KONFLIK SOSIAL BERBAU SARA

ahmadiyahstop_killing_burma_muslim

            Dalam satu dekade belakangan ini, murni kita tercabik-cabik dan terharu biru oleh maraknya aksi kekerasan yang brutal dan sadis berkedok agama. Kasus yang dengan telanjang menampilkan ulah bar-bar dan premanisme. Sebagaimana yang tertayang dilayar kaca bukanlah karakter bangsa kita yang sesungguhnya. Kekerasan yang terjadi di Cikeusik atau temanggung beberapa waktu silam, misalnya makin membuka mata kita bahwa sakralitas makna “Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa” diakui atau tidak, sudah mulai luntur. Dan ini jelas menjadi perkara serius yang perlu segera dituntaskan sebelum akhirnya  mewabah menjadi penyakit sosial yang bisa meluluh lantakan basis keindonesiaan.  Kita yang sejak dulu anak toleran terhadap perbedaan , apalagi kasus-kasus yang mencuat ke permukaan terkait langsung dengan masalah keyakinan, kepercayaan atau agama yang menjadi salah satu hak dasar dan asasi setiap warga bangsa. ini artinya, tak seorang pun yang berhak untuk mencampuri dan mengintervensi hakikat setiap warga negara yang mendasar dan asasi itu.

PERTANYAAN :

  1. Mengapa kondisi kehidupan beragama akhir-akhir ini sebagaimana warga negara tidak toleran terhadap perbedaan?
  2. Bagaimana pendapat kalian makna “Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa” jika dalam realitas kehidupan masih maraknya aksi kekerasan yang brutal dan sadis berkedok agama?
  3. Seandainya kalian jadi presiden, apa saja yang akan dilakukan agar hak asasi dan kemerdekaan setiap warga negara secara optimal dapat dilindungi?

JAWABAN :

Di negara Indonesia toleransi beragama saat ini semakin meningkat bersamaan dengan meluasnya penyebaran kebencian atas dasar agama di kalangan masyarakat. Kelompok minoritas menjadi bulan-bulanan aksi tak toleransi, intimidasi, perusakan, dan kekerasan. Kekerasan berlatar belakang agama yang diperagakan sekelompok orang seperti yang terjadi di cikeusik atau temanggung dapat merusak sendi-sendi kerukunan antar umat beragama yang sudah terbangun lama di Indonesia. Pemerintah harus cepat dan tegas dalam menindak aktor intelektual yang di identifikasi sebagai kelompok kecil garis keras berjubah agama sehingga intoleransi tidak merebak dan meracuni khalayak. Kejadian kekerasan berlatar belakang agama akhir-akhir ini mengharuskan pemerintah untuk bertindak tegas terhadap organisasi massa (ORMAS) yang memakai jubah agama. Untuk mengenai masalah tindakan anarkis ormas, memberi arti bahwa pemerintah yang bermain-main dengan fundamentalisme dan mengabaikan nilai-nilai demokrasi, pancasila dan kebhinekaan. Pemerintah harus tegas sehingga menunjukkan bahwa demokrasi tidak berarti berekspresi dengan sesuka hati, mengabaikan prinsip demokrasi dan pluralisme.

Pemerintah tidak punya pilihan lain selain menegakkan pilar-pilar demokrasi dan mengabaikan kepentingan jangka pendek. Kelompok yang mengedepankan intoleransi, diyakini tidak banyak tapi dapat memberikan efek seolah sebuah gerakan massal karena adanya dukungan pihak lain. Para pemuka agama juga harus bersikap bijak dan tidak boleh memprovokasi umat. Agama harus dijadikan landasan etika untuk pergaulan berbangsa dan bernegara yang misalnya pemakaian jilbab. Pemakaian jilbab saat ini bukan lagi sebagai pilihan atau panggilan hati nurani, namun sebuah paksaan. Dalam berbagai kesempatan, ketika tindak kekerasan berkedok agama terjadi, aparat penegak hukum seharusnya dapat mencegah dan menentramkan keresahan yang terjadi di masyarakat luas. Namun pada kenyataanya para penegak hukum kita bersikap ragu. Bahkan terkesan  membiarkan dan lepas tangan ketika mereka sudah mendapatkan informasi sebelumnya. Keberpihakan terhadap kepentingan rakyat dan masa depan bangsa sama sekali tidak dijadikan pertimbangan. Dalam banyak kasus kepolisian bertindak ketika segalanya sudah terlambat dan peristiwa kekerasan memakan korban.

Di Indonesia semua umat beragama yang berbeda-beda mempunyai dasar untuk mampu hidup rukun dan berdampingan bersama. Namun dengan terjadinya perubahan yang terjadi di masyarakat, menyebabkan perubahan dalam hubungan kehidupan keagamaan, seperti banyaknya kasus kerusuhan besar yang diakibatkan oleh faktor perbedaan agama. Faktor penyebab terjadinya konflik antar umat beragama yang pertama adalah adanya prasangka sosial yang muncul karena adanya konflik atau kompetisi antar kelompok. Faktor yang kedua adalah fanatisme yang berlebihan dan keliru dalam kehidupan beragama yang membuat banyak bermunculnya pandangan yang mengagung-agungkan agamanya dan menganggap rendah agama lain. Faktor yang ketiga adalah kurangnya komunikasi. Dalam kehidupan beragama, suatu ketegangan akan terjadi jika suatu hal yang dikomunikasikan oleh agama tertentu dipersepsikan keliru oleh agama yang lain. Faktor yang keempat adalah pencampur adukan antara kepentingan agama, politik dan kepentingan ekonomi.

Frasa Bhinneka Tunggal Ika sendiri berasal dari bahasa Jawa Kuna yang jika di terjemahkan kedalam Bahasa Indonesia akan bermakna “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Sedangkan ungkapan Tan Hana Dharma Mangrwa memiliki arti “Tak ada kebenaran yang mendua”. Jika saja para penganut agama di Negara Indonesia ini mengedepankan semboyan Bhinneka Tunggal ika dan Tan Hana Dharma Mangrwa maka perpecahan atau bahkan aksi-aksi kekerasan antar umat beragama tak akan pernah terjadi dan timbullah keharmonisan hubungan antara umat beragama. Namun kenyataan yang kita lihat sekarang berbeda, maraknya aksi kekerasan yang berkedok agama yang terjadi di Negara Indonesia ini diakibatkan karena terlalu fanatiknya seorang individu atau kelompok terhadap agamanya, sehingga mereka perpandangan kalau pemeluk agama lain itu dianggap salah. Dari anggapan-anggapan tersebutlah mulai terjadi perpecahan kecil yang kemudian mengakibatkan suatu perselisihan dan perselisihan ini menimbulkan suatu konflik yang mengakibatkan terjadinya tindakan kekerasan yang dilakukan oleh para pemeluk agama yang berbeda, seperti halnya perpecahan yang terjadi Poso.

Di era sekarang ini masyarakat dihadapkan pada kondisi kehidupan yang serba majemuk dalam segala bidang kehidupan. Semua keberanekaragaman ada dalam bidang politik, sosial, dan budaya. Kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi semakin mempercepat arus interaksi antara satu dengan yang lainnya sehingga keberagaman tidak hanya dalam lingkup terbatas disekitar tempat tinggal tetapi juga dalam interaksi dengan orang lain pada media cetak maupun elektronik. Hal tersebut diperparah dengan adanya isu SARA yang dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk menteror dan mengambil keuntungan dalam kekisruhan yang terjadi di masyarakat. Hal ini sangat berbahaya dan mengancam terbentuknya kebhinekaan yang telah terjalin bertahun-tahun. Hendaknya masyarakat mau kembali kepada ideologi pancasila dan kembali mengenal trilogi kerukunan antar umat beragama. Inilah yang mampu menjadi solusi untuk meredam konflik yang tengah terjadi dalam kehidupan berbangsa sekarang ini.

Dalam setiap jenjang pendidikan, selalu dikenalkan adanya trilogi kerukunan umat beragama yang harus dijunjung oleh masing-masing warga negara Indonesia guna terbentuknya kerukunan, kedamaian, dan terciptanya stabilitas nasional. Trilogi kerukunan umat beragama itu adalah kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat beragama, kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah. Kerukunan intern umat beragama berarti adanya kesepahaman dan kesatuan untuk melakukan amalan dan ajaran agama yang dipeluk dengan menghormati adanya perbedaan yang masih bisa ditolerir. Kerukunan antar umat beragama adalah menciptakan persatuan antar agama agar tidak terjadi saling merendahkan dan menganggap agama yang dianutnya paling baik. Kerukunan umat beragama dengan pemerintah adalah dalam hidup beragama masyarakat tidak lepas dari adanya aturan pemerintah setempat yang mengatur tentang kehidupan bermasyarakat. Masyarakat tidak boleh hanya mentaati aturan dalam agamanya masing-masing tapi juga harus mentaati hukum yang berlaku di negara Indonesia. Dengan adanya trilogi kerukunan umat beragama maka hak asasi dan kemerdekaan setiap warga negara secara optimal dapat dilindungi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s