara kedua vokal itu. Contoh : bu-at, ta-at, bu-ah
  • Jika kata yang ditengahnya ada konsonan diantara dua vokal, pemisahan dilakukan sebelum konsonan itu. Contoh : su-kar, sya-rat, ang-ka, te-pat, sa-ngat, akh-lak
  • Jika kata yang ditengahnya ada 3 konsonan atau lebih, pemisahan dilakukan diantara konsonan pertama dengan yang kedua. Contoh : ul-tra, bang-krut, ben-trok, am-bruk
  • Jika kata yang ditengahnya ada 2 konsonan yang berurutan, pemisahan dilakukan diantara kedua konsonan itu. Contoh : ban-dar, man-tan, ran-ting
  1. Untuk kata yang mendapatkan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk sehingga biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, maka pemisahan suku kata tersebut dilakukan untuk dipisahkan sebagai satu kesatuan. Contoh : mi-num-an
  2. Nama Diri

Untuk penulisan nama gunung, laut, jalan, sungai, tempat, dan lain-lain disesuaikan dengan Ejaan Yang Disempurnakan. Begitu juga untuk penulisan nama orang, badan hukum, kecuali apabila ada pertimbangan yang bersifat khusus.

  1. PENULISAN HURUF
  2. Huruf Besar (Huruf Kapital)
  3. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama pada awal kalimat. Contoh : Kamu harus belajar sungguh-sungguh
  4. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung. Contoh : Ibu bertanya, “Kapan Anton pergi?”
  5. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan hal-hal keagamaan. Contoh : Allah, Yang Maha Kuasa, Quran, Alkitab, Islam, Tuhan
  6. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan yang diikuti nama orang. Contoh : Haji Abu Bakar, Sultan Agung Tirtayasa, Nabi Ibrahim, Imam Maliki
  7. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang. Contoh : Presiden Soeharto, Profesor Soepomo, Gubernur Wahono
  8. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama nama orang. Contoh : Wage Rudolf Supartman, Agus Subekti, Siti Mariam
  9. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa. Contoh : Bangsa Indonesia, Bahasa Melayu, Suku Jawa
  10. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama nama khas dalam geografi. Contoh : Surabaya, Laut Jawa, Jalan Mojopahit, Danau Toba, Gunung Semeru
  11. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama nama hari, bulan, tahun, hari raya, dan peristiwa sejarah. Contoh : Hari Sabtu, Bulan September, Tahun Saka, Hari Lebaran, Perang Badar, Tahun Gajah
  12. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi. Contoh : Kerajaan Sriwijaya, Piagam Jakarta, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, Dewan Perwakilan Rakyat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
  13. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama semua kata untuk nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata partikel seperti : di, ke, dari, untuk dan yang, yang mana tidak terletak pada posisi awal. Contoh : Azab dan Sengsara, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
  14. Huruf besar (huruf kapital) dipakai dalam singkatan nama, gelar, dan sapaan. Contoh : Ir. Insinyur, Prof. Profesor, dr. Dokter, S.E Sarjana Ekonomi
  15. Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubunga kekerabatan yang dipakai sebagai kata ganti (sapaan). Contoh : Itu siapa, Bu?, Kapan Ayah datang?, Besok Adik dan Paman akan datang.
  16. Huruf Miring

Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk :

  1. Menulis nama buku, majalah, surat kabar, yang dikutip dalam karangan. Contoh : surat kabar Buana Minggu
  2. Menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata. Contoh : Pasal itu tidak memuat ketentuan hukum
  3. Menuliskan kata nma-nama ilmiah, atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan dengan ejaannya. Contoh : Zea mays nama lain dari tanaman jagung
  4. PENULISAN KATA
  5. Kata Dasar

Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu satuan. Contoh : Ayah pergi ke Bandung.

  1. Kata Turunan
  2. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulia serangkai dengan kata dasarnya.

Contoh : dipukul, melewati, bergemuruh

  1. Kalau bentuk dasarnya berupa gabungan kata dan sekaligus mendapat awalan dan akhiran, maka kata-kata itu ditulis serangkai.

Contoh : mempertanggungjawabkan, memberitahukan

  1. Kalau salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.

Contoh : Pancasila, mahasiswa, swadaya, prasangka

  1. Awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya kalau bentuk dasarnya berupa gabungan kat.

Contoh : mata pelajaran, bertanggung jawab

  1. Kata Ulang

Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.

Contoh : anak-anak, mata-mata, lauk-pauk, sayur-mayur

  1. Gabungan Kata
  2. Gabungan kata yang lazim disebut dengan kata majemuk, termasuk istilah khusus, bagian-bagiannya yang lazim di tulis terpisah.

Contoh : meja tulis

  1. Gabungan kata, termasuk istilah khusus yang mungkin menimbulkan salah baca, dapat diberi tanda hubung untuk menegaskan pertalian diantara unsur yang bersangkutan.

Contoh : anak-istri

  1. Gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata ditulis serangkai.

Contoh : apabila, bilamana, padahal, bagaimana

  1. Kata Depan

Kata depan (di, ke, dari) ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali dalam gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.

  1. Kata Si dan Sang (Kata Sandang)

Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Contoh : si Pengirim, sang Kancil

  1. Kata ganti ku, kau, mu, dan nya

Ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.

  1. Partikel
  2. Partikel lah, kah, tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
  3. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
  4. Partikel per yang berarti `mulai`, `demi`, dan `tiap` ditulis terpisah dan bagian-bagian kalimat yang mendampinginya.
  5. Angka dan Lambang Bilangan
  6. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Didalam tulisan lazim digunakan angka arab dan angka romawi. Pemakaiannya diatur lebih lanjut dalam pasal-pasal.
  7. Angka digunakan untuk menyatakan ukuran panjang, berta, isi, satuan waktu, dan nilai uang.
  8. Angka lazim dipakai untuk menandai nomor jalan, rumah, apartemen atau kamar pada alamat.
  9. Angka digunakan untuk menomori karangan atau bagiannya.
  10. Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan dengan bilangan utuh dan pecahan.
  11. Penulisan kata bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara, contoh : tingkat V, ke-5, kelima.
  12. Penulisan kata yang mendapat akhiran-an mengikuti cara, contoh : tahun 50-an.
  13. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian.
  14. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata, tidak terdapat lagi pada awal kalimat.
  15. Angka yang menunjukkan bilangan bulat yang besar dapat dieja sebagian supaya mudah dibaca.
  16. Kecuali dalam dokumen resmi, seperti akta dan kuitansi, bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks.
  17. Kalau bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.
  1. TANDA BACA
  2. Tanda titik ( . )
  3. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pernyataan atau seruan.
  4. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.
  5. Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum.
  6. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka, jam, menit, dan detik untuk menunjukkan waktu.
  7. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka, jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
  8. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukkan jumlah.
  9. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan yang terdiri dari huruf-huruf awal kata atau suku kata, atau gabungan keduanya, atau yang terdapat didalam akronim yang diterima masyarakat.
  10. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran timbangan, dan mata uang.
  11. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.
  12. Tanda titik tidak dipakai dibelakang alamat pengirim dan tanggal surat atau nama dan alamat penerima surat.
  13. Tanda titik tidak dipakai dibelakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
  14. Tanda Koma ( , )
  15. Tanda koma dipakai diantara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilang.
  16. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi, melainkan.
  17. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya.
  18. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mengiringi induk kalimat.
  19. Tanda koma dipakai dibelakang ungkapan atau kata penghubung anatara kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk didalamnya, oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
  20. Tanda koma dipakai dibelakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, yang terdapat pada awal kalimat.
  21. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
  22. Tanda koma dipakai diantara nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat, dan tanggal, nama dan tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
  23. Tanda koma dipakai diantara tempat penerbitan, nama penerbit, dan tahun penerbitan.
  24. Tanda koma dipakai menceraikanbagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
  25. Tanda koma dipakai diantara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya, untuk membedakan dari singkatan nama keluarga atau marga.
  26. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan dan diantara rupiah dan sen dalam bilangan.
  27. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi.
  28. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat apabila petikan langsung tersebut berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan mendahului bagian lain dalam kalimat itu.
  29. Tanda Titik Koma ( ; )
  30. Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
  31. Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara didalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
  32. Tanda Titik Dua ( : )
  33. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap apabila diikuti rangkaian.
  34. Tanda titik dua dipakai sesudah ungkapan atau kata yang memerlukan pemerian.
  35. Tanda titik dua dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
  36. Tanda titik dua tidak dipakai kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
  37. Tanda titik dua dipakai diantara jilid atau nomor dan halaman, diantara bab dan ayat dalam kitab-kitab suci, atau diantara judul dan anak judul suatu karangan.
  38. Tanda Tanya ( ? )
  39. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
  40. Tanda tanya dipakai diantara tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
  41. Tanda Seru ( ! )

Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah, atau yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat.

  1. Tanda Kurung ( )
  2. Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
  3. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang merinci satu seri keterangan. Angka atau huruf itu dapat juga diikuti oleh kurung tutup saja.
  4. Tanda kurung mengapit atau penjelasan yang bukan merupakan bagian integral dari pokok pembicaraan.
  5. Tanda Hubung ( – )
  6. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.
  7. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata dibelakangnya, atau akhiran dengan bagian kata didepannya pada pergantian baris.
  8. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
  9. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian ungkapan.
  10. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, ke- dengan angka, angka dengan –an, dan singkatan huruf kapital dengan imbuhan atau kata.
  11. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan bahasa asing.
  12. Tanda Petik Ganda ( “…..” )
  13. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. Kedua pasang tanda petik itu ditulis sama tinggi disebelah atas garis.
  14. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, dan bab buku, apabila dipakai dalam kalimat.
  15. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
  16. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang masih kurang dikenal atau kata yang punya arti khusus.
  17. Tanda petik penutup kalimat atas bagian kalimat yang ditempatkan dibelakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus.
  18. Tanda Pisah ( – )
  19. Tanda pisah dipakai untuk menyatakan suatu pikiran sampingan atau tambahan.
  20. Tanda pisah dipakai untuk menghimpun atau memperluas suatu rangkaian subyek sehingga menjadi lebih jelas.
  21. Tanda pisah dipakai diantara 2 bilangan berarti `sampai dengan`, jika dipakai antara 2 tempat (kota) berarti ke atau sampai.
  22. Tanda pisah dipakai untuk menyatakan suatu ringkasan atau suatu gelar.
  23. Tanda Petik Tunggal ( ` )
  24. Tanda petik tunggal untuk mengapit yang tersusun didalam petikan lain.
  25. Tanda petik tunggal untuk mengapit terjemahan (penjelasan) sebuah kata (ungkapan) asing.
  26. Tanda Ulang ( ….2 ) (angka 2 biasa)

Tanda ulang dapat dipakai dalam tulisan cepat dan notula untuk menyatakan pengulangan kata dasar.

  1. Tanda Penyingkat (apostrof) ( ` )

Tanda penyingkat berarti menunjukkan, menghilangkan bagian kata.

  1. Tanda Garis Miring ( / )
  2. Tanda garis miring dipakai dalam penomoran kode surat.
  3. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, per atau nomor alamat.
  4. Tanda Elipsis ( … )
  5. Tanda elipsis dipakai untuk menyatakan ujaran yang terputus-putus atau ujaran yang terputus tiba-tiba.
  6. Tanda elipsis dipakai untuk menyatakan bahwa dalam suatu kutipan ada bagian tertentu sesudah kalimat itu berakhir.
  7. Tanda elipsis dipakai untuk meminta kepada pembaca mengisi sendiri kelanjutan dari sebuah kalimat.
  8. Tanda Kurung Siku ( [ … ] )
  9. Tanda kurung siku dipakai untuk sesuatu diluar jalannya teks (yang tidak ada hubungan dengan teks).
  10. Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit keterangan (penjelasan) bagi suatu kalimat yang sudah ditempatkan dalam tanda kurung.