Pupuk Organik Dan Anorganik

904824_organik-ektrag-27hkl

Kebijakan nasional pembangunan pertanian di suatu negara tidak lepas dari pengaruh faktor-faktor eksternal, apalagi dalam era globalisasi yang dicirikan adanya keterbukaan ekonomi dan perdagangan yang lebih bebas. Dalam kegiatan pertanian, para petani banyak yang menggunakan suatu bahan atau material tambahan yang dinamakan pupuk untuk dapat memaksimalkan hasil panen yang sudah ditanam dapat menghasilkan yang terbaik sehingga mempunyai nilai jual yang tinggi dan para petani bisa mendapatkan keuntungan yang banyak dari hasil panen tersebut untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Menurut salah satu petani (Ibu Zuliati) yang sekaligus juga beliau penjual obat-obat dan pupuk pertanian yang ada di dekat rumah saya, beliau menjelaskan bahwa pupuk adalah bahan yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Pupuk dapat dibedakan berdasarkan bahan, asal, senyawa, fasa, cara penggunaan, reaksi fisiologi, jumlah dan macam hara yang dikandungnya.

Berdasarkan asalnya pupuk dibedakan menjadi pupuk alam ialah pupuk yang terdapat di alam atau dibuat dengan bahan alam tanpa proses yang berarti. Misalnya : pupuk kompos, guano, pupuk hijau dan pupuk batuan P. Dan pupuk buatan ialah pupuk yang dibuat oleh pabrik. Misalnya TSP, urea, rustika dan nitrophoska. Pupuk ini dibuat oleh pabrik dengan mengubah sumber daya alam melalui proses fisika atau kimia.

Sedangkan berdasarkan senyawanya pupuk dibedakan menjadi pupuk organik ialah pupuk yang berupa senyawa organik. Kebanyakan pupuk alam tergolong pupuk organik (pupuk kandang, kompos, guano). Dan pupuk alam yang tidak termasuk pupuk organik misalnya rock phosphat, umumnya berasal dari batuan sejenis apatit. Dan Pupuk anorganik atau mineral merupakan pupuk dari senyawa anorganik. Hampir semua pupuk buatan tergolong pupuk anorganik.

Berdasarkan fasanya pupuk dibedakan menjadi pupuk padat yaitu pupuk yang umumnya mempunyai kelarutan yang beragam mulai yang mudah larut air sampai yang sukar larut. Dan pupuk cair yaitu pupuk yang berupa cairan dan cara penggunaannya dilarutkan dulu dengan air. Umumnya pupuk ini disemprotkan ke daun. Karena mengandung banyak hara, baik makro maupun mikro, harganya relatif mahal.

Sedangkan berdasarkan cara penggunaannya pupuk dibedakan menjadi pupuk daun ialah pupuk yang cara pemupukan dilarutkan dalam air dan disemprotkan pada permukaan daun. Dan pupuk akar atau pupuk tanah ialah pupuk yang diberikan ke dalam tanah disekitar akar agar diserap oleh akar tanaman. Sedangkan berdasarkan reaksi fisiologisnya pupuk dibedakan menjadi pupuk yang mempunyai reaksi fisiologisnya masam artinya bila pupuk tersebut diberikan ke dalam tanah ada kecenderungan tanah menjadi lebih masam (pH menjadi lebih rendah). Misalnya Za dan urea. Dan pupuk yang mempunyai reaksi fisiologis basis ialah pupuk yang bila diberikan ke dalam tanah menyebabkan pH tanah cenderung naik misalnya: pupuk chili salpeter, calnitro, kalsium sianida.

Berdasarkan jumlah hara yang dikandungnya pupuk dibedakan menjadi pupuk yang hanya mengandung satu hara tanaman saja. Misalnya : urea hanya mengandung hara N. Dan pupuk majemuk ialah pupuk yang mengandung dua atau lebih dua hara tanaman. Contohnya: NPK, amophoska, Nitrophoska dan rustika. Sedangkan berdasarkan macam hara tanaman dibedakan menjadi pupuk makro ialah pupuk yang mengandung hanya hara makro saja : NPK, nitrophoska, gandasil. Dan pupuk mikro ialah pupuk yang hanya mengandung hara mikro saja misalnya: mikrovet, mikroplet, metalik. Dan juga campuran makro dan mikro misalnya pupuk gandasil, bayfolan, rustika. Sering juga ke dalam pupuk campur makro dan mikro ditambahkan juga zat pengatur tumbuh.

Menurut beliau, di era globalisasi ini para petani banyak yang beralih dengan lebih memilih untuk menggunakan pupuk anorganik karena disebabkan beberapa faktor yaitu  lebih praktis, hasilnya lebih cepat, lebih bagus, dan hasil panennya lebih banyak sehingga dapat memberikan keuntungan yang banyak bagi para petani. Disamping adanya keuntungan atau dampak positif dari penggunaan pupuk anorganik, pemberiannya dapat terukur dengan tepat, kebutuhan tanaman akan hara dapat dipenuhi dengan perbandingan yang tepat, pupuk anorganik tersedia dalam jumlah cukup, dan mudah diangkut karena jumlahnya relatif sedikit dibandingkan dengan pupuk organik.

Selain itu juga terdapatnya beberapa kelemahan atau dampak negatif dari penggunaan pupuk anorganik terhadap tanaman atau tumubuhan yaitu barangnya (pupuk) yang sulit dijangkau karena jauh, langka, harganya relatif mahal, dapat menyebabkan munculnya beberapa penyakit-penyakit dalam jangka panjang maupun jangka pendek setelah dikonsumsi oleh manusia, selain hanya mempunyai unsur makro, pupuk anorganik ini sangat sedikit ataupun hampir tidak mengandung  unsur hara mikro, dalam jangka panjang menyebabkan kadar bahan organik tanah menurun, struktur tanah rusak, dan mengakibatkan pencemaran lingkungan, dan jika hal ini terus berlanjut akan menurunkan kualitas tanah dan kesehatan lingkungan, bahan kimia yang terkandung didalam pupuk anorganik dapat membahayakan tubuh, tanah tidak terjaga keasliannya, zat yang terkandung dalam sayuran tercampur dengan bahan kimia dari pupuk anorganik, harga tidak begitu terjangkau, penyebab tanah menjadi masam, netral, atau basa tergantung pada reaksi antara pupuk kimia dan tanah, pupuk anorganik yang masih tersisa pada tanah (residu) dapat mencemari lingkungan, sehingga akan berakibat buruk pada seluruh organisme yang ada di lingkungan sekitarnya, misalnya pada ekosistem sawah.

Selain pupuk anorganik, pupuk organik juga mempunyai keuntungan atau dampak positif dari penggunaan pupuk tersebut yaitu meningkatkan aktivitas suatu organisme yang berfungsi untuk menguntungkan bagi tanaman, meningkatkan cita rasa dan kandungan gizi dalam hasil panennya, meningkatkan ketahanan dari serangan organisme pengganggu, memperpanjang unsur simpan dan memperbaiki struktur, membantu mengurangi erosi.

Selain itu juga terdapatnya beberapa kelemahan atau dampak negatif dari penggunaan pupuk organik terhadap tanaman yaitu ketersediaan bahan organik terbatas dan takarannya harus banyak, transportasi mahal karena bahan bersifat ruah, menghadapi persaingan dengan kepentingan lain dalam memperoleh sisa pertanaman dan limbah organik, hasil pertanian organik lebih sedikit jika dibandingkan dengan pertanian non organik yang menggunakan bahan kimia terutama pada awal menerapkan pertanian organik, pengendalian jasad pengganggu secara hayati masih kurang efektif jika dibandingkan dengan penggunaan pestisida kimia, dan terbatasnya informasi tentang pertanian organik.

Karena terbatasnya jumlah pasokan pupuk anorganik, dan melimpahnya pasokan pupuk organik di Negara Indonesia, maka dapat memberikan peluang kepada pemerintah membuat beberapa komitmen untuk mengajak dan menghimbau kepada warga masyarakat Indonesia khusunya para petani agar lebih memprioritaskan dan lebih memilih pupuk organik yang bahannya jelas alami karena terbuat dari kotoran hewan, atau bekas daun-daun yang di busukkan agar dapat bermanfaat menuyuburkan tanaman dan juga mengurang tingkat munculnya berbagai macamnya penyakit-penyakit baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang yang dapat berakibat fatal dan dapat merugikan manusia itu sendiri.

Banyak dari se­bagian besar petani yang menjadi petani yang malas karena terseret oleh budaya praktis yang biasanya disebut budaya instan. Para petani telah teracuni oleh persepsi atau pendapat bahwa tanaman kalau tidak dipupuk dengan pupuk buatan tidak akan memberikan hasil yang baik, begitu juga dengan gangguan hama dan penyakit kalau tidak diberantas dengan pestisida tidak akan tumbuh dengan baik. Wa­laupun mereka sadar bahwa menggunakan bahan kimia buatan tersebut mem­butuhkan biaya mahal dan bisa mem­bahayakan kese­hatan, tetapi karena sudah ter­perang­kap dan ditusuk oleh resapan peru­bahan dan per­kembangan teknologi me­reka sangat sulit untuk berubah.  Budaya instan telah menjadikan para petani menjadi kurang kreatif dan kurang perjuangan, sehingga lebih banyak pasrah dan me­nge­luh bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dengan usa­ha­nya.

Pemerintah perlu mendorong terbentuknya lembaga sertifikasi produk pertanian organik yang dibutuhkan (yang belum ada).  Disamping itu pembentukan, pengembangan, dan penguatan lembaga-lembaga pendukung seperti kelompok tani, penyuluh, lembaga pemasaran (pasar khusus produk oragnik) perlu persiapan dan pembenahan. Selain itu diperlukan kegiatan sosialisasi untuk member pemahaman dan bekal tentang makna dan manfaat pertanian organik kepada masyarakat produsen (petani), konsumen (pengguna), pedagang, pemerintah daerah, penyuluh serta pelaku pertanian dan institusi terkait lainnya. Dukungan dalam bentuk kebijakan oleh pemerintah berupa insentif harga produk dan subsidi biaya sertifikasi lahan (produk) diperlukan dalam rangka pengembangan pertanian organik.

Pengembangan sistem pertanian organik ke depan dalam jangka pendek lebih baik di arahkan ke daerah-daerah yang masih mempertahankan sistem pertanian lokal-tradisional (daerah pegunungan, pedalaman).  Komoditas-komoditas yang dimungkinkan antara lain kopi, teh, padi-padi lokal bermutu baik, tanaman rempah dan obat serta sayuran dan buah-buahan. Kakao, merica, jambu mete (tanaman ekspor) juga potensial untuk diusahakan dalam pertanian organik. Sistem integrasi tanaman-ternak juga merupakan pilihan untuk dikembangkan kedepan. Contoh salah satu daerah penghasil pupuk organik yaitu daerah Rembang.

Sehinggga menurut saya dari artikel ini dapat disimpulkan bahwa kita harus mendukung usaha dan komitmen pemerintah untuk memanfaatkan suatu kesempatan yaitu kelangkaan dari adanya pupuk anorganik dengan menghimbau dan mengajak para petani agar mau memakai kembali pupuk organik pada sektor pertanian mereka. Penggunaan pupuk anorganik pada lahan pertanian tidak membantu dalam meningkatkan kelestarian sumber daya alam yang terdapat di lahan pertanian tersebut. Tetapi penggunaan pupuk anorganik di lahan pertanian tersebut, malah membuat kelestarian lingkungan menjadi tidak baik dan mengakibatkan daya dukung alam terhadap kehidupan manusia semakin berkurang. Selain itu, akibat penggunaan pupuk anorganik pada lahan pertanian dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan pada manusia melalui produk pertanian hasil lahan tersebut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sebaiknya penggunaan pupuk anorganik pada lahan pertanian tidak digunakan dan beralih pada pupuk organik, untuk pemenuhan zat makanan sebaiknya menggunakan sistem tanam bersiklus dan untuk menghindari jasad pengganggu pada tanaman sebaiknya menggunakan sistem pertanian organik. Dan apabila walaupun ternyata para petani tetap harus menggunakan pupuk anorganik pada sektor pertanian mereka, maka mereka perlu mematuhi beberapa aturan pakai cara penggunaan pupuk anorganik tersebut dan tidak menggunakannya secara berlebihan agar tidak terjadi pengeksplorasian lahan secara berlebih-lebihan.

SUMBER

Anggota IKAPI.2009,” Sains dan Tekhnologi”, Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Poedjadi, Anna.2005,”Sains dan Tekhnologi Masyarakat,” Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Hasil Wawancara Dengan Ibu Zuliati (Hari Minggu, 24 Februari 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s