RESUME MATA KULIAH SOSIOLOGI II

RESUME SOSIOLOGI II

logo unesa 

Oleh :

 

NAMA  :  NASRIA IKA NITASARI

NIM       :  124254240

 

 

PRODI S1 PPKN 2012  C

JURUSAN PMPKN

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

2013

 

 

 

 

 

 

RESUME I

Teori Ilmu Pengetahuan Sosial dan Non Sosial,

Pengertian Paradigma, Serta Fungsi Teori

A.    Perbedaan Teori Ilmu Pengetahuan Sosial dan Teori Ilmu Pengetahuan Non Sosial

Suatu teori ilmu pengetahuan adalah suatu teori yang ada di dalamnya terdapat ilmu-ilmu dasar yang dapat dijadikan oleh manusia sebagai dasar atau bekal bagi seseorang untuk melakukan sesuatu yang ingin mempelajari sesuatu agar dapat mencapai suatu tujuan yang diharapkannya dalam menjalani kehidupannya. Teori ilmu pengetahuan dibagi menjadi dua yaitu teori imu pengetahuan sosial dan teori ilmu pengetahuan non sosial. Kedua teori ilmu pengetahuan itu mempunyai beberapa perbedaan. Teori ilmu pengetahuan sosial adalah suatu teori ilmu pengetahuan yang diajarkan untuk memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum kepada seseorang tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah dan gejala-gejala sosial yang terjadi di masyarakat dan di sekitarnya sehingga orang-orang itu dapat memiliki kepekaan sosial yang tinggi terhadap lingkungan sosialnya.

Selain mempelajari gejala-gejala sosial yang terjadi di masyarakat dan disekitarnya, teori ilmu pengetahuan sosial juga mempelajari tentang penelaahan dan pengkajian masalah serta gejala sosial yang terdapat dalam hubungan antara manusia dalam masyarakat, berbagai masalah kependudukan dalam hubungannya dengan perkembangan masyarakat dan kebudayaannya, dan juga dapat berupa hubungan antara warga negara dan negaranya serta melihat sistem kehidupan manusia di bumi dan tingkah laku sosialnya dalam upaya memenuhi hidupnya.

Tim IKIP Surabaya mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan sosial merupakan bidang studi yang menghormati, mempelajari, mengolah, dan membahas hal-hal yang berhubungan dengan masalah-masalah human relationship hingga benarbenar dapat dipahami dan diperoleh pemecahannya. Penyajiannya harus merupakan bentuk yang terpadu dari berbagai ilmu sosial yang telah terpilih, kemudian disederhanakan sesuai dengan kepentingan sekolah sekolah. Mulyono Tj. (1980:8) memberi batasan ilmu pengetahuan sosial bahwa ilmu pengetahuan sosial sebagai pendekatan interdisipliner dari pelajaran Ilmu-ilmu sosial.

Sedangkan teori ilmu pengetahuan non sosial adalah suatu teori ilmu pengetahuan yang diajarkan untuk memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum kepada seseorang tentang konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah dan gejala alam yang ada di alam semesta serta mengkaji obyeknya yang dapat berupa benda-benda alam yang ada di sekitarnya dengan hukum yang pasti dan umum. Tingkat kepastian ilmu pengetahuan non sosial ini relatif tinggi karena obyeknya yang konkrit.

Dalam kehidupan, teori ilmu pengetahuan non sosial menggunakan suatu metode ilmiah yaitu metode penelitian yang unsur-unsurnya meliputi merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data, dan menyimpulkan hasil penelitian. Pemanfaatan teori ilmu pengetahuan non sosial ini berguna untuk membantu perkembangan wawasan, penalaran, dan kepribadian seseorang agar memperoleh wawasan yang lebih luas yang khususnya tentang wawasan mengenai alam semesta yang ada di sekitar.

B.     Pengertian Paradigma

Paradigma dalam bahasa Inggris disebut paradigma, dan dalam bahasa Perancis disebut paradigme. Istilah tersebut berasal dari bahasa latin yaitu para dan deigma. Secara etimologis, para berarti di samping atau di sebelah, sedangkan deigma berarti memperlihatkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa paradigma adalah kumpulan tata nilai yang membentuk pola pikir seseorang sebagai titik tolak pandangannya serta cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berfikir, bersikap, dan bertingkah laku sehingga akan membentuk citra subjektif seseorang mengenai realita dan akhirnya akan menentukan bagaimana seseorang menanggapi realita itu.

Paradigma secara terminologis berarti dua. Pertama paradigma adalah konstruk berpikir berdasarkan pandangan yang menyeluruh dan konseptual terhadap suatu permasalah dengan menggunakan teori formal, eksperimentasi dan metode keilmuan yang terpercaya. Keduan paradigma adalah suatu pandangan terhadap dunia alam sekitarnya, yang merupakan persfektif umum, suatu cara untuk menjabarkan masalah-masalah dunia nyata yang kompleks.

Pengertian paradigma menurut George Ritzer (1980) adalah pandangan yang mendasar dari para ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya di pelajari oleh salah satu cabang atau disiplin ilmu pengetahuan. Ritzer mengungkapkan bahwa paradigma membantu merumuskan tentang apa yang harus di pelajari, persoalan-persoalan yang harus di jawab, bagaimana harus menjawabnya, serta aturan-aturan apa saja yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang harus dikumpulkan dalam menjawab persoalan-persoalan tersebut. Menurut pendapat Kuhn, ilmu pengetahuan ini terikat oleh ruang dan waktu, sehingga suatu paradigma hanya cocok dan sesuai untuk permasalahan yang ada pada saat tertentu saja.

C.    Fungsi Teori

Teori dalam penelitian diartikan sebagai representasi konseptual atau penjelasan mengenai sebuah fenomena. Teori dibangun oleh para ahli untuk mempresentasikan apa yang dipertimbangkan sebagai suatu yang dipandang penting dalam proses berlangsungnya suatu gejala atau realitas. Teori menjalankan fungsi-fungsi yang tidak terpisah satu dengan yang lainnya dan lebih merupakan overlapping antar fungsi.

Salah satu fungsi teori adalah memberikan penjelasan tentang gejala-gejala, baik bersifat alamiah maupun bersifat sosial. Pemenuhan fungsi itu tidak hanya dilakukan dengan mengemukakan, melukiskan gejala-gejala, melainkan disertai dengan keterangan tentang gejala tersebut baik dengan membandingkan, menghubungkan, memilah-milah, mengkombinasikannya. Hal ini menegaskan bahwa fungsi teori adalah menjelaskan keterkaitan antara kajian teoritis dengan hal-hal yang sifatnya empiris.

Dalam penjelasan terhadap gejala-gejala, dapat dilakukan melalui berbagai bentuk, seperti melalui penjelasan logis, penjelasan sebab akibat, penjelasan final (menerangkan sebuah proses berdasarkan tujuan yang ingin dicapai), penjelasan fungsional (cara kerja), penjelasan historis atau genensis (berdasarkan terjadinya), serta melalui penjelasan analog (dengan menganalogkan melalui struktur-struktur yang lebih dikenal). Khusus dalam kaitan dengan penelitian atau pengembangan ilmu, fungsi teori adalah sebagai landasan dalam merumuskan hipotesis.

Teori adalah kebenaran yang tidak terbantahkan. Tetapi hal ini berlaku sebelum muncul teori baru yang dapat menumbangkan teori tersebut. Keyakinan terhadap kebenaran toeri ini menjadikan fungsi toeri adalah menjelaskan kebenaran dalam menerangkan suatu gejala yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, karena didukung oleh fakta-fakta empiris. Karena teori telah dibangun dan diterima oleh kalangan ilmuwan dalam bidangnya, maka teori akan melaksanakan berbagai fungsinya. Fungsi teori dalam hal ini untuk mengantar sesorang kepada kepeduliannya untuk mengamati hubungan yang terjadi, membantu dalam mengumpulkan dan menyusun data yang relevan, menjelaskan kebenaran operasional, penggunaan istilah-istiah tertentu secara konsisten, dalam membangun metode-metode baru sesuai dengan situasi yang terjadi atau dalam mengevaluasi metode-metode yang telah dibangun sebelumnya, serta dalam membantu menjelaskan perilaku yang terjadi pada individu dan bagaimana cara-cara mengatasinya.

Menurut Stephen Little John dalam buku Theories On Human Communication (1995), fungsi teori ada sembilan fungsi yaitu mengorganisasikan dan menyederhanakan pengetahuan, memfokuskan perhatian pada beberapa variabel dan hubungan-hubungan diantaranya, mengklarifikasi apa yang diamati sehingga pengamat faham dan dapat menginterpretasikan, membantu pengamatan melalui pemfokusan, memprediksikan terutama mengenai hasil dan pengaruh data, heuristik dimana teori yang baik akan dapat menggerakkan penelitian, komunikatif terutama untuk mempublikasikan pengamatan dan spekulasi para investigator, mengontrol sebagai sarana untuk menilai efektif tidaknya suatu tindakan, serta fungsi terakhir yaitu generatif dalam arti menggerakkan cara-cara baru.

 

RESUME II

Solidaritas Sosial Menurut Emile Durkheim

Dan

Kelompok Sosial Menurut Ferdinand Tonnies

 

 A.    Solidaritas Mekanik dan Solidaritas Organik Menurut Emile Durkheim

Emile Durkheim (1859-1917), profesor Sosiologi pertama dari Universitas Paris, mengambil pendekatan kolektivitis terhadap pemahaman mengenai masyarakat yang melibatkan berbagai bentuk solidaritas. Solidaritas dalam berbagai lapisan masyarakat bekerja seperti “perekat sosial” yang berupa nilai nilai, adat, istiadat, dan kepercayaan yang dianut bersama oleh anggota masyarakat dalam ikatan kolektif. Durkheim memisahkan masa sebelum industri dan masa sesudah industri. Masing-masing periode waktu memiliki ciri yang sangat berbeda. Durkheim  menyebut dalam masyarakat tradisional, pertimbangan moral (ikatan keluarga, ikatan agama) adalah dasar utama membangun solidaritas. Sementara dalam masyarakat modern, spesialisasi kerja yang  utama. Menurut Durkheim, dengan cara itu masyarakat akan lebih tertata dan  efisien.

Dalam analisis Durkheim, diskusi tentang solidaritas dikaitkan dengan persoalan sanksi yang diberikan kepada warga yang melanggar peraturan dalam masyarakat. Bagi Durkhem indikator yang paling jelas untuk solidaritas mekanik adalah ruang lingkup dan kerasnya hukum-hukum dalam masyarakat yang bersifat menekan (represif). Hukuman represif tersebut sebagai bentuk pelanggaran moral oleh individu maupun kelompok terhadap keteraturan sosial (social order). Sanksi dalam masyarakat dengan solidaritas mekanik tidak dimaksudkan sebagi suatu proses yang rasional. Hukum represif dalam masyarakat mekanik tidak merupakan petimbangan yang diberikan yang sesuai dengan bentuk kejahatannya. Sanksi atau hukuman yang dikenakan kepada orang yang menyimpang dari keteraturan merupakan bentuk atau wujud kemarahan kolektif masyarakat terhadap tindakan individu tersebut.

Durkheim membagi solidaritas menjadi dua, yaitu solidaritas mekanis dan solidaritas organis. Solidaritas mekanis terjadi di masyarakat desa yang masih belum begitu terpengaruh oleh hal-hal yang bersifat modern. Karena masyarakat desa hampir semua tanggung jawab dan aktivitasnya bersifat homogen. Jumlah warganya juga belum begitu banyak, sehingga interaksi antar warga satu dengan warga yang lainnya cukup intens dan saling kenal mengenal. Kepercayaan yang sama, perasaan yang sama, dan tingkah laku yang sama mempersatukan orang menjadi masyarakat.

Solidaritas mekanik mempunyai ciri utama bahwa perbedaan di antara para individunya sangat kecil. Mereka sebagai anggota dari kolekivitas yang sama, memiliki kemiripan karena merasakan emosi yang sama, mendambakan nilai-nilai yang sama dan mensucikan perkara-perkara yang sama. Masyarakat di situ saling terlibat (coherent) karena para individu tidak tahu atau belumlah dilanda oleh diferensiasi sosial. Contoh dari masyarakat solidaritas mekanik adalah masyarakat berburu dan mengumpulkan, yang kecil dan cukup sederhana untuk menjaga kesamaan di antara individu-individu kelompok.

Dalam masyarakat solidaritas organis, kompetisi yang kurang dan diferensiasi yang tinggi memungkinkan orang bekerja sama dan sama-sama ditopang oleh sumber daya yang sama. Selain itu, masyarakat yang dibentuk solidaritas organis mengarah pada bentuk yang lebih solid dan lebih individual daripada masyarakat yang dibentuk solidaritas mekanis (Rueschemeyer, 1994). Masyarakat dengan solidaritas organis dibentuk oleh hukum restitutif, dimana seseorang yang melanggar mesti melakukan restitusi untuk kejahatan mereka.

Pada solidaritas organis terdapat consensus mufakat serta kesatuan keterlibatan pada kolektivitas. Ini sebagai ekpresi dan diferensiasi tadi. Durkheim menyebut solidatitasnya yang dihasilkan oleh diferensiasi itu organis, karena ia mengasosiasikannya dengan organism hidup yang bagian-bagianya tidak sama. Misalnya jantung, paru-paru dan otak manusia, masing-masing memiliki fungsi yang berbeda-beda. Contoh dari solidaritas masyarakat organik adalah institusi dalam masyarakat industri yang saling terkait di bawah sistem hukum dari pemerintah pusat. Setiap lembaga, seperti perusahaan, pernikahan, dan keluarga, organisasi nirlaba, dan kantor politik, terpisah dan berbeda. Namun, semua lembaga berada di bawah aturan hukum yang membuat mereka tetap berfungsi dalam harmoni.

Perbedaan (ciri-ciri) solidaritas mekanik dan solidaritas organik :

SOLIDARITAS MEKANIK

SOLIDARITAS ORGANIK

  1. Pembagian kerja rendah
  2. Kesadaran kolektif kuat
  3. Hukum represif dominan
  4. Individualitas rendah
  5. Konsensus terhadap pola normative penting
  6. Keterlibatan komunitas dalam menghukum orang yang menyimpang.
  7. Saling ketergantungan rendah
  8. Bersifat tradisional pedesaan (primitif)
  9. Terjadi di masyarakat sederhana
  10. Kerja tidak terorganisir
  11. Beban lebih berat
  12. Tidak bergantung dengan orang lain

 

  1. Pembagian kerja tinggi
  2. Kesadaran kolektif lemah
  3. Hukum restitutif dominan
  4. Individualis tinggi
  5. Konsensus pada nilai-nilai umum penting
  6. Badan-badan kontrol social yang menghukum orang yang menyimpang
  7. Saling ketergantungan tinggi
  8. Bersifat industrialis perkotaan
  9. Terjadi di masyarakat yang kompleks
  10. Kerja terorganisir dengan baik
  11. Beban ringan
  12. Banyak saling bergantungan dengan yang lain.

 

B.     Kelompok Sosial Menurut Ferdinand Tonnies

Setiap kelompok (himpunan) manusia tidak dapat dikatakan sebagai kelompok sosial. Dalam hidup sehari-hari kita dapat melihat orang-orang yang hidup bersama atau membentuk kelompok seperti di rumah sakit, di sekolah, di kampus, di kantor, dan lain-lain. Pada umumnya dapat ditemukan di tempat-tempat umum. Dari kelompok-kelompok ini ada yang bersifat formal maupun nonformal. Di antara kelompok-kelompok yang terbentuk akan membentuk interaksi (hubungan timbal balik) antara satu dengan yang lainnya.  Dari kelompok-kelompok ini, ada yang disebut kelompok sosial dan bukan kelompok sosial.

Kelompok sosial terbentuk karena manusia memerlukan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kelompok sosial (social group) merupakan suatu himpunan atau suatu kesatuan manusia yang hidup bersama, yang disebabkan oleh adanya hubungan antara mereka yang menyangkut hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi dan adanya kesadaran untuk saling tolong menolong. Ferdinand tonnies adalah salah satu ahli sosiologi jerman yang turut membangun institusi terbesar yang sangat berperan dalam sosiologi Jerman dalam memperkenalkan konsep kelompok sosial.

Ferdinand tonnies lahir pada tahun 1855 di Schleswig-Holstein (Jerman Timur) yang berada di Tanjung Eiderstedt, masih dalam kedaulatan Denmark. Ia belajar di universitas Tubingen di Husum dimana ia menjadi tertarik menjadi novelis dan penyair. Pada tahun 1877 dia menerima gelar doctor dalam sastra klasik di universitass Tubingen, setelah itu Tonnies beralih ke filsafat, sejarah, biologi, psikologi, ekonomi, dan mulai mempelajari sosiologi. Empat tahun berikutnya pada tahun 1881 dia memulai karirnya dengan menjadi dosen swasta di Universitas Kiel, ia mengajar filsafat, ekonomi, statistic, sementara banyak dari hasil penelitiannya ia publikasikan di media massa. Oleh karena itu enam tahun kemudian, pada tahun 1887 ia menerbitkan buku paling terkenal mengenai Gemeinschaft dan Gesellschaft (komunitas dan masyarakat).

Distingsi Tonnies yang terkenal adalah masyarakat Gemeinschaft dan masyarakat Gesellschaft. Bagi Tonnies, masyarakat Gemeinschaft mencerminkan satu kemauan yang bersifat alamiah dan memperlihatkan satu struktur sosial yang ditandai oleh kesatuan organik, tradisi yang kuat, hubungan yang menyeluruh dan memperlihatkan spontanitas dalam perilaku. Sebaliknya masyarakat Gesellschaft ditandai oleh kemauan yang bersifat rasional, yang lebih direncanakan, serta mengutamakan hubungan sosial yang didasarkan pada spesialisasi tertentu.

Menurut Ferdinand Tonnies, beliau mengklasifikasikan kelompok sosial menurut erat longgarnya ikatan antar anggotanya menjadi dua kategori yaitu gemeinschaft (paguyuban) dan gesellschaft (patembayan).

  1. 1.      Gemeinschaft (paguyuban)

Paguyuban adalah jenis kelompok sosial dengan anggota-anggotanya memiliki ikatan batin yang murni, bersifat alamiah, dan kekal. Paguyuban bersifat nyata dan organis. Dalam kelompok sosial ini, pada umumnya beranggotakan kumpulan anggota keluarga, keluarga-keluarga yang berada pada satu lingkungan (tempat), dan bisa berasal dari kepercayaan (agama) yang sama. Bentuk paguyuban dapat ditemui didalam keluarga, kelompok kerabatan, rukun tetangga.

Ciri-ciri kelompok paguyuban adalah adanya hubungan perasaan kasih sayang, adanya keinginan untuk meningkatkan kebersamaan, tidak suka menonjolkan diri, selalu memegang teguh adat lama yang konservatif, terdapat ikatan batin yang kuat antar anggota, hubungan antar anggota bersifat informal. Sedangkan menurut Ferdinand tonnies, ciri-ciri pokok paguyuban adalah intimate (hubungan menyeluruh yang sangat erat sekali), private (hubungan yang bersifat pribadi), exclusive (hubungan tersebut hanya untuk orang-orang tertentu). Contoh kelompok social gemeinschaft seperti ikatan keluarga suku Tengger, ikatan keluarga-keluarga Flores di Palembang, dan perkumpulan keluarga-keluarga RT 28, serta kelurahan 20 Ilir Palembang.

Tonnies membedakan Gemeinschaft (paguyuban ) menjadi 3 jenis, yaitu:

  1. Gemeinschaft of blood (paguyuban karena ikatan darah)

Adalah gemeinschaft yang terbentuk dan mendasarkan diri pada ikatan darah atau keturunan. Kelompok ini memiliki solidaritas yang tinggi karena adanya keyakinan tentang kesamaan nenek moyang. Contohnya: keluarga, kelompok kekerabatan, masyarakat-masyarakat daerah.

  1. Gemeinschaft of place (paguyuban karena tempat)

Adalah gemeinschaft yang terbentuk dan mendasarkan diri pada lokalitas atau tempat tinggal yang saling berdekatan sehingga dimungkinkan untuk dapat saling tolong menolong. Contohnya: RT (Rukun Tetangga), RW (Rukun Warga), arisan.

  1. Gemeinschaft of mind (paguyuban karena ideologi)

Adalah gemeinschaft yang terbentuk dan mendasarkan diri pada ideologi atau pikiran yang sama. Contohnya: partai politik berdasarkan agama dan persahabatan.

  1. 2.      Gesellschaft (patembayan)

Patembayan adalah jenis kelompok sosial dengan anggota-anggotanya memiliki ikatan lahir (pembentukkan) yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek dan bersifat mekanis. Ciri-ciri patembayan adalah hubungan antar anggota bersifat formal, memiliki orientasi ekonomi dan tidak kekal, memperhitungkan nilai guna (utilitarian), dan lebih didasarkan pada kenyataan sosial. Contoh dari patembayan adalah ikatan antar pedagang, organisasi dalam suatu industri, susunan pengurus himpunan mahasiswa pendidikan PPKn.

Perbedaan ciri-ciri hubungan paguyuban dan patembayan adalah:

Ciri

Gemeinschaft (komunitas)

Gesellschaft

(masyarakat modern)

Hubungan social Ikatan Keluarga Pertukaran ekonomi
Institusi khas Keluarga Negara dan ekonomi
Citra tentang individu Ke-dirian Orang, warga
Bentuk kekayaan Tanah Uang
Tipe hokum Hukum keluarga Hukum kontrak
Institusi social Desa Kota
Kontrol social Adat dan agama Hukum dan pendapat umum

RESUME III

Fungsionalisme Struktural Menurut Talcot Parson dan Robert K Merton

 A.    Fungsionalisme Struktural Menurut Talcot Parson

Talcot Parson lahir di Colorado Spring tahun 1902 dalam keluarga religious dan intelektualis, ayahnya pendeta sekaligus profesor yang kemudian menjadi rektor di PT kecil. Tahun 1924 mendapat gelar Sarjana Muda pada Universitas Amherst dan menyiapkan disertasi di London School of Economics. Parson mengajar di Heidelberg dan Harvard pada tahun 1927. Tahun 1937 ia menerbitkan The Structure of Social Action dan menjadi Kajur Sosiologi Harvard tahun 1944 serta tahun 1946 mendirikan Departemen Hubungan Sosial. Dengan diterbitkannya The Social System tahun 1951 ia menjadi tokoh dominan sosiologi Amerika tahun 1960-an ia mendapat serangan kaum sayap kiri radikal karena dianggap terlalu konservatif dan teorinya sulit dipahami, meninggal tahun 1979.

Menurut Persons fungsi adalah kumpulan kegiatan yang ditujukan ke arah pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan sistem. Asumsi dasar dari Teori Fungsionalisme Struktural, yaitu  bahwa masyarakat terintegrasi atas dasar kesepakatan dari para anggotanya akan nilai-nilai kemasyarakatan tertentu yang mempunyai kemampuan mengatasi perbedaan-perbedaan sehingga masyarakat tersebut dipandang sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi dalam suatu keseimbangan.

Teori fungsionalisme structural Parson diawali dengan empat skema penting mengenai fungsi untuk semua sistem tindakan, skema tersebut dikenal dengan sebutan skema AGIL. Melalui skema AGIL ini kemudian dikembangkan pemikiran mengenai struktur dan sistem. Menurut Talcot parson, fungsi adalah kumpulan kegiatan yang ditujukan kearah pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan sistem. Menurut parson ada empat fungsi penting yang mutlak dibutuhkan bagi semua sistem sosial, meliputi adaptasi (adaptation atau A), pencapaian tujuan (goal attainment atau G), integrasi (integration atau I), dan pemeliharaan pola (latency atau L). empat fungsi tersebut wajib dimiliki oleh semua system agar tetap bertahan (survive).

1. Adaptation (adaptasi)

Adaptasi dilaksanakan oleh organisme perilaku dengan cara melaksanakan fungsi adaptasi dengan cara menyesuaikan diri dan mengubah lingkungan eksternal.. Sebuah sistim harus menanggulangi situasi eksternal yang gawat. Sistem harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan menyesuaikan lingkungan itu dengan kebutuhannya.

2. Goal attainment (pencapaian tujuan)

Pencapaian tujuan sangat penting, dimana sistem harus bisa mendefinisikan dan mencapai tujuan utamanya. Goal attainment difungsikan oleh sistem kepribadian dengan menetapkan tujuan sistem dan memobilisasi sumber daya untuk mencapainya.

3. Integration (integrasi)

Integration adalah sebuah sistem yang harus mampu mengatur dan menjaga antar hubungan bagian-bagian yang menjadi komponennya, serta mengatur dan mengelola ketiga fungsi (AGL). Fungsi integrasi dilakukan oleh sistem social.

4. Latency (pemeliharaan pola)

Laten berarti sistem harus mampu berfungsi sebagai pemelihara pola, sebuah sistem harus memelihara dan memperbaiki motivasi pola-pola individu dan Kultural. Laten difungsikan sistem kultural.

Agar dapat tetap bertahan, maka suatu sistem harus mempunyai keempat fungsi ini. Parson mendesain skema AGIL ini untuk digunakan di semua tingkat dalam sistim teorinya, yang aplikasinya adalah:

  1. Organisme perilaku adalah sistem tindakan yang melaksanakan fungsi adaptasi dengan menyesuaikan diri dengan dan mengubah lingkungan eksternal.
  2. Sistem kepribadian melaksanakan fungsi pencapaian tujuan dengan menetapkan tujuan sistim dan memobilisasi sumber daya yang ada untuk mencapainya.
  3. Sistem sosial menanggulangi fungsi integrasi dengan mengendalikan bagian-bagian yang menjadi komponennya.
  4. Sistem kultural melaksanakan fungsi pemeliharaan pola dengan menyediakan aktor seperangkat norma dan nilai yang memotivasi mereka untuk bertindak.

Struktur Sistem Tindakan Umum

L                                                                                                                              I

SISTEM KULTURAL

SISTEM SOSIAL

ORGANISME PERILAKU

SISTEM KEPRIBADIAN

A                                                                                                                             G

Skema tindakan Parson

Informasi tinggi          1. Lingungan tindakan:                       Informasi tinggi

(control)                          reaksi akhir                                      (control)

2. sistem kultural

3. sistem sosial

4. sistem kepribadian

5. organisme perilaku

Hierarki faktor yang    6. Lingkungan tindakan:                     Hierarki faktor yang

mengkondisikan              lingkungan fisik-organis                  mengkondisikan

 

Energi tinggi                                                                           Energi tinggi

(control)                                                                                  (control)

Inti pemikiran Parson ditemukan dalam empat sistem tindakan yang diciptakannya. Tingkatan yang paling rendah dalam sistim tindakan ini adalah lingkunagn fisik dan organisme, meliputi aspek-aspek tubuh manusia, anatomi, dan fisiologisnya. Sedang tingkat yang paling tinggi dalam sistem tindakan adalah realitas terakhir yang mungkin dapat berupa kebimbangan, ketidakpastian, kegelisahan, dan tragedi kehidupan sosial yang menantang organisasi sosial. Di antara dua lingkungan tindakan itu terdapat empat sistem yang diciptakan oleh Parson meliputi organisme perilaku, sistem kepribadian, sistem sosial, dan sistem kultural. Semua pemikiran Parson tentang sistem tindakan didasarkan pada asumsi-asumsi yaitu:

  1. Sistem memiliki properti keteraturan dan bagian-bagian yang saling bergantung.
  2. Sistem cenderung bergerak ke arah mempertahankan keteraturan diri atau keseimbangan.
  3. Sistem mungkin statis atau bergerak dalam proses perubahan yang teratur.
  4. Sifat dasar bagian dari suatu sistem berpengaruh terhadap bentuk bagian-bagian lain.
  5. Sistem memelihara batas-batas dengan lingkunganya.
  6. Alokasi dari integrasi merupakan dua proses fundamental yang diperlukan untuk memelihara keseimbangan sistim.
  7. Sistem cenderung menuju ke arah pemeliharaan keseimbangan diri yang meliputi pemeliharaan batas dan pemeliharaan hubungan antara bagian-bagian dengan keseluruhan sistem, mengendalikan lingkungan yang berbeda-beda dan mengendalikan kecenderungan untuk merubah sistem dari dalam.

Dari asumsi-asumsi ini Parson menempatkan analisis struktur keteraturan masyarakat pada prioritas utama. Keempat sistem tindakan ini tidak muncul dalam kehidupan nyata, tetapi lebih merupakan peralatan analisis untuk menganalisis kehidupan nyata.

 B.     Fungsionalisme Struktural Menurut Robert K Merton

Robert K.Merton adalah salah seorang tokoh sosiologi kontemporer yang hidup pada awal 20, dianggap sebagai pendukung model fungsionalisme stuktural yang paling moderat dewasa ini. Analisis fungsional Mertonmerupakan hasil perkembangan pengetahuannya yang menyeluruh menyangkutpara ahli teori-teori sosiologi klasik. Robert K.Merton mengakui bahwa pendekatan ini telah membawa kemajuan bagi pengetahuan sosiologis, ia juga mengakui bahwa fungsionalisme struktural mungkin tidak akan mampu mengatasi seluruh masalah sosial.

Model analisis fungsional Merton merupakan hasil perkembangan pengetahuannya yang menyeluruh tentang ahli-ahli teori klasik. Kemudian Merton mengamati beberapa hal dalam organisasi birokrasi modernnya yaitu:

  1. Birokrasi merupakan struktur sosial yang terorganisir secara rasional dan formal
  2. Ia meliputi suatu pola kegiatan yang memiliki batas-batas yang jelas
  3. Kegiatan-kegiatan tersebut secara ideal berhubungan dengan tujuan-tujuan organisasi
  4. Jabatan-jabatan dalam organisasi diintegrasikan kedalam keseluruhan struktur birokrasi
  5. Status-status dalam birokrasi tersusun kedalam susunan yang bersifat hirarkis
  6. Berbagai kewajiban serta hak-hak d dalam birokrasi dibatasi oleh aturan-aturan yang terbatas serta terperinci
  7. Otoritas pada jabatan, bukan pada orang
  8. Hubungan-hubungan antara orang-orang diabtasi secara formal.

Model struktural fungsional Merton mengkritik apa yang dilihatnya sebagai tiga postulat dasar analisis fungsional seperti yang dikembangkan oleh antropolog Malinowsi dan Radcliffe Brown.

1.      Postulat yang pertama adalah kesatuan fungsional masyarakat

Postulat ini menyatakan bahwa seluruh kepercayaan dan praktik sosial budaya standar bersifat fungsional bagi masyarakat secara keseluruhan maupun bagi individu dalam masyarakat. Pandangan ini mengandung arti bahwa berbagai sistem sosial pasti menunjukkan tingginya level integrasi. Namun, Merton berpandangan bahwa meskipun hal ini berlaku bagi masyarakat kecil dan primitif, generalisasi ini dapat diperluas pada masyarakat yang lebih besar dan lebih kompleks.

2.      Postulat yang kedua adalah fungsionalisme universal

Semua bentuk dan struktur sosial kultural memiliki fungsi positif. Merton berpendapat bahwa ini bertentangan dengan apa yang ditemukan didunia nyata. Jelas bahwa tidak setiap struktur, adat istiadat, gagasan, keyakinan dan lain sebagainya memiliki fungsi positif. Contoh, nasionalisme buta bisa jadi sangat disfungsional di dunia yang tengah mengembangkan persenjataan nuklir.

3.      Postulat yang ketiga adalah indispensabilitas

Argumennya adalah bahwa seluruh aspek standar masyarakat tidak hanya memiliki fungsi positif namun juga merepresentasikan bagian-bagian tak terpisahkan dari keseluruhan. Postulat ini mengarah pada gagasan bahwa seluruh struktur dan fungsi secara fungsional diperlukan oleh masyarakat. Tidak ada struktur dan fungsi yang dapat bekerja sebaik yang sekarang ada di dalam masyarakat. Kritik Merton, mengikuti Parsons adalah bahwa paling tidak kita harus bersedia mengakui bahwa ada berbagai alternatif struktural dan fungsional di dalam masyarakat.

Pendapat Merton adalah bahwa seluruh postulat fungsional tersebut bersandar pada pernyataan nonempiris yang didasarkan pada sistem teoretis abstrak. Minimal, menjadi tanggung jawab sosiolog untuk menelaah setiap postulat tersebut menjadi empiris. Keyakinan Merton adalah bahwa uji empiris, bukan pernyataan teoretis, adalah sesuatu yang krusial bagi analisis fungsional. Inilah yang mendorongnya untuk mengembangkan “paradigma” analisis fungsional sebagai panduan ke arah pengintegrasian teori dan riset.

Dari sudut pandang tersebut Merton menjelaskan bahwa analisis struktural fungsional memusatkan perhatian pada kelompok, organisasi, masyarakat dan kebudayaan. Ia menyatakan bahwa objek apa pun yang dapat dianalisis secara struktural fungsional harus “merepresentasikan unsur-unsur standar (yaitu, yang terpola dan berulang)”(Merton, 1949/1968:104). Ia menyebutkan hal tersebut sebagai “peran sosial, pola-pola institusional, proses sosial, pola-pola kultural, emosi yang terpola secara kultural, norma sosial, organisasi kelompok, struktur sosial, alat kontrol sosial dan lain sebagainya”(Merton, 1949/1968: 104).

Pada fungsionalis struktural awal cenderung lebih memusatkan perhatiannya pada fungsi-fungsi sebuah struktur atau institusi. Namun, menurut Merton, para analisis awal itu cenderung mencampuradukkan motif-motif subjektif individu dengan fungsi-fungsi struktur atau institusi. Fokus pada fungsionalis struktural harus diarahkan pada fungsi-fungsi sosial ketimbang pada motif individu. Fungsi menurut Merton, didefinisikan sebagai “konsekuensi-konsekuensi yang disadari dan yang menciptakan adaptasi atau penyesuaian suatu sistem”(Merton, 1949/1968: 105).

Untuk memperbaiki kelemahan serius pada fungsionalisme struktur awal ini, Merton mengembangkan gagasan tentang disfungsi. Ketika struktur atau institusi dapat memberikan kontribusi pada terpeliharanya bagian lain sistem sosial, mereka pun dapat mengandung konsekuensi negatif bagi bagian-bagian lain tersebut. Perbudakan di Amerika Serikat belahan selatan jelas mengandung konsekuensi positif bagi orang kulit putih di belahan selatan, seperti tersedianya tenaga kerja murah, dukungan bagi ekonomi kapas dan status sosial. Ia pun mengandung disfungsi, misalnya, membuat warga selatan terlalu bergantung pada ekonomi pertanian dan tidak siap menghadapi industrilisasi.

Merton pun mengemukakan gagasan tentangnonfungsi, yang ia definisikan sebagai konsekuensi yang tidak relevan bagi sistem tersebut. Termasuk didalamnya adalah bentuk-bentuk sosial yang “masih bertahan” sejak masa awal sejarah. Meskipun bentuk-bentuk tersebut mungkin mengandung konsekuensi negatif atau positif di masa lalu, tidak ada efek signifikan yang mereka berikan pada masyarakat sekarang. Contoh gerakan pengekangan diri perempuan kristen.

Apakah fungsi positif lebih banyak daripada disfungsi atau sebaliknya. Untuk membantu menjawab pertanyaan itu, merton mengembangkan konsep “keseimbangan bersih” (net balance). Kegunaan konsep Merton berasal dari caranya mengarahkan perhatian sosiolog ke pertanyaan yang relatif penting.

Merton juga memperkenalkan konsep fungsi manifesdan fungsi laten. Secara sederhana, fungsi manifes adalah yang dikehendaki, sementara fungsi laten adalah yang tidak dikehendaki. Contoh fungsi manifes perbudakan, meningkatkan produktivitas ekonomi kawasan selatan, namun ia memiliki fungsi laten yaitu menghasilkan kelas budak yang berfungsi meningkatkan status sosial warga kulit putih di selatan, kaya atau miskin. Gagasan ini terkait dengan konsep merton yang lain – konsekuensi yang tidak terantisipasi.

Merton menjelaskan bahwa konsekuensi-konsekuensi yang tidak diantisipasi dan fungsi-fungsi laten tidaklah sama. Fungsi laten adalah suatu tipe konsekuensi yang tidak terantisipasi, sesuatu yang fungsional bagi sistem yang dirancang. Namun, ada dua jenis konsekuensi tak terantisipasi lain : “hal-hal disfungsional bagi sistem yang telah ada dan itu semua mencakup disfungsi laten,” dan “hal-hal tidak relevan dengan sistem yang mereka pengaruhi secara fungsional atau disfungional…konsekuensi-konsekuensi nonfungsional” (Merton, 1949/1968: 105).

Sebagai klarisifikasi lebih lanjut atas teori fungsional, Merton menunjukkan bahwa suatu struktur bisa jadi disfungsional bagi sistem secara keseluruhan namun mungkin saja terus ada. Orang dapat mengambil contoh bahwa diskriminasi terhadap kulit hitam, perempuan dan kelompok minoritas lain adalah sesuatu yang disfungsional bagi masyarakat Amerika, namun itu semua terus ada karena fungsional bagi sebagian sistem sosial, misalnya : diskriminasi terhadap kaum perempuan biasanya bersifat fungsional bagi laki-laki.

RESUME IV

Perbandingan Tiga Perspektif Paradigma

(Paradigma Fakta Sosial, Perilaku Sosial, dan Definisi Sosial)

 

George Ritzer dalam Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda menuliskan bahwa paradigma adalah pandangan yang mendasar dari ilmuawan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh satu cabang ilmu pengetahuan. Menurut Ritzer, sosiologi merupakan suatu ilmu yang berparadigma majemuk karena mempunyai tiga paradigma yaitu paradigma Fakta Sosial, Paradigma Defenisi Sosial dan Paradigma Perilaku Sosial.

1.      PARADIGMA FAKTA SOSIAL

a.      Exemplar

Exemplar paradigma fakta sosial ini diambil dari kedua karya Durkheim. Paradigma Fakta Sosial bersumber dari Durkheim yang melihat sosiologi sebagai ilmu yang sedang berupaya memperoleh kedudukan sebagai cabang ilmu sosial yang berdiri sendiri terutama pengaruh dari ilmu filsafat dan psikologi. Durkheim meletakkan landasan paradigma fakta sosial melalui karyanya The Rules of Sociological Method (1895) dan Sucide (1897). Untuk memisahkan sosiologi dari pengaruh filsafat maka Durkheim membangun suatu konsep yakni fakta sosial. Fakta sosial dinyatakan sebagai sesuatu yang berbeda dengan ide, akan tetapi untuk memahaminya diperlukan penyusunan data riil diluar pemikiran manusia. Artinya fakta sosial harus dipelajari didialam dunia nyata.

Fakta sosial merupakan cara bertindak, berpikir dan berperasaan yang berada diluar individu dan mempunyai kekuatan memaksa yang mengendalikan. Fakta sosial menurut Durkheim terdiri atas dua yaitu dalam bentuk material dan non material.  Fakta Sosial yang berbentuk material lebih mudah difahami, misalnya norma hukum jelas merupakan barang sesuatu yang nyata ada dan berpengaruh terhadap kehidupan individu, begitu pula arsitektur. Dalam paradigma ini pokok persoalan yang menjadi pusat perhatian adalah fakta-fakta sosial yang pada garis besarnya terdiri atas dua tipe, masing-masing struktur sosial (social structure) dan pranata sosial (social institution).

b.      Pokok Persoalan

Pokok persoalan yang harus menjadi pusat perhatian penyelidikan sosiologi menurut paradigma ini adalah : fakta-fakta sosial. Secara garis besarnya fakta sosial terdiri atas dua tipe. Masing-masing adalah struktur sosial (sosial institution) dan pranata sosial. Sifat dasar serta antar hubungan dari fakta sosial inilah yang menjadi sasaran penelitian sosiologi menurut paradigma fakta sosial.

Menurut Peter Blau ada dua tipe dasar dari fakta sosial yaitu nilai-nilai umum (common values) dan norma yang terujud dalam kebudayaan atau dalam subculture. Norma dan pola nilai ini  biasa disebut institutopm atau disini diartikan dengan pranata. Sedangkan jaringan hubungan sosial dimana interaksi sosial berproses dan menjadi terorganisir serta melalui mana posisi-posisi sosial dari individu dan sub kelompok dapat dibedakanm sering diartikan sebagai struktur sosial. Struktur sosial dan pranata sosial inilah yang menjadi pokok persoalan penyelidikan sosiologi menurut paradigma fakta sosial. Teoritisi fakta sosial memusatkan perhatian pada apa yang disebut durkheim fakta sosial atau struktur dan institusi sosial berskala luas. Mereka yang menganut paradigma ini tak haya memusatkan perhatian pada fenomena fakta sosial ini tetapi juga pada pengaruhnya terhadap pikiran dan tindakan individu.

C.    Teori-Teori

Paradigma ini mencakup sejumlah perspektif teoritis. Teoritisi struktural fungsional cenderung melihat fakta sosial serta kerapian antar hubungan dan keteraturannya dengan yang dipertahankan oleh konsensus umum. Teoritisi konflik cenderung menekankan kekacauan antara fakta sosial dan gagasan mengenai keteraturan dipertahankan melalui kekuatan yang memaksa dalam masyarakat. Ada 4 varian teori yang tergabung kedalam paradigma fakta sosial, adalah : Teori Fungsionalisme Struktural, Teori Konflik, Teori Sistem dan Teori Sosiologi Makro, dimana dua teori yang paling dominan didalamnya yakni teori fungsionalisme struktural dan teori konflik.

D.    Metode Penelitian

Penganut paradigma fakta sosial cenderung menggunakan metode kuesioner dan interview dalam penelitian empiris. Metode observasi ternyata tidak cocok untuk studi fakta sosial karena sebagian besar dari fakta sosial merupakan sesuatu yang dianggap sebagai barang sesuatu. Selain itu metode observasi dinilai terlalu sempit dan kasar untuk tujuan penelitian fakta sosial. Metode eksperimen juga ditolak pemakaiannya alasannya karena terlalu sempit untuk dapat meneliti fakta sosial yang memang bersifat makroskopik. Pemakaian metode kuesioner dan interview oleh para penganut paradigma fakta sosial ini sebenarnya mengandung suatu ironi sebab informasi yang dikumpulkan melalui kuesioner dan interview banyak mengandung unsur subjektivitas dari informan.

2.      PARADIGMA DEFINISI SOSIAL

a.      Exemplar

Exemplar paradigma ini mengacu pada apa yang ditegaskan oleh Weber sebagai tindakan sosial antar hubungan sosial. Inti tesisnya adalah “ tindakan yang penuh arti “ dari individu. Yang dimaksudkannya adalah sepanjang tindakannya itu mempunyai makna atau arti subyektif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain. Ada tiga teori yang termasuk kedalam paradigma definisi sosial ini yaitu teori aksi (action theory), interaksionisme simbolik (Simbolik Interactionism), dan fenomenologi (Phenomenology). Ketiga teori itu mempunyai kesamaan ide dasar, yaitu manusia adalah merupakan aktor yang kreatif dari realitas sosialnya. Paradigma fakta sosial memandang bahwa perilaku manusia dikontrol oleh berbagai norma, nilai-nilai serta sekian alat pengendalian sosial lainnya. Sedangkan perbedaannya dengan paradigma perilaku sosial adalah bahwa yang terakhir ini melihat tingkahlaku mansuia sebagai senantiasa dikendalikan oleh kemungkinan penggunaan kekuatan (re-enforcement). Penganut paradigma Definisi Sosial cenderung menggunakan metode observasi dalam penelitian mereka. Alasannya adalah untuk dapat memahami realitas intrasubjective dan intersubjective dari tindakan sosial dan interaksi sosial. Namun kelemahan teknik observasi adalah ketika kehadiran peneliti di tengah-tengah kelompok yang diselidiki akan mempengaruhi tingkah laku subyek yang diselidiki itu. Lagipula tidak semua tingkah laku dapat diamati, seperti tingkah laku seksual misalnya.

b.      Pokok Persoalan

Weber mengartikan sosiologi sebagai studi tentang tindakan sosial antar hubungan sosial. Kedua hal itulah yang menurutnya menjadi pokok persoalan sosiologi. Secara defenitif Weber merumuskan sosiologi sebagai ilmu yang berusaha untuk menafsirkan dan memahami (interpretative understanding) tindakan sosial serta antar hubungan sosial untuk sampai kepada penjelasan kausal. Dalam defenisi ini terkandung dua konsep dasarnya. Pertama konsep tindakan sosial. Kedua konsep tentang penafsiran dan pemahaman. Konsep terakhir ini menyangkut metode untuk menerangkan yang pertama.  Karya Weber membantu menimbulkan minat di kalangan penganut paradigma ini dalam mempelajari cara aktor mendefinisikan situasi sosial mereka dan dalam mempelajari pengaruh definisi situasi sosial ini terhadap tindakan dan integrasi berikutnya.

c.       Teori-Teori

Ada tiga teori yang termasuk ke dalam paradigma defenisi sosial ini. Masing-masing: Teori aksi (action theory), interaksionisme simbolik (simbolik interactionism) dan fenomenologi (phenomenology). Ketiga teori yang termasuk kedalam paradigma definisi sosial, mengarahkan perhatian kepada proses sosial, terutama para pengikut interaksionisme simbolik. Ada empat unsur pokok dari teori ini yaitu perhatian terhadap actor, memusatkan perhatian pada kenyataan yang penting atau yang pokok dak kepada sikap yang wajar atau alamiah (natural attitude) alasannya adalah tidak keseluruhan gejala kehidupan sosial mampu diamati, memusatkan perhatian kepada masalah mikro, memperhatikan pertumbuhan, perubahan dan proses tindakan.

d.      Metode

Penganut paradigma Definisi sosial ini cenderung mempergunakan metode observasi dalam penelitian. Alasannya adalah untuk dapat memahami realitas intrasubhective dan intersubjective dari tindakan sosial dan interaksi sosial. Untuk maksud tersebut metode kuesioner dan interview dinilai kurang relevan. Begitupula metode eksperimen. Metode ini meskipun dapat mengganggu spontanitas tindakan serta kewajaran dari sikap si actor yang diselidiki, melalui penggunaan metode observasi dapat disimpulkan hal hal yang bersifat intrasubjective dan intersubjective yang timbul dari tindakan actor yang diamati. Tipe teknik observasi, teknik yang paling ringan adalah observasi yang bersifat eksplorasi. Teknik ini paling subyektif sifatnya dan pemakaiannya berhubungan erat dengan rencana observasi yang sebernarnya.

Biasanya teknik observasi dipergunakan terutama untuk mengamati tingkah laku actual, berdasarkan cara peneliti berpartisipasi didalam kelompok yang diselidikinya, dapat dibedakan empat tipe observasi yaitu participant observation (peneliti tidak memberitahukan maksudnya kepada kelompok yang diselidikinya), participant as observer (peneliti memberitahukan maksudnya kepada kelompok yang diteliti), observer as participant (teknik ini dipergunakan dalam penelitian yang hanya berlangsung dalam sekali kunjungan dan dalam waktu singkat, misalnya sehari), complete observer (peneliti tidak berpartisipasi tetapi menempatkan dirinya sebagai orang luar sama sekali dan subyek yang diselidiki tidak menyadari bahwa mereka sedang diselidiki). Kelemahan teknik observasi ini ialah bahwa diberitahukan atau tidak namun kehadiran peneliti ditengah-tengah kelompok yang diselidiki itu akan mempengaruhi tingkah laku subyek yang diselidiki itu.

3.      PARADIGMA PERILAKU SOSIAL

a.      Exemplar

Model bagi penganut paradigma ini adalah karya psikolog B.F. Skinner, yang sekaligus pemuka exemplar paradigma ini. Melalui karya itu skinner mencoba menerjemahkan prinsip-prinsip psikologi aliran behaviorisme kedalam sosiologi. Teori, gagasan dan praktek yang dilakukannya telah memegang peranan penting dalam pengembangan sosiologi behavior. Skinner melihat kedua paradigma fakta sosial dan definisi sosial sebagai perspektif yang bersifat mistik, dalam arti mengandung sesuatu persoalan yang bersifat teka-teki, tidak dapat diterangkan secara rasional. Kritik skinner ini tertuju kepada masalah yang substansial dari kedua paradigma itu, yakni eksistensi obyek studinya sendiri. Menurut Skinner, kedua paradigma itu membangun obyek studi berupa sesuatu yang bersifat mistik.

b.      Pokok Persoalan

Paradigma perilaku sosial memusatkan perhatiannya kepada antar hubungan antara individu dan lingkungannya. Lingkungan itu terdiri atas bermacam-macam obyek sosial dan bermacam-macam obyek non sosial. Prinsip yang menguasai hubungan antara individu dengan obyek sosial adalah sama dengan prinsip yang menguasai hubungan antara individu dengan obyek non sosial. Penganut paradigma ini memusatkan perhatian kepada proses interaksi. Tetapi secara konseptual berbeda dengan paradigma definisi sosial. Bagi paradigma definisi sosial, actor adalah dinamis dan mempunyai kekuatan kreatif di dalam interaksi. Bagi paradigma perilaku sosial individu kurang sekali memiliki kebebasan. Perbedaan pandangan antara paradigma perilaku sosial ini dengan paradigma fakta sosial terletak pada sumber pengendalian tingkah laku individu. Bagi paradigma fakta sosial, strutur makroskopik dan pranata-pranata yang mempengaruhi atau yang mengendalikan tingkah laku inidividu, bagi paradigma perilaku sosial persoalannya lalu bergeser

c.       Teori-Teori

Ada pendekatan teoritis dalam sosiologi yang dapat dimasukkan kedalam judul buku “behaviorisme sosial”. Ada dua teori yang termasuk ke dalam paradigma perilaku sosial Behavioral Sosiologi dan Teori exchange. Teori Behavioral Sosiologi dibangun dalam rangka menerapkan prinsip psikologi perilaku kedalam sosiologi. Teori ini memusatkan perhatiannya kepada hubungan antara akibat dari tingkah laku yang terjadi di dalam lingkungan actor dengan tingkah laku actor. Teori Exchange, tokoh utamanya adalah George Hofman. Teori ini dibangun dengan maksud sebagai reaksi terhadap paradigma fakta sosial. Keseluruhan materi teori exchange itu secara garis besarnya dapat dikembalikan kepada lima proposisi George Hofman

d.      Metode

Paradigma perilaku sosial dapat menggunakan metode eksperimen dalam penelitiannya. Keutamaan metode eksperimen adalah memberikan kemungkinan terhadap peneliti untuk mengontrol dengan ketat obyek dan kondisi disekitarnya.  Metode ini memungkinkan pula untuk membuat penilaian atau pengukuran dengan tingkat ketepatan yang tinggi terhadap efek dari perubahan-perubahan tingkah laku actor yang ditimbulkan dengan sengaja didalam eksperimen itu.

RESUME V

Teori Konflik Menurut Tiga Ahli

(Karl Marx, Ralf Dahrendorf, dan Lewis A Coser) 

A.    Teori Konflik Menurut Karl Marx

Teori konflik adalah sebuah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Teori konflik lahir sebagai sebuah antitesis dari teori struktural fungsional yang memandang pentingnya keteraturan dalam masyarakat.

Teori konflik yang terkenal adalah teori yang disampaikan oleh Karl Marx, bagi Marx konflik adalah sesuatu yang perlu karena merupakan sebab terciptanya perubahan. Teori konflik Marx yang terkenal adalah teori konflik kelas dimana dalam masyarakat terdapat dua kelas yaitu kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja miskin (proletar). Kaum borjuis selalu mengeksploitasi kaum proleter dalam proses produksi. Eksploitasi yang dilakukan kaum borjuis terhadap kaum proletar secara terus menerus pada ahirnya akan membangkitkan kesadaran kaum proletar untuk bangkit melawan sehingga terjadilah perubahan sosial besar, yaitu revolusi sosial.

Karl Marx berpendapat bahwa bentuk-bentuk konflik yang terstruktur antara berbagai individu dan Kelompok  muncul terutama melalui terbentuknya hubungan-hubungan pribadi dalam produksi. Teori Marx memandang eksistensi hubungan pribadi dalam produksi dan kelas-kelas sosial sebagai elemen kunci dalam banyak masyarakat. la juga berpendapat bahwa pertentangan antara kelas dominan dan kelas yang tersubordinasi memainkan peranan sentral dalam menciptakan bentuk-bentuk penting perubahan sosial.

Karl Marx berpendapat bahwa Konflik kelas diambil sebagai titik sentral dari masyarakat. Konflik antara kaum kapitalis dan proletar adalah sentral di masyarakat. Segala macam konflik mengasumsikan bentuk dari peningkatan konsolidasi terhadap kekacauan. Kaum kapitalis telah mengelompokkan populasi pada segelintir orang saja. Kaum borjuis telah menciptakan kekuatan produktif dari semua generasi dalam sejarah sebelumnya. Tetapi kelas-kelas itu juga berlawanan antara satu dengan yang lainnya. Masyarakat menjadi terpecah ke dalam dua kelas besar yaitu borjuis dan proletar.

Dasar analisis kalangan marxis adalah konsep kekuatan politik sebagai pembantu terhadap kekuatan kelas dan perjuangan politik sebagai bentuk khusus dari perjuangan kelas. Struktur administratif negara modern adalah sebuah komite yang mengatur urusan sehari-hari kaum borjuis. Sebuah bagian dari produksi umum membuat jalan masa depan bagi konflik-konflik ini. Hal itu memperkirakan bahwa kelas menengah pada akhirnya akan hilang. Pedagang, perajin masuk ke dalam golongan proletar sebab modal kecil tidak dapat bersaing dengan modal besar. Sehingga proletar direkrut dari semua kelas populasi. Perbedaan antara kaum buruh/pekerja kemudian akan terhapus. Kaum pekerja akan memulai bentuk kombinasi. Konflik akan sering muncul di antara dua kelas ini. Kaum buruh memulainya dengan bentuk perlawanan koalisi borjuis agar upah mereka terjaga. Mereka membentuk perkumpulan yang kuat dan dapat memberikan dukungan kepada mereka ketika perjuangan semakin menguat. Bagian dari proletar dengan unsur-unsur pencerahan dan kemajuan, peningkatan potensial secara revolusioner.

Karl Marx menjelaskan bahwa masyarakat pada abad ke-19 di Eropa, terbagi menjadi 2 kelas sosial yaitu:

  1. Borjuis

Pada jaman kolonialisme kaum pemilik modal yaitu mereka yang memiliki alat-alat kerja/produksi misalnya pabrik, mesin, dan tanah. Tetapi pada jaman modern, kaum borjuis adalah mereka yang memiliki knowledge/keahlian khusus.

  1. Proletar

Kaum pekerja miskin. Dalam sistem produksi kapitalis kedua kelas tersebut saling ketergantungan namun tidak seimbang. Kelas proletar tidak dapat hidup jika tidak bekerja. Sedangkan kelas borjuis meskipun pabriknya tidak berjalan, ia masih dapat bertahan dari modal yang dikumpulkannya selama pabriknya bekerja yakni dengan menjual pabriknya. Dengan demikian kelas borjuis adalah kelas yang kuat, sedangkan kelas proletar adalah kelas yang lemah.

Kedua kelas ini berada dalam suatu struktur sosial hirarkis, kaum borjuis melakukan eksploitasi terhadap kaum proletar dalam proses produksi. Dan pemilikan alat-alat produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelas dalam masyarakat. Marx juga menjelaskan bahwa seluruh keteraturan dalam masyarakat proletar disebabkan adanya pemaksaan oleh para penguasa (borjuis). Penyebab konflik karena ada kelas-kelas dalam masyarkat dimana terjadi ketidaksetaraan sosial yang tinggi antara kaum borjuis & proletar. Fungsi konflik untuk mencapai keadilan dan kemakmuran di dalam masyarakat diperlukan revolusi kelas. Revolusi ini bisa dilakukan dengan cara kekerasan agar terjadi perubahan drastis ke arah yang lebih baik. Faktor produksi dalam konflik borjuis sebagai pemilik modal memiliki kontrol penuh untuk mengendalikan roda ekonomi dan melakukan eksploitasi terhadap pekerja. Dampak konflik menurut Karl Marx lebih menekankan pada dampak negatif dari konflik yaitu :

  • Menyebabkan keretakan hubungan antara anggota kelompok.
  • Mengakibatkan perubahan kepribadian para individu.
  • Mengakibatkan kerusakan harta benda dan nyawa manusia.
  • Menimbulkan dominasi atau penaklukan oleh salah satu.

Kelemahan pada teori Karl Marx :

Teori kelas sosial dan konfliknya hanya relevan pada awal kapitalisme (awal revolusi industri) dan tidak lagi sesuai dengan masyarakat industry post kapitalis. Hal ini dikarenakan pekerjaan masyarakat semakin heterogen dan hak-hak dan kemakmuran masyarakat mulai mengalami peningkatan.

 B.     Teori Konflik Menurut Ralf Dahrendorf

Teori konflik Ralf Dahrendorf sering kali disebut teori konflik dialektik. Bagi Dahrendorf masyarakat memiliki dua wajah yakni konflik dan konsensus. Dahrendorf tidak optimis bisa membangun satu teori tunggal yang bisa mencakupi konflik dan konsensus karena itu dia berusaha membangu suatu teori konflik yang kritis tentang masyarakat. Dia berkata bahwa didalam funsionalisme struktural dibutuhka keseimbangan atau kestabilan bisa bertahan karena kerjasama yang suka rela atau karena konsensus yang bersifat umum. Sedangkan dalam teori-teori konflik keseimbangan atau kestabilan terjadi karena paksaan, hal itu berarti bhwa dalam masyarakat ada beberapa posisi yang mendapat kekuasaan dan otoritas untuk menguasai orang lain sehingga kestabilan bisa tercapai.

Dahrendorf memandang bahwa konflik hanya muncul melalui relasi-relasi sosial dalam sistem. Setiap individu atau kelompok yang tidak terhubung dalam sistem tidak akan mungkin terlibat konflik. Maka dari itu, unit analisis konflik adalah keterpaksaan yang menciptakan organisasi-organisasi sosial bisa bersama sebagai sistem sosial. Dahrendorf menyimpulkan bahwa konflik timbul karena ketidakseimbangan antara hubungan-hubungan itu. Contohnya, kesenjangan status sosial, kurang meratanya kemakmuran dan akses yang tidak seimbang terhadap sumber daya serta kekuasaan yang tidak seimbang yang kemudian menimbulkan masalah-masalah seperti diskriminasi, pengangguran, kemiskinan, penindasan dan kejahatan. Masing-masing tingkat tersebut saling berkaitan membentuk sebuah rantai yang memiliki potensi kekuatan untuk menghadirkan perubahan, baik yang konstruktif maupun yang destruktif.

Dahrendorf memahami relasi-relasi dalam struktur sosial ditentukan oleh kekuasaan. Ia mendefinisikan kekuasaan menjadi penyebab timbulnya perlawanan. Esensi kekuasaan yang dimaksud oleh Dahrendorf adalah kekuasaan kontrol dan sanksi sehingga memungkinkan mereka yang memiliki kekuasaan memberi berbagai perintah dan mendapatkan apa yang mereka inginkan dari mereka yang tidak  memiliki kekuasaan. Jadi, konfik kepentingan menjadi fakta tidak terhindarkan dari mereka yang memiliki kekuasaan dan tidak memiliki kekuasaan.

Dahrendorf menjelaskan penyebab konflik dalam 6 teori utama. Teori hubungan masyarakat menganggap bahwa konflik disebabkan oleh polarisasi yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan diantara kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat. Teori negosiasi prinsip menganggap bahwa konflik disebabkan oleh posisi yang tidak selaras dan perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihak yang mengalami konflik. Teori kebutuhan manusia berasumsi bahwa konflik yang berakar dalam disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia baik fisik, mental maupun sosial yang tidak terpenuhi atau dihalangi. Keamanan, identitas, pengakuan, partisipasi dan otonomi sering merupakan inti pembicaraan dalam konflik.

Asumsi Ralf tentang masyarakat ialah bahwa setiap masyarakat setiap saat tunduk pada proses perubahan, dan pertikaian serta konflik ada dalam sistem sosial juga berbagai elemen kemasyarakatan memberikan kontribusi bagi disintegrasi dan perubahan. Suatu bentuk keteraturan dalam masyarakat berasal dari pemaksaan terhadap anggotanya oleh mereka yang memiliki kekuasaan, sehingga ia menekankan tentang peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat.

Fakta kehidupan sosial ini yang mengarahkan Dahrendorf kepada tesis sentralnya bahwa perbedaan distribusi ‘otoritas” selalu menjadi faktor yang menentukan konflik sosial sistematis. Hubungan Otoritas dan Konflik Sosial Ralf Dahrendorf berpendapat bahwa posisi yang ada dalam masyarakat memiliki otoritas atau kekuasaan dengan intensitas yang berbeda-beda. Otoritas tidak terletak dalam diri individu, tetapi dalam posisi, sehingga tidak bersifat statis. Jadi, seseorang bisa saja berkuasa atau memiliki otoritas dalam lingkungan tertentu dan tidak mempunyai kuasa atau otoritas tertentu pada lingkungan lainnya. Sehingga seseorang yang berada dalam posisi subordinat dalam kelompok tertentu, mungkin saja menempati posisi superordinat pada kelompok yang lain.

Kekuasaan atau otoritas mengandung dua unsur yaitu penguasa (orang yang berkuasa) dan orang yang dikuasai atau dengan kata lain atasan dan bawahan. Kelompok dibedakan atas tiga tipe antara lain:

  1. Kelompok Semu (quasi group)
  2. Kelompok Kepentingan (manifes)
  3. Kelompok Konflik

Kelompok semu adalah sejumlah pemegang posisi dengan kepentingan yang sama tetapi belum menyadari keberadaannya, dan kelompok ini juga termasuk dalam tipe kelompok kedua, yakni kelompok kepentingan dan karena kepentingan inilah melahirkan kelompok ketiga yakni kelompok konflik sosial. Sehingga dalam kelompok akan terdapat dalam dua perkumpulan yakni kelompok yang berkuasa (atasan) dan kelompok yang dibawahi (bawahan). Kedua kelompok ini mempunyai kepentingan berbeda. Bahkan, menurut Ralf, mereka dipersatukan oleh kepentingan yang sama.

Mereka yang berada pada kelompok atas (penguasa) ingin tetap mempertahankan status quo sedangkan mereka berada di bawah (yang dikuasai atau bawahan ingin supaya ada perubahan. Konflik ini pasti selalau ada dalam setiap kehidupan bersama atau perkumpulan atau negara walaupun mungkin secara tersembunyi, ini berarti bahwa legitimasi itu tidak bersifat tetap. Keberadaan teori konflik muncul setelah fungsionalisme, namun, sesungguhnya teori konflik sebenarnya sama saja dengan suatu sikap kritis terhadap Marxisme ortodox. Seperti Ralp Dahrendorf, yang membicarakan tentang konflik antara kelompok-kelompok terkoordinasi (imperatively coordinated association), dan bukan analisis perjuangan kelas, lalu tentang elit dominan, daripada pengaturan kelas, dan manajemen pekerja, daripada modal dan buruh. 

C.    Teori Konflik Menurut Lewis A Coser

Teori konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Teori ini didasarkan pada pemilikan sarana-sarana produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelas dalam masyarakat. Konflik juga memiliki kaitan yang erat dengan struktur dan juga konsensus.

Latar belakang munculnya pemikiran Coser tentang fungsi konflik sosial dapat dijelaskan dengan melihat kondisi intelektual, sosial dan politik pada saat itu. Kondisi intelektual adalah respon Coser atas dominasi pemikiran fungsionalisme yang merupakan orientasi teoritis dominan dalam sosiologi Amerika pada pertengahan tahun 1950 .

Coser memulai pendekatannya dengan suatu kecaman terhadap tekanan pada nilai atau konsensus normatif, ketaruran dan keselarasan. Dia mengemukakan bahwa proses konflik dipandang dan diperlakukan sebagai sesuatu yang mengacaukan atau disfungsional terhadap keseimbangan sistem secara keseluruhan. Padahal dalam pandangan Coser konflik tidak serta-merta merusakkan, berkonotasi disfungsional, disintegrasi ataupun patologis untuk sistem dimana konflik itu terjadi melainkan bahwa konflik itu dapat mempunyai konsekuensi-konsekuensi positif untuk menguntungkan sistem itu.

Adapun kondisi sosial politik pada saat Coser memunculkan teori fungsi konflik sosial ini adalah masih kuatnya pengaruh Anti-Semitisme atau prasangka rasialisme, perang antar bangsa yang sering merangsang nasionalisme dan semangat patriotisme yang tinggi, pengurangan kebebasan dari orang Amerika-Jepang di Amerika Serikat dan berbagai konflik-konflik lainnya yang ikut manjadi kajian analisis Coser khususnya konflik antar kelompok dan solidaritas kelompok dalam. Coser tidak ragu-ragu untuk menulis kritis tentang politik dan keadaan moral masyarakat. Sebagai reaksi terhadap intoleransi dari McCarthy pada 1950-an, ia dan teman Irving Howe menciptakan anti kemapanan radikal lewat jurnal Dissent, yang diterbitkan secara berkala dalam publikasi jurnal.

Konflik dapat merupakan proses yang bersifat instrumental dalam pembentukan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial. Konflik dapat menempatkan dan menjaga garis batas antara dua atau lebih kelompok. Konflik dengan kelompok lain dapat memperkuat kembali identitas kelompok dan melindunginya agar tidak lebur ke dalam dunia sosial sekelilingnya.

Coser melihat katup penyelamat berfungsi sebagai jalan ke luar yang meredakan permusuhan, yang tanpa itu hubungan- hubungan di antara pihak-pihak yang bertentangan akan semakin menajam. Katup Penyelamat (savety-value) ialah salah satu mekanisme khusus yang dapat dipakai untuk mempertahankan kelompok dari kemungkinan konflik sosial. Katup penyelamat merupakan sebuah institusi pengungkapan rasa tidak puas atas sebuah sistem atau struktur. Menurut Coser konflik dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Konflik Realistis

Konflik Realistis, berasal dari kekecewaan terhadap tuntutan- tuntutan khusus yang terjadi dalam hubungan dan dari perkiraan kemungkinan keuntungan para partisipan, dan yang ditujukan pada obyek yang dianggap mengecewakan. Contohnya para karyawan yang mogok kerja agar tuntutan mereka berupa kenaikan upah atau gaji dinaikkan.

  1. Konflik Non- Realistis

Konflik Non- Realistis, konflik yang bukan berasal dari tujuan- tujuan saingan yang antagonis, tetapi dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari salah satu pihak. Coser menjelaskan dalam masyarakat yang buta huruf pembasan dendam biasanya melalui ilmu gaib seperti teluh, santet dan lain- lain. Sebagaimana halnya masyarakat maju melakukan pengkambinghitaman sebagai pengganti ketidakmampuan melawan kelompok yang seharusnya menjadi lawan mereka.

Menurut Coser terdapat suatu kemungkinan seseorang terlibat dalam konflik realistis tanpa sikap permusuhan atau agresi. Akan tetapi apabila konflik berkembang dalam hubungan- hubungan yang intim, maka pemisahan (antara konflik realistis dan non-realistis) akan lebih sulit untuk dipertahankan. Coser mennyatakan bahwa, semakin dekat suatu hubungan semakin besar rasa kasih saying yang sudah tertanam, sehingga semakin besar juga kecenderungan untuk menekan ketimbang mengungkapkan rasa permusuhan. Sedang pada hubungan- hubungan sekunder, seperti misalnya dengan rekan bisnis, rasa permusuhan dapat relatif bebas diungkapkan. Hal ini tidak selalu bisa terjadi dalam hubungan- hubungan primer dimana keterlibatan total para partisipan membuat pengungkapan perasaan yang demikian merupakan bahaya bagi hubungan tersebut. Apabila konflik tersebut benar- benar melampaui batas sehingga menyebabkan ledakan yang membahayakan hubungan tersebut.

Coser, mengutip hasil pengamatan Simmel yang meredakan ketegangan yang terjadi dalam suatu kelompok. Dia menjelaskan bukti yang berasal dari hasil pengamatan terhadap masyarakat Yahudi bahwa peningkatan konflik kelompok dapat dihubungkan dengan peningkatan interaksi dengan masyarakat secara keseluruhan.Bila konflik dalam kelompok tidak ada, berarti menunjukkan lemahnya integrasi kelompok tersebut dengan masyarakat.  Dalam struktur besar atau kecil konflik in-group merupakan indikator adanya suatu hubungan yang sehat. Coser sangat menentang para ahli sosiologi yang selalu melihat konflik hanya dalam pandangan negatif saja. Perbedaan merupakan peristiwa normal yang sebenarnya dapat memperkuat struktur sosial. Dengan demikian Coser menolak pandangan bahwa ketiadaan konflik sebagai indikator dari kekuatan dan kestabilan suatu hubungan.

 

 

 

 

 

 

 

 

RESUME VI

Teori Tindakan Sosial Max Weber

Maximilian Weber lahir di Erfurt, jerman, 21 April 1864. Dan meninggal di Munchen, jerman, 14 juni 1920 pada umur 56 tahun. Max weber adalah seorang ahli ekonomi politik dan sosiologi dari Jerman yang dianggap sebagai salah satu pendiri ilmu sosiologi dan administrasi negara modern. Karya utamanya berhubungan dengan rasionalisasi dalam sosiologi agama dan pemerintahan, meski ia sering pula menulis di bidang ekonomi. Karyanya yang paling populer adalah esai yang berjudul Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, yang mengawali penelitiannya tentang sosiologi agama.

Menurut Max Webber, Ilmu sosiologi adalah disiplin ilmu yang berupaya memahami tindakan sosial. Tindakan sosial adalah tindakan individu terhadap orang lain yang memiliki “makna” untuk dirinya sendiri serta orang lain dan merupakan tindakan yang penuh makna “subjektif” bagi pelakunya atau arti dalam setiap tindakan social itu ada “motif” tertentu. Contoh seperti: Si toto bersiul di depan seorang perempuan, jika tidak ada makna di balik siulannya toto, itu bukan dinamakan tindakan social. Tetapi jika ada makna di balik siulannya si toto dan si perempuan tersebut membalas siulan toto dengan suatu hal, maka siulan si toto adalah tindakan sosial. Dari contoh kasus tersebut dapat di tarik kesimpulan, tidakan social adalah tindakan yang memiliki makna,motif, dan subjektifitas seseorang.

Sebagai makhluk hidup senantiasa melakukan tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan tertentu. Tindakan merupakan suatu perbuatan, perilaku, atau aksi yang dilakukan oleh manusia sepanjang hidupnya guna mencapai tujuan tertentu. Menurut Kamanto Sunarto yang dikutip dalam buku pengantar sosiologi,  tindakan sosial menurut Max Weber, “Tindakan sosial adalah tindakan manusia yang dapat mempengaruhi individu-individu lainnya dalam masyarakat serta mempunyai maksud tertentu, suatu tindakan sosial adalah tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain dan berorientasi pada perilaku orang lain”.

Menurut webber dalam tindakan sosialnya, Individu mempengaruhi Masyarakat. Itu disebabkan karena masyarakat tentu diwarnai dengan berbagai macam tindakan atau perbuatan, tentu perbuatan ini diperoleh melalui proses belajar baik secara formal maupun informal. Tindakan ini menunjukkan bahwa manusia selalu aktif dan tidak bisa diam dalam menjalani hidup ini. Mereka harus bekerja, belajar dan behubungan dengan manusia lainnya, tentunya ini mempunyai motif tertentu.

A.    Tipe Tindakan Sosial

Menurut Marx Webber, tindakan sosial terbagi atas 4 tipe tindakan sosial. Klasifikasi tindakan social tersebut adalah

  1. Rasional instrumental ( instrumentally rational/zwerk rational )

Zwerk Rational yaitu tindakan yang dilaksanakan setelah melalui tindakan matang mengenai tujuan dan cara yang akan ditempuh untuk meraih tujuan itu. Jadi, Rasionalitas instrumental adalah tindakan yang diarahkan secara rational untuk mencapai suatu tujuan tertentu dan diterapkan dalam suatu situasi dengan suatu pluralitas cara-cara dan tujuan-tujuan dimana sipelaku bebas memilih cara-caranya secara murni untuk keperluan efisiensi.

Tindakan yang diharapkan oleh manusia, karena mempunyai tujuan. Tetapi tindakan sudah dirasionalisasikan dan dikalkulasikan untuk mencapai suatu tujuan. Contoh kasusnya: Si rony menabung uang untung beli sepatu bola yang bagus dengan harga yang mahal, tetapi pada suatu hari ketika uangnya sudah terkumpul, Guru matematika toni mewajibkan setiap muridnya mempunyai buku matematika untuk ujian nasional. Setelah dirasionalisasikan dan dikalkulasikan akhirnya rony memilih membeli buku matematika dari pada membeli sepatu bola.

Tindakan ini dilakukan seseorang dengan memperhitungkan kesesuaian antara cara yang digunakan dengan tujuan yang akan dicapai. Misalnya guna menunjang kegiatan belajarnya dan agar bisa memperoleh nilai yang baik, Fauzi memutuskan untuk membeli buku-buku pelajaran sekolah daripada komik.

2.      Rasional nilai ( value rational / wert rational )

Tindakan yang didasari oleh kesadaran atas keyakinan mengenai nilai-nilai yang penting seperti etika, estetika, agama,& nilai-nilai lainnya yang mempengaruhi tingkah laku manusia dalam kehidupannya. Contohnya adalah Ketika si Adam sedang berjualan dan sedang banyak pembeli, dan saat itupun adzan solat Dzuhur, akhirnya si Adam pergi untuk solat di bandingkan melayani banyaknya pembeli yang ingin membeli barang dagangnya.

Tindakan ini bersifat rasional dan memperhitungkan manfaatnya, tetapi tujuan yang hendak dicapai tidak terlalu dipentingkan oleh si pelaku. Pelaku hanya beranggapan bahwa yang paling penting tindakan itu termasuk dalam kriteria baik dan benar menurut ukuran dan penilaian masyarakat di sekitarnya. Misalnya menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing.

3.      Afektual ( affectual )

Tindakan yang ditentukan oleh kondisi kejiwaan dan perasaan individu yang melakukannya. Contoh kasusnya: saat seorang ayah mendengar berita kalau anak perempuannya di lecehkan oleh sekelompok pemuda, kemudian ayah tersebut marah dan segera mencari sekelompok pemuda yang melecehkan anaknya. Tindakan marah seorang ayah tersebut adalah di dasarkan pada perasaan dan kejiwaan si ayah tersebut.

Tindakan ini dilakukan seseorang berdasarkan perasaan yang dimilikinya, biasanya timbul secara spontan karena mengalami suatu kejadian yang sebagian besar dikuasai oleh perasaan atau emosi  tanpa perhitungan dan pertimbangan yang matang. Tindakan ini merupakan tindakan yang tidak rasional. Seseorang melakukan tindakan hanya karena kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat tanpa menyadari alasannya atau membuat perencanaan terlebih dahulu mengenai tujuan dan cara yang akan digunakan. Misalnya berbagai upacara adat yang terdapat di masyarakat.

4.      Tradisional (traditional)

Tindakan yang didasarkan atas kebiasaan-kebiasaan yang telah mendarah daging, tradisi atau adat istiadat. Dalam melakukan tindakan, individu cenderung akan melakukannya tanpa berpikir dahulu dan tanpa mengkritisi baik-buruknya tindakan. Hal ini karena individu sudah terikat oleh tradisi atau adat. Contoh kasusnya: di masyarakat Jawa adat adat mitoni yaitu upacara yang dilakukan dalam bulan ke tujuh usia kandungan pertama seorang istri. Ini dilakukan agar diberi keselamatan pada saat kelahiran nanti.

Tindakan social ini bersifat rasional, namun sipelaku tidak lagi memperhitungkan proses dan tujuannya terlebih dahulu, yang dijadikan pertimbangan adalah kondisi atau tradisi yang sudah baku dan manakala baik itu cara-caranya dan tujuan-tujuannya adalah sekedar kebiasaan.

B.     Metodologi Analisis Sosial

Untuk menganalisis seseorang membutuhkan metodologi. Max Webber mengembangkan 2 metodologi yang di pakai untuk mengkaji atau menganalisis fenomena sosial. Kedua metodologi tersebut adalah :

  1. Verstehen

Cara seseorang menganalisis dengan empati dalam memahami tindakan sosial manusia yang subjektif dan bermakna. Jika seorang sosiolog ingin membongkar makna atau motif dari pelaku tindakan sosial, harus mampu memahami apa yang dipahami oleh si pelaku. Contoh kasusnya: Jika seseorang ingin menganalisis atau mengetahui bagaimana cara seorang anak jalanan mampu bertahan hidup, langsung bertanya kepada si anak jalanannya langsung atau bisa disebut dengan bertanya kepada si pihak pertama.

2. Tipe ideal

Suatu fenomena sosial merupakan kumpulan makna tertentu, oleh karena itu ilmuwan sosial harus menganalisis fenomena tersebut dalam wujud tipe ideal agar dapat mudah untuk dipahami. Menurut definisi Weber, “tipe ideal dibentuk oleh aksentuasi satu sisi dari satu atau lebih titik pandang”.

C.    Rasionalitas

Rasionalitas merupakan pertimbangan yang sadar akan pilihan tindakan yang dilakukan nya dengan logis. Tindakan sosial menurut Weber didasarkan atas rasionalitas dan juga non-rasionalitas. Tindakan sosial yang rasionalitas adalah rasionalitas praktis dan rasionalitas teoritis, sementara tindakan sosial yang non-rasionalitas adalah rasionalitas formal dan rasionalitas subtantif.

  1. Rasionalitas Praktis

Memandang dan menilai aktivitas-aktivitas duniawi dalam kaitannya dengan kepentingan individu. Tidakan sosial untuk diri sendiri. Contoh kasus: Si andi sedang kuliah pengantar sosiologi dan ada tugas kelompok, dan pada saat presentasi di depan kelas, andi berargumentasi dan menjawab pertanyaan dengan semena-mena tanpamemikirkan anggota kelompok yang lain. andi hanya mau memikirkan kelompoknya untuk kepentingan sendiri tanpa memikirkan teman sekelompok lainnya.

  1. Rasionalitas Teoritis

Melibatkan upaya kognitif untuk menguasai realitas melalui konsep-konsep yang makin abstrak dan bukannya melalui tindakan. Hanya berbicara soal konsep tetapi tidak melakukan tindakan sosial (omdo). Contoh kasus: dalam pelaksanaan birokrasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Si Deni adalah seorang anggota BEM Jurusan Sosiologi yang mempunyai banyak gagasan yang membuat BEM menjadi maju, tetapi hanya sebatas gagasan, dia tidak mau bekerja untuk merealisasikan apapun gagasan yang dia kemukakan.

  1. Rasionalitas Formal

Meskipun seluruh tipe rasionalitas lain juga bersifat lintas peradaban dan melampaui sejarah, rasionalitas formal hanya muncul di Barat seiring dengan lahirnya industrialisasi.

  1. Rasionalitas Subtantif

RESUME VII

Interaksionisme Simbolik Menurut Tiga Ahli

(G.H. Mead, Erving Gofman, dan G.H.Blummer)

A.     Interaksionisme Simbolik Menurut George Herbert Mead

Interaksi simbolik adalah interaksi yang memunculkan makna khusus dan menimbulkan interpretasi atau penafsiran. Simbolik berasal dari kata ’simbol’ yakni tanda yang muncul dari hasil kesepakatan bersama. Apabila dilihat secara umum Simbol merupakan esensi dari teori interaksionisme simbolik. Teori ini menekankan pada hubungan antara simbol dan interaksi. Teori Interaksi Simbolik merupakan sebuah kerangka referensi untuk memahami bagaimana manusia, bersama dengan manusia lainnya, menciptakan dunia simbolik dan bagaimana dunia ini, dan bagaimana nantinya simbol tersebut membentuk perilaku manusia. Teori ini memusatkan perhatian lebih kepada individu, tentang bagaimana individu berinteraksi dengan individu lain dengan menggunakan simbol-simbol yang signifikan berupa bahasa.

Interaksionisme simbolik berkembang pesat pada abad 19-20-an di Chicago. Mead merupakan cikal bakal munculnya teori interaksionisme simbolik dengan pemikirannya “The Teorethical Perspective”. Teori ini berfokus pada tindakan dan makna dalam masyarakat. Setelah memperoleh suatu makna, manusia akan bertindak sesuai dengan makna tersebut. George Herbert Mead memiliki pemikiran yang mempunyai sumbangan besar terhadap ilmu sosial dalam perspektif teori yang dikenal dengan interaksionisme simbolik, yang menyatakan bahwa komunikasi manusia berlangsung melalui pertukaran simbol serta pemaknaan simbol – simbol tersebut. Ide dasarnya adalah sebuah simbol, karena symbol adalah suatu konsep mulia yang membedakan manusia dari binatang. Simbol muncul akibat dari kebutuhan setiap individu untuk berinteraksi dengan orang lain.

Mead menempatkan arti penting komunikasi dalam konsep tentang perilaku manusia, serta mengembangkan konsep interaksi simbolik bertolak pada pemikiran Simmel yang melihat persoalan pokok sosiologi adalah masalah sosial. Ide pokok pemikiran Mead terletak pada tiga konsepsi, yakni:

1.      Mind (pikiran)

Mead mendefinisikan mind sebagai fenomena sosial yang tumbuh dan berkembang dalam proses sosial sebagai hasil dari interaksi. Konsep mind lebih ke proses daripada sebuah produk. Mind sebagai kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna sosial yang sama, dan Mead percaya bahwa manusia harus mengembangkan pikiran melalui interaksi dengan orang lain. Manusia tidak dapat berinteraksi dengan orang lain apabila belum mengenal bahasa. Bahasa itu sendiri tergantung pada simbol signifikan (significant symbol), atau simbol-simbol yang memunculkan makna yang sama bagi banyak orang. Dengan bahasa, manusia dapat mengembangkan pikiran menjadi pemikiran (thought) dan akhirnya menghasilkan pengambilan peran (role taking), atau kemampuan untuk secara simbolik menempatkan dirinya sendiri dalam diri khayalan orang lain.

Mind dikatakan membedakan manusia dengan hewan karena mind melalui proses berfikir. Contoh, kucing menggerang dengan menaikkan ekor dan mengeluarkan taringnya kepada kucing lain yang ingin merebut makananya. Hal ini tidak bisa dikatakan sebagai simbol karena gerangan yang dilakukan kucing adalah insting. Tidak terpikirkan oleh kucing itu bahwa jika dia menggerang dan menaikkan ekornya itu si kucing menyampaikan pesan “Jangan ambil makanan saya atau saya akan marah”. Yang berjalan dikalangan hewan itu tadi hanya insting untuk memenuhi kebutuhan makan mereka. Berbeda jika dengan manusia. Saat ada dua orang laki-laki di pinggir jalan sedang mengepalkan tangan kearah lawannya yang bisa diartikan sebagai bentuk tantangan yang akan membuat lawan berinteraksinya melakukan respon seperti mengejar atau menghajarnya. Kepalan tangan dalam kasus di atas merupakan simbol gerak-gerik yang memiliki makna amarah atau tantangan.  Inilah yang dimaksudkan mind membedakan antara hewan dan manusia. Jika hewan hanya sebatas insting sedangkan manusia melalui proses penangkapan simbol dan mencernanya untuk kemudian direspon.

2.      Self (diri)

Self sebagai kemampuan untuk merefleksikan diri kita sendiri dari perspektif orang lain. Bagi Mead, diri berkembang dari sebuah jenis pengambilan peran yang khusus. Self (diri) memiliki dua unsur yakni:

  • “I” yang dapat diterjemahkan sebagai “aku” merupakan bagian yang unik, impulsif, spontan, tidak terorganisasi, tidak bertujuan, dan tidak dapat diramal dari seseorang.
  • “Me” yang diterjemahkan dengan “daku” adalah generalized others, yang merupakan fungsi bimbingan dan panduan. Me merupakan prilaku yang secara sosial diterima dan diadaptasi.

Baik “I” maupun “me” keduanya diperlukan untuk melakukan hubungan sosial. “I” merupakan rumusan subjektif tentang diri ketika berhadapan dengan orang lain. Sedangkan “me” merupakan serapan dari orang lain, yang melalui proses interanalisasi kemudian diadopsi untuk membentuk “I” selanjutnya. Dalam setiap interaksi akan terjadi perubahan “I” dan “me” secara dinamis. Dalam konteks komunikasi, perubahan tersebut menimbulkan optimisme, yaitu bagaimanapun komunikasi akan menimbulkan perubahan.

Self (diri) dibagi menjadi tiga macam yaitu:

1. Play stage (tahap bermain)

Tahap ini merupakan tahap awal di mana anak mulai melakukan imitasi peran orang-orang yang ada di sekitarnya.

2. Game stage (tahap pertandingan)

Pada tahap ini anak mulai memiliki statusnya dan mulai memikirkan status orang lain.

3. Generalized other

Generalized other merupakan harapan-harapan, standar umum, kebiasaan yang berlaku pada tempat tersebut. Dalam tahap ini anak dituntut untuk bertingkah laku sesuai dengan yang diharapkan masyarakat.

3.      Society (masyarakat)

Adalah hubungan sosial yang diciptakan, dibangun, dan dikonstruksikan oleh tiap individu ditengah masyarakat, dan tiap individu tersebut terlibat dalam perilaku yang mereka pilih secara aktif dan sukarela, yang pada akhirnya mengantarkan manusia dalam proses pengambilan peran di tengah masyarakatnya.

Society menurut Mead adalah kumpulan self yang melakukan interaksi dalam lingkungan yang lebih luas yang berupa hubungan personal, kelompok intim, dan komunitas. Institusi society karenanya terdiri dari respon yang sama. Society dipelihara oleh kemampuan individu untuk melakukan role-taking dan generalized others.

Masyarakat ada sebelum individu tetapi juga diciptakan dan dibentuk oleh individu, dengan melakukan tindakan sejalan dengan orang lainnya (Forte, 2004). Ada dua bagian penting masyarakat yang mempengaruhi pikiran dan diri, yaitu:

  1. Orang lain secara khusus (particular others)

Merujuk pada individu-individu dalam masyarakat yang signifikan. Orang-orang ini biasanya adalah anggota keluarga, teman, dan kolega di tempat kerja serta supervisor. Sering kali pengharapan dari beberapa particular others mengalami konflik dengan orang lainnya.

  1. Orang lain secara umum (generalized others)

Merujuk pada cara pandang dari sebuah kelompok sosial atau budaya sebagai keseluruhan. Generalized others memberikan menyediakan informasi mengenai peranan, aturan, dan sikap yang dimiliki oleh komunitas. Generalized others juga memberikan perasaan mengenai bagaimana orang lain bereaksi dan harapan sosial secara umum. Generalized others dapat membantu dalam menengahi konflik yang dimunculkan oleh kelompok-kolompok orang lain secara khusus yang berkonflik.

Jadi, pada dasarnya Teori Interasionisme Simbolik adalah sebuah teori yang mempunyai inti bahwa manusia bertindak berdasarkan atas makna-makna, di mana makna tersebut didapatkan dari interaksi dengan orang lain, serta makna-makna itu terus berkembang dan disempurnakan pada saat interaksi itu berlangsung.

Tiga tema konsep pemikiran Mead

  • Pentingnya makna bagi perilaku manusia

Tema ini berfokus pada pentingnya membentuk makna bagiperilaku manusia, dimana dalam teori interaksi simbolik tidak bisa dilepaskan dari proses komunikasi, karena awalnya makna itu tidak ada artinya, sampai pada akhirnya di konstruksi secara interpretif oleh individu melalui proses interaksi.

  • Pentingnya konsep diri

Tema ini berfokus pada pengembangan konsep diri melaluiindividu tersebut secara aktif, didasarkan pada interaksi sosial dengan orang lainnya

  • Hubungan antara individu dengan masyarakat.

Tema ini berfokus pada dengan hubungan antara kebebasanindividu dan masyarakat, dimana norma-norma sosial membatasi perilaku tiap individunya, tapi pada akhirnya tiap individu-lah yang menentukan pilihan yang ada dalam sosial kemasyarakatannya.

C.    Interaksionisme Simbolik Menurut George Herbert Blummer

Blumer memulai pemikirannya tentang teori interaksionisme simbolik dengan tiga dasar pemikiran yaitu:

n  Manusia berperilaku terhadap hal-hal berdasarkan makna yang dimiliki hal-hal tersebut baginya.

n  Makna hal-hal tersebut berasal dari atau muncul dari interaksi sosial yang pernah dilakukan dengan orang lain.

n  Makna-makna itu dikelola dalam dan diubah melalui proses penafsiran yang dipergunakan oleh orang yang berikatan dengan hal-hal yang dijumpai.

Menurut Blumer konsepsi diri berkembang melalui interaksi simbolik melalui apa yang disebut looking-glass-self, yakni gambaran mental tentang self yang dihasilkan dari mengambil peran bagi orang lain. Blumer mengutarakan tentang tiga prinsip utama interaksionisme simbolik, yaitu tentang pemaknaan (meaning), bahasa (language), dan pikiran (thought). Premis ini nantinya mengantarkan kepada konsep ‘diri’ seseorang dan sosialisasinya kepada ‘komunitas’ yang lebih besar, masyarakat. Ketiga premis Blumer yaitu:

a)      Human act toward people or things on the basis of the meanings they assign to those people or things

Manusia bertindak atau bersikap terhadap manusia yang lainnya pada dasarnya dilandasi atas pemaknaan yang mereka kenakan kepada pihak lain tersebut. Once people define a situation as real, its very real in its consequences. Pemaknaan tentang apa yang nyata bagi kita pada hakikatnya berasal dari apa yang kita yakini sebagai kenyataan itu sendiri. Karena kita yakin bahwa hal tersebut nyata, maka kita mempercayainya sebagai kenyataan.

b)      Meaning arises out of the social interaction that people have with each other

Pemaknaan muncul dari interaksi sosial yang dipertukarkan di antara mereka. Makna bukan muncul atau melekat pada sesuatu atau suatu objek secara alamiah. Makna tidak bisa muncul ‘dari sananya’. Makna berasal dari hasil proses negosiasi melalui penggunaan bahasa dalam perspektif interaksionisme simbolik.

c)      An individual’s interpretation of symbols is modified by his or her own thought process

Interaksionisme simbolik menggambarkan proses berpikir sebagai perbincangan dengan diri sendiri. Proses berpikir ini sendiri bersifat refleksif. Konsep diri menurut Mead sebenarnya kita melihat diri kita lebih kepada bagaimana orang lain melihat diri kita.

Tiga tema konsep pemikiran George Herbert Mead yang mendasari interaksi simbolik antara lain:

  1. Pentingnya makna bagi perilaku manusia
  2. Pentingnya konsep mengenai diri
  3. Hubungan antara individu dengan masyarakat

Tema pertama pada interaksi simbok berfokus pada pentingnya membentuk makna bagi perilaku manusia, dimana dalam teori interaksi simbolik tidak bisa dilepaskan dari proses komunikasi, karena awalnya makna itu tidak ada artinya, sampai pada akhirnya di konstruksi secara interpretif oleh individu melalui proses interaksi, untuk menciptakan makna yang dapat disepakati secara bersama. Hal ini sesuai dengan tiga dari tujuh asumsi karya Herbert Blumer (1969) dalam West-Turner (2008: 99) dimana asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut:

  • Manusia bertindak terhadap manusia lainnya berdasarkan makna yang diberikan orang lain kepada mereka

Asumsi manusia bertindak terhadap manusia lainya menjelaskan perilaku sebagai suatu rangkaian pemikiran dan perilaku yang dilaksanakan secara sadar antara ransangan dan respon yang berkaitan dengan rangsangan tersebut contohnya di amerika umumnya menghubungkan cincin pernikahan sebagai symbol komitmen , karena symbol tersebut kebanyakan orang menghubungkan dengan sikap positif.

  • Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia

Makna diciptakan interaksi manusia satu pendekatan mengatakan bahwa makna adalah suatu yang bersifat intrinsik dari suatu benda., yang kedua asal usul makna dilihat makna itu. “dibawa kepada benda oleh seseorang bagi benda siapa itu bermakna” posisi ini mendukung bahwa makna terdapat didalam orang, yang ketiga melihat makna sebagai benda yang terjadi di orang orang.

  • Makna dimodifikasi melalui proses interpretif

Makna dimodifikasi melalui proses interpretive, proses interpretive memiliki dua langkah , pertama , para pelaku menentukan benda benda yang mempunyai makna. Langkah kedua melibatkan pelaku untuk memilih.

Tujuh asumsi karya Herbert Blumer

  • Manusia bertindak terhadap orang lain berdasarkan makna yang diberikan orang lain pada mereka
  • Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia
  • Makna dimodifikasi melalui sebuah proses interpretif
  • Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang lain
  • Konsep diri memberikan sebuah motif penting untuk berperilaku
  • Orang dan kelompok-kelompok dipengaruhi oleh proses budaya dan social
  • Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial 
  1. C.    Interaksionisme Simbolik Menurut Erving Goffman

Salah satu konsep Goffman yang terkenal adalah Model Dramaturgi. Goffman membedakan dua macam pernyataan yaitu:

¢  Pernyataan yang diberikan (expression given), yaitu sarana-sarana tanda yang dengan sengaja dipergunakan untuk menyampaikan informasi tertentu kepada orang lain.

¢  Pernyataan lepas (expression given off), yaitu informasi yang disampaikan tanpa sengaja.

Inti dari ajaran Goffman adalah dramaturgy. Dramaturgy yang dimaksud Goffman adalah situasi dramatik yang seolah-olah terjadi di atas panggung sebagai ilustrasi yang diberikan Goffman untuk menggambarkan orang-orang dan interaksi yang dilakukan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Goffman menggambarkan peranan orang-orang yang berinteraksi dan hubungannya dengan realitas sosial yang dihadapinya melalui panggung sandiwara dengan menggunakan skrip (jalan cerita) yang telah ditentukan.

Ada bagian yang disebut frontstage (panggung bagian depan) dan backstage (panggung bagian belakang) di mana keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Peranan dan fungsi backstage sangat penting terhadap keberhasilan penampilan di frontstage, kajian-kajian terhadap hal-hal yang berada di luar perhitungan benar-benar bertumpu pada sumber daya-sumber daya yang ada pada kedua bagian tersebut. Di samping itu, konsep dramaturgy Goffman juga dipakai oleh beberapa ahli sosiologi seperti Kennen dan Collins dalam melakukan studi yang menyangkut interaksi antara orang-orang yang menjadi kajian mereka. Dramaturgi merupakan pandangan tentang kehidupan sosial sebagai serentetan pertunjukkan drama dalam sebuah pentas. Diri adalah pengaruh dramatis yang muncul dari suasana yang di tampilkan (interaksi dramatis), maka ia mudah mengalami gangguan.

Dramaturgi menekankan dimensi ekspresif/impresif aktivitas manusia, yakni bahwa makna kegiatan manusia terdapat dalam cara mereka mengekspresikan diri dalam interaksi dengan orang lain yang juga ekspresif. Oleh karena perilaku manusia bersifat ekspresif inilah maka perilaku manusia bersifat dramatik. Pendekatan dramaturgis Goffman berintikan pandangan bahwa ketika manusia berinteraksi dengan sesamannya, ia ingin mengelola pesan yang ia harapkan tumbuh pada orang lain terhadapnya. Kaum dramaturgis memandang manusia sebagai aktor-aktor di atas panggung metaforis yang sedang memainkan peran-peran mereka.

Burce Gronbeck memberikan sketsa tentang ide dasar dramatisme seperti pada gambar berikut (Littlejohn, 1996:166). Konsep yang digunakan Goffman berasal dari gagasan-gagasan Burke, dengan demikian pendekatan dramaturgis sebagai salah satu varian interaksionisme simbolik yang sering menggunakan konsep “peran sosial” dalam menganalisis interaksi sosial, yang dipinjam dari khasanah teater. Goffman mengasumsikan bahwa ketika orang-orang berinteraksi, mereka ingin menyajikan suatu gambaran diri yang akan diterima orang lain. Ia menyebut upaya itu sebagai “pengelolaan pesan” (impression management), yaitu teknik-teknik yang digunakan aktor untuk memupuk kesan-kesan tertentu dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.

Menurut Goffman kehidupan sosial itu dapat dibagi menjadi “wilayah depan” (front region) dan “wilayah belakang” (back region).

  1. 1.      Wilayah depan (front region)

Merujuk kepada peristiwa sosial yang menunjukan bahwa individu bergaya atau menampilkan peran formalnya. Mereka sedang memainkan perannya di atas panggung sandiwara di hadapan khalayak penonton. Sebaliknya wilayah belakang merujuk kepada tempat dan peristiwa yang yang memungkinkannya mempersiapkan perannya di wilayah depan. Wilayah depan ibarat panggung sandiwara bagian depan (front stage) yang ditonton khalayak penonton.

Front stage (panggung depan) bagian pertunjukan yang berfungsi mendefinisikan situasi penyaksi pertunjukan. Goffman membagi panggung depan ini menjadi dua bagian: front pribadi (personal front) dan setting front pribadi terdiri dari alat-alat yang dianggap khalayak sebagai perlengkapan yang dibawa aktor ke dalam setting, misalnya dokter diharapkan mengenakan jas dokter dengan stetoskop menggantung dilehernya. Personal front mencakup bahasa verbal dan bahasa tubuh sang aktor. Misalnya, berbicara sopan, pengucapan istilah-istilah asing, intonasi, postur tubuh, kespresi wajah, pakaian, penampakan usia dan sebagainya.

Ciri yang relatif tetap seperti ciri fisik, termasuk ras dan usia biasanya sulit disembunyikan atau diubah, namun aktor sering memanipulasinya dengan menekankan atau melembutkannya, misalnya menghitamkan kembali rambut yang beruban dengan cat rambut. Setting merupakan situasi fisik yang harus ada ketika aktor melakukan pertunjukan, misalnya seorang dokter bedah memerlukan ruang operasi, seorang sopir taksi memerlukan kendaraan. (Mulyana, 2004:115). Front personal terbagi dua, yaitu penampilan berbagai jenis barang yang mengenalkan status sosial aktor, dan gaya mengenalkan peran macam apa yang dimainkan aktor dalam situasi tertentu.

Fokus perhatian Goffman bukan hanya individu, tetapi juga kelompok atau tim. Selain membawakan peran dan karakter secara individu, aktor-aktor sosial juga berusaha mengelola kesan orang lain terhadap kelompoknya, baik itu keluarga, tempat bekerja, parati politik, atau organisasi lain yang mereka wakili. Semua anggota itu oleh Goffman disebut “tim pertunjukan” (performance team) yang mendramatiasikan suatu aktivitas. Kerjasama tim sering dilakukan oleh para anggota dalam menciptakan dan menjaga penampilan dalam wilayah depan. Mereka harus mempersiapkan perlengkapan pertunjukan dengan matang dan jalannya pertunjukan, memain pemain inti yang layak, melakukan pertunjukan secermat dan seefisien mungkin , dan kalau perlu juag memilih khalayak yang sesuai. Setiap anggota saling mendukung dan bila perlu memberi arahan lewat isyarat nonverbal, seperti isyarat dengan tangan atau isyarat mata, agar pertunjukan berjalan mulus. (Mulyana, 2004:123)

Goffman menekankan bahwa pertunjukan yang dibawakan suatu tim sangat bergantung pada kesetiaan setiap anggotanya. Setiap anggota tim memegang rahasia tersembunyi bagi khalayak yang memungkinkan kewibawaan tim tetap terjaga. Dalam kerangka yang lebih luas, sebenarnya khalayak juga dapat dianggap sebagai bagian dari tim pertunjukan. Artinya agar pertunjukan sukses, khalayak juga harus berpartisipasi untuk menjaga agar pertunjukan secara keseluruhan berjalan lancar.

  1. 2.      Wilayah belakang (back region)

Wilayah belakang ibarat panggung sandiwara bagian belakang (back stage) atau kamar rias tempat pemain sandiwara bersantai, mempersiapkan diri, atau berlatih untuk memainkan perannya di panggung depan. Back stage (panggung belakang) ruang dimana disitulah berjalan skenario pertunjukan oleh “tim” (masyarakat rahasia yang mengatur pementasan masing-masing aktor).

 

 

 

 

RESUME VIII

Rasional Choice dan Exchange Theory

  1. A.    Rasional Choice Theory (Teori Pilihan Rasional)

Pilihan rasional adalah teori ekonomi neoklasik yang diterapkan pada sektor publik, yang berusaha untuk membangun jembatan antara ekonomi mikro dan politik dengan melihat tindakan warga, politisi, pribadi dan konsumen (Buchanan 1972). Dalam teori tersebut, Buchanan mengatakan, adalah sebuah pilihan yang rasional jika seseorang terjun ke dunia politik terutama memperjuangkan kepentingan pribadinya. Perjuangan kepentingan individu para politikus tersebut di samping bisa bertentangan dengan kepentingan masyarakat atau mereka yang diwakilinya, bisa juga menciptakan hal-hal yang saling menguntungkan atau simbiosis mutualisme.

Dalam teori Herbert Simon,“Teori Pilihan Rasional yang Terbatas” (Bounded Rationality Theory), yang melengkapi bahkan menyangkal teori Buchanan, Herbert Simon menyatakan bahwa pilihan rasional para politikus yang memperjuangkan kepentingan pribadi atau golongan lebih utama dari kepentingan masyarakat akan secara otomatis atau alamiah dibatasi. Pembatas dari pilihan rasional para politikus berupa motivasi kepentingan pribadi adalah kenyataan bahwa masyarakat ternyata selalu ikut mengawasi perilaku para politikus dan tak segan-segan memberi “hukuman” jika memandang perilaku mementingkan diri sendiri dari para politikus itu sudah keterlaluan.

Teori pilihan rasional oleh James S. Coleman adalah tindakan perseorangan mengarah kepada sesuatu tujuan dan tujuan itu (juga tindakan) ditentukan oleh nilai atau pilihan. Teori pilihan rasional memusatkan perhatian pada aktor dimana aktor dipandang sebagai manusia yang mempunyai tujuan atau mempunyai maksud artinya actor mempunyai tujuan dan tindakan tertuju pada upaya untuk mencapai tujuan tersebut, actor pun dipandang mempunyai pilihan atau nilai serta keperluan. Teori pilihan rasional tidak menghiraukan apa yang menjadi pilihan atau apa yang menjadi sumber pilihan aktor, yang penting adalah kenyataan bahwa tindakan dilakukan untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan tingkatan pilihan aktor.

Teori pilihan rasional Coleman tampak jelas dalam gagasan dasarnya bahwa tindakan perseorangan mengarah pada suatu tujuan dan tujuan itu ditentukan oleh nilai atau pilihan, tetapi selain Coleman menyatakan bahwa untuk maksud yang sangat teoritis, ia memerlukan konsep yang lebih tepat mengenai aktor rasional yang berasal dari ilmu ekonomi dimana memilih tindakan yang dapat memaksimalkan kegunaan atau yang dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan mereka (Ritzer,2004).

Ada dua unsur utama dalam teori Coleman, yakni aktor dan sumber daya. Sumber daya adalah sesuatu yang menarik perhatian dan yang dapat dikontrol oleh aktor. Coleman mengakui bahwa dalam kehidupan nyata orang tak selalu berperilaku rasional, namun ia merasa bahwa hal ini hampir tak berpengaruh terhadap teorinya. Pemusatan perhatian pada tindakan rasional individu dilanjutkannya dengan memusatkan perhatian pada masalah hubungan mikro-makro atau bagaimana cara gabungan tindakan individu menimbulkan perilaku sistem sosial. Meski seimbang, namun setidaknya ada tiga kelemahan pendekatan Colemans. Pertama ia memberikan prioritas perhatian yang berlebihan terhadap masalah hubungan mikro dan makro dan dengan demikian memberikan sedikit perhatian terhadap hubungan lain. Kedua ia mengabaikan masalah hubungan makro-makro. Ketiga hubungan sebab akibatnya hanya menunjuk pada satu arah, dengan kata lain ia mengabaikan hubungan dialektika dikalangan dan di antara fenomena mikro dan makro (Ritzer 2004:394-395).

Teori pilhan rasional seringkali hanya mencerminkan kepentingan pribadi dan golongan tanpa diimbangi dengan memasukkan kepentingan masyarakat yang dalam hitungan pilihan rasional dianggap sebagai bentuk inefesiensi. Penerapan teori rational choice dalam ilmu politik salah satunya adalah untuk menjelaskan perilaku memilih suatu masyarakat terhadap tokoh atau partai tertentu dalam konteks pemilu. Teori pilihan rasional sangat cocok untuk menjelaskan variasi perilaku memilih pada suatu kelompok yang secara psikologis memiliki persamaan karakteristik. Dasar untuk semua bentuk teori pilihan rasional adalah asumsi bahwa fenomena sosial yang kompleks dapat dijelaskan dalam kerangka dasar tindakan individu di mana mereka tersusun.

Teori pilihan rasional ini memperhatikan 2 pemaksa utama tindakan aktor. Pertama, keterbatasan sumber: aktor mempunyai sumber yang berbeda maupun akses yang berbeda terhadap sumber daya yang lain. Dalam kelangkaan sumber daya adalah gagasan tentang biaya kesempatan. Dalam mencapai suatu tujuan, aktor harus memperhatikan biaya yang harus dikeluarkan untuk tindakan yang terpenting selanjutnya. Aktor dapat memilih untuk tidak mengejar tujuan paling bernilai jika sumber daya yang dimilikinya, diperhitungkan tidak dapat mencapai hal tersebut, yang membuat kesempatan untuk mencapai tujuan itu begitu tipis, dan justru membahayakan peluang untuk mencapai tujuan lain yang lebih bernilai. Aktor dipandang selalu berusaha memaksimalkan keuntungan mereka. Kedua, lembaga sosial: hambatan kelembagaan menyediakan baik sanksi positif maupun sanksi negatif yang membantu mendorong aktor untuk melakukan tindakan tertentu dan menghindarkan tindakan yang lain.

  1. B.     Exchange Theory (Teori Pertukaran Sosial)

Teori pertukaran sosial adalah teori dalam ilmu sosial yang menyatakan bahwa dalam hubungan sosial terdapat unsur ganjaran, pengorbanan, dan keuntungan yang saling mempengaruhi. Teori ini menjelaskan bagaimana manusia memandang tentang hubungan kita dengan orang lain sesuai dengan anggapan diri manusia tersebut terhadap keseimbangan antara apa yang di berikan ke dalam hubungan dan apa yang dikeluarkan dari hubungan itu, jenis hubungan yang dilakukan, kesempatan memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain. Asumsi-asumsi dasar teori ini berasal dari sifat dasar manusia dan sifat dasar hubungan.

Tokoh utama teori ini adalah George Homan, teori ini dibangun dengan maksud sebagai reaksi terhadap paradigma fakta sosial, yang menyerang ide  Durkheim secara langsung dari tiga jurusan, yaitu:

a)      Pandangan tentang emergence

Selama berlangsung interaksi timbul fenomena baru yang tidak perlu proposisi baru pula untuk menerangkan sifat fenomena baru yang timbul tersebut.

b)      Pandangan tentang psikologi

Sosiologi dewasa ini sudah berdiri sendiri lepas dari pengaruh psikologi.

c)      Metode penjelasan Durkheim

Fakta  sosial tertentu selalu menjadi penyebab fakta sosial yang lain yang perlu dijelaskan melalui pendekatan perilaku (behavioral), yang bersifat psikologi.

Keseluruhan materi Teori Exchange secara garis besarnya dapat dikembalikan pada 5 proposisi George Homan yaitu :

  1. Jika tingkah laku atau kejadian yang sudah lewat dalam konteks stimulus dan situasi tertentu memperoleh ganjaran, maka besar kemungkinan tingkah laku yang mempunyai hubungan dan stimulus dan situasi yang sama akan terjadi.
  2. Makin sering dalam peristiwa tertentu tingkah laku seseorang memberikan ganjaran terhadap tingkah laku orang lain, makin sering pula orang lain itu mengulang tingkah lakunya itu.
  3. Makin bernilai bagi seseorang sesuatu tingkah laku orang lain yang ditujukan kepadanya makin besar kemungkinan  atau makin sering ia akan mengulangi tingkahlakunya itu.
  4. Makin sering orang menerima ganjaran atas tindakannya dari orang lain, makin berkurang nilai dari setiap tindakan yang dilakukan berikutnya.
  5. Makin dirugikan  seseorang dalam dalam hubungannya dengan orang lain, makin besar kemungkinan orang tersebut akan mengembangkan emosi.

Teori ini bisa disebut juga dengan teori tingkah laku sosial dasar, George Homan mencoba menerangkan hubungan dua orang dengan menggunakan prinsip-prinsip ekonomi (jual beli). George Homans menyumbangkan teori tingkah laku sosial dasar sebagai gambaran dari proses pertukaran sosial ini, dengan dijelaskan oleh 4 proposisi yaitu proposisi sukses, rangsangan, nilai dan persetujuan-agresi.

Menurut Thibaut dan Kelley teori ini bisa disebut juga dengan teori hasil interaksi yang menerangkan hubungan dua orang dimana mereka saling tergantung untuk mencapai hasil-hasil yang positif. Sehingga ada empat konsep pokok dalam teori ini yaitu ganjaran, biaya, laba atau hasil dan tingkat perbandingan. Dan tingkat perbandingan inilah yang menjadi teori khas dari sumbangan yang diberikan oleh Thibaut dan Kelley yang bisa diartikan teori hasil interaksi.

Beberapa proposisi yang ditawarkan Homans, antara lain:

  1. Proposisi Sukses

Semakin sering tindakan seseorang dihargai atau mendapat ganjaran, maka semakin besar kemungkinan orang tersebut melakukan tindakan yang sama. Tetapi, Homans memberikan beberapa catatan berkaitan dengan proposisi ini, yaitu : (a) Perulangan tingkah laku karena mendapat ganjaran ini tidak dapat berlangsung tanpa batas. (b) Semakin pendek jarak waktu antara tindakan dan ganjaran, makin besar kemungkinan orang melakukan tindakan yang sama. (c) ganjaran atau reward yang bersifat tak terduga akan memancing perulangan tindakan serupa dibanding reward yang bersifat tetap atau teratur.

  1. Proposisi Stimulus atau Rangsangan

Bila dimasa lampau ada satu atau sejumlah stimulus yang di dalamnya tindakan seseorang memperoleh ganjaran, maka kemungkinan orang tersebut akan melakukan tindakan yang sama pada stimulus yang memiliki kemiripan di masa kini dengan stimulus sebelumnya.

  1. Proposisi Nilai

Semakin tinggi hasil tindakan bagi seseorang, semakin cenderung ia melakukan tindakan serupa. Homans menmperkenalkan 2 konsep, yakni imbalan (sebagai hasil tindakan yang bernikai positif) dan hukuman (sebagai hasil tindakan yang bernilai negatif). Homans memandang bahwa hukuman bukan cara yang efektif untuk mengubah tingkah laku seseorang. Ia lebih memilih imbalan dibanding hukuman, namun mungkin saja persediaan imbalan adalah terbatas. Untuk itu, imbalan dapat bersifat material, maupun altruistis (membantu orang lain).

  1. Proposisi Kelebihan-Kekurangan

Semakin sering seseorang mendapat ganjaran pada waktu yang berdekatan, maka semakin kurang bernilai ganjaran itu untuk dia. Unsur waktu menjadi amat penting dalam proposisi ini.

  1. Proposisi Agresi-Pujian

Dalam bagian ini, terkandung 2 proposisi, yaitu :

Proposisi A, ketika tindakan seseorang tidak mendapat imbalan yang diharapkan, atau menerima hukuman  yang tidak ia harapkan, ia akan marah dan menjadi cenderung berperilaku agresif dan akibat perilaku tersebut menjadi lebih bernilai untuknya.

Proposisi B, ketika tindakan seseorang menerima imbalan yang diharapkannya, khususnya imbalan yang lebih besar dari yang diharapkannya, atau tidak mendapatkan hukumn yang diharapkannya, ia akan senang dan lebih cenderung berperilaku menyenangkan dan hasil dari tindakan ini lebih bernilai baginya.

  1. Proposisi Rasionalitas

Ketika memilih tindakan alternatif, seseorang akan memilih tindakan, yang jika nilai hasilnya dikalikan probabilitas keberhasilan adalah lebih besar. Imbalan yang bernilai tinggi akan hilang nilainya, bila dianggap cenderung tidak mungkin diperoleh. Pada sisi lain, imbalan bernilai rendah mengalami pertambahan nilai, jika dipandang sangat mungkin untuk diperoleh. Pada akhirnya, dalam teori Homans, aktor adalah pencari keuntungan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s